Hari ini, rumah saya heboh dengan suatu kejadian yang menimpa kakak perempuan saya, Mbak QQ (baca ki-ki, jangan kiyu-kiyu, haha).
Wanita berumur 32 tahun itu (ahahahaha, sudah udzur ya, sudah udzur…) merasakan shock berat dan kengerian luar biasa saat secara tiba2 dia kejatuhan sesuatu saat sedang menyuapi anak perempuannya bubur ayam, pagi hari ini.
sesuatu itu adalah cicak.
ya cicak. hewan berkaki 4, nyang suka nempel2 di eternit dan dinding, sambil berbunyi, ck ck ck.
jadi, entah dari mana cicak itu jatuh tepat di ubun2 Mbak QQ, lalu lanjut berjalan ke arah jidat Mbak QQ, karena jidat Mbak QQ agak luas dan licin (baca : jenong) nampaknya cicak itu terpeleset sedikit2, yang mungkin tadinya cicak bermaksud diam2 lalu pergi, eh Mbak QQ keburu tahu, Mbak QQ langsung panik, teriak2 sambil susah payah menyingkirkan cicak dari jidatnya dan yak, cicak mendarat sukses di sarapan ponakan perempuan saya yang manis,
cicak terdampar di semangkuk bubur ayam.
hiiii… jijik banget.
walhasil, Mbak QQ langsung menyuruh saya membuang bubur ayam tersebut (giliran yang gak enak, dikasi gue =P), dia terlalu panik untuk membuangnya sendiri, karena dia langsung berlari ke kamar ibu saya dan setengah berteriak berkata, "Mamaahh!! QQ kejatuhan cicak!". Maka, dengan sigap, Ibu saya langsung menyahut "Ayo cepet, bakar rambut sana, nih koreknya!" sembari memberikan korek api yang langsung dia ambil dari laci meja.
Lah? apa hubungan kejatuhan cicak dengan bakar rambut? hahahaha….
Jadi gini ceritanya, menurut kepercayaan keluarga Ibu saya, yang notabene masih keturunan Jawa asli, kejatuhan cicak itu pertanda sial yang lumayan gawat. Untuk menghalau sial, salah satu caranya adalah dengan membakar rambut korban-kejatuhan-cicak tersebut.
….
Oh ya ampun, jelas bukan seperti yang anda2 bayangkan-lah!, kalau yang dibakar semua rambut, betapa banyaknya orang2 Jawa, baik cewek maupun cowok, tua maupun muda, yang gundul gak c? oh please, yang dibakar, cukup sejumput kecil aja. Terus sembari dibakar, sembari ngomong, "Saya disini bukan bakar rambut, tapi bakar sial…".
Jujur, waktu pertamakali disuruh melakukan hal ini, saya menolak. Saya merasa ini tindakan bodoh, konyol dan agak klenik, makanya saya gak mau melakukan apa yang dianjurkan Ibu saya. Tapi berubung Ibu saya ngomel terus dan saya gakmau cari ribut, saya akhirnya menyerah dan melakukan saja.
Akhirnya keterusan deh mpe sekarang. Kalau kejatuhan cicak, saya tenang2 aja, tanpa disuruh, langsung ambil gunting dan korek api, terus lakukan upacara bakar2 rambut itu. Sebenernya gak percaya2 amat sih, tapi gak tenang aja kalo gak melakukan hal itu, kayak ada yang ganjel. Mau hari ini ato besok2, saya pasti bakal membakar rambut saya juga pada akhirnya. hehehe. Bukan karena takut atau bagaimana, tapi karena merasa itu sudah suatu keharusan, sama seperti kalau kita jatuh dan lukanya diobati dengan Betadine (promosi), seperti itulah yang saya lakukan.
Cuma tahayul. takut musyrik, Man. Iya ngerti, tapi entah kenapa gak bisa mengesampingkannya juga. Mungkin karena udah mendarah daging sejak kecil kali ya. Well, at least saya berusaha untuk tidak melakukannya lagi sekarang. Iya, dengan cara berhati2 di mana saja, jangan ampe kejatuhan cicak, jadi gak perlu ngelakuin bakar-bakar rambut ini.
bener kan saya? hehehe.
Lagian, nampaknya Ibu Laba-Laba (Ibu saya, baca ini) udah menganggap bakar rambut ini sebagai obat untuk segala bentuk kesialan, contohnya :
Manda : "Ma, aku kemarin mimpi buruk, kenapa ya?"
Laba2 Ratu : "….besok bakar rambut de’, buang sial"
Manda : "Ma, masa tadi siang aku kejatuhan tai burung gitu di kampus"
Laba2 Ratu : "kok bisa? yaudah bakar rambut aja, buang sial"
Laba2 Ratu : "Manda, hari ini kamu bakar rambut ya"
Manda : "loh? kenapa?"
Laba2 Ratu : "Gaktau, mama ngerasa gak enak aja ma suasana rumah, hawanya gerah banget, takut ada apa-apa, jadi
Mama suruh semua anggota keluarga bakar rambut"
Manda : "……"
Kalo dikit2 bakar rambut, abis dong rambut gueee???. Yang paling nyebelin itu kasus terakhir, dia di Jakarta, gue di Bandung, dan gue disuru bakar rambut gara2 cuacaaa di Jakarta???? ToT. Kayaknya nyokap gue sudah menjadi tahayulwati. Aduh aduuhh,,, Eyang Putri kenapa juga sih yang kayak gini mesti diturunkan ke anak cucu??? kenapaaa???!!
Gara2 kejadian terakhir, gue memutuskan untuk melatih nyokap gue untuk melepas diri dari tahayul2 itu. Kalau dia udah mulai kawatir2 berasa mau sial, langsung gue tepis dengan pikiran2 logis, jadi dia gak punya alasan untuk bakar rambut. Lagian, rambutnya dah mulai tipis. duh duh.
Sekarang c, semua udah lumayan me-logis. haha. Tapi masalah lain belum selesai, muncul masalah baru lagi.
Entah kapan itu, gue, nyokap gue dan kakak perempuan gue pergi bersama. Kakak perempuan gue menyetir, nyokap duduk di bangku depan kiri, dan saya duduk di belakang. Sudah lama peraturan memakai Seat Belt diberlakukan, tapi dasar nyokap gue, tetep aja bandel gakmau pake Seat Belt, katanya gak enak, susah napas. Dibilangin nanti takutnya didenda kalo gak pake, marah2. Yaudah deh, terserahlah, toh kalau didenda, dia juga kan yang bayar, jadi ya gue dan kakak gue cuek bebek, lalalalilili.
Begitu sampai di daerah Senen, lalu lintas agak padat, jadi semua mobil berjalan lamban2. Tahu2, di sebelah kiri mobil, muncullah Pak Polisi, sedang mengarahkan mobil2 yang mau berbelok ke kiri. Spontan, Ibu2 langsung panik, mukanya pucet, dan berbisik2 "wah ada polisi! wah ada polisi!", kalau dia langsung pakai Seat Belt sekarang, pasti ketahuan, makanya dia cuma ngadep ke arah lain aja, pura2 tenang, gak mau cari perhatian. Gue dan kakak gue udah senyum2 pasrah aja, abis mau gimana, tadi kan udah dibilangin, tapi bandel.
Tau2, Ibu2 mulai merapalkan mantera aneh berbunyi "Tong tong blantong, tong tong blantong, tong tong blantong".
Ok. excuse me? apa itu?
spontan gue nanya dong, "apaan tuh ‘tong tong blantong’? Mama ngapain?".
"Biar kita lolos dari Pak Polisi, biar dia gak liat, tong tong blantong, tong tong blantong", kata Ibu gue.
ok. setau gue, nyokap gue bukan Naruto dan kami gak datang dari desa Ninja dan kami gak bisa menjelma jadi Kodok.
ya ampun mam, Mama kan kerja jadi sekretaris selama 25 tahuuunn???? (terus apa hubungannyaaaa, maaaaannn???)
muka gue udah gak karuan. udah bingung mau komentar apa, jadi diem aja, sementara Mbak QQ sibuk senyum2 liat tampang gue.
beberapa saat kemudian, Nyokap bisa bernapas lega, karena Pak Polisi gak menangkap basah dan mendenda dia atas kenakalannya tidak memakai Seat Belt. Dasar bandel, tetep aja abis itu gak mau pake Seat Belt, gak kapok yaaa, setelah lolos dari lubang buaya, tetep aja maen2 di kandang macan (apa sih) heran. Gak belajar dari pengalaman ya?
Selidik punya selidik, katanya, mantera ‘tong tong blangtong’ itu digunakan oleh leluhur kami sejak dulu kala untuk bersembunyi dari musuh, Ibu saya diberitahu oleh ibunya dan seterusnya, begitulah mantera tong2 ini diturunkan. Tanpa berniat bertanya secara lengkap, nama leluhur, tahun kejadian dan lain2, saya cuma bisa menghela napas.
Oh ya ampun, saya benci tahayuuulll!!!!
manda. xP