.
Budaya, PengumumanJune 21, 2008 12:18 pm

lagi jalan2 dan menemukan gerakan girl effect ini. saya suka banget konsepnya, bener2 suka.

Gerakan ini menghimbau masyarakat dunia untuk lebih memperhatikan kaum perempuan, karena sadar gak sadar, perempuan memiliki pengaruh yang besar terhadap kesejahteraan bangsanya, bahkan dunia.

Untuk lebih jelasnya, kalian bisa liat video promonya di youtube atau di web aslinya, www.girleffect.org. Bagi yang pengen eksplor lebih jauh, bisa didapetin juga di web resminya,  hehehehe.

Bagi yang punya account facebook, bisa menunjukkan dukungannya dengan menjadi salah satu fans, di link ini. saya sudah bergabung, hihihi. :P

Dan mengutip quote dari video Girl Effect favorit saya :

 

Invest in a girl and she will do the rest

oh, we will. aren’t we?

 

proud to be a girl,

Mandhut.

Budaya, Friends, Sehari-hari, Event, AutisJune 14, 2008 7:43 pm

Postingan ini bener2 cuma cerita, saya gak membuatnya enak dibaca, hehehe…. udah diwarn yaaa… 

Pembaca sekalian tahu English Day? Itu loh, pemberlakuan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar sehari2, in order to melancarkan kemampuan berbahasa internasional tersebut :P .

nah, akhir2 ini dara2 Kosan Mesum (baca : darcil dan darpit) lagi pada keranjingan English Day.

Hari Kamis lalu, mereka pulang dari kampus (gue memilih ngendon di kos), memanggil2 nama gue sejak dari garasi, dan begitu gue keluar dari kamar, mereka menyapa gue dengan "Good Afternoon, Mandhut… How Are You Todaaayy….???? We Are Very Well, thank youuu….!!!" dengan gaya terbelakang mental.

pas gue tanya, kenapa menyapa gue dengan bahasa Inggris (dan kenapa terbelakang mental). Mereka berdua langsung berebut bercerita. Setelah sesi cerita2 kacau dari darpit dan darcil, inilah yang dapat gue simpulkan :

  • mereka baru aja ngobrol seharian sama Jallil, mahasiswa asal Perancis, yang melakukan research selama 3 bulan di Laboratorium Basis Data IF ITB. karena Jallil tidak begitu mahir bahasa Indonesia, maka anak2 Basdat (basis data) memberlakukan setiap hari sebagai English Day, supaya Jallil merasa betah dan sekalian melatih kemampuan bahasa inggris masing2.
  • dasar emang 2 dara kosan mesum itu orang2 geblek, mereka dapat ide untuk sok2 nyamar jadi orang asing di luar ITB. sepulang sekolah mereka ke toko obat Cent*ry di Dago, mengajak ngomong mbak2 pramuniaganya dalam bahasa Inggris dan puas setengah mati waktu mbak2nya panik, serta diam2 berusaha menebak2 mereka datang dari negara mana, terutama Darcil (males ngelink… T-T). Karena Darpit terlihat seperti C*na Muallaf (sipit + putih + jilbab), tapi Darcil? tampang dan perawakan bener2 pribumi. udah gk tertolong lagi.
  • Kedodolan diteruskan saat pulang ke kos ke bilangan Tubagus Ismail naik angkot, mereka puas banget liat beberapa penumpang angkot berbisik2 setelah mendengar mereka berbicara dalam bahasa Inggris.
  • dan itu diteruskan sampe di kosan dan menyapa guepun dalam bahasa inggris baku. 

oh damn. harusnya gue ke kampus, dan ikut melihat tampang mbak2 pramuniaga dan orang2 di angkot bersama mereka. tapi sudahlah, nanti hari senin gue mau coba bahasa inggris aksen malay. ahahahaha. tidak sabar lagi :D

nah, hari Jumat lalu, beberapa IF ITB (termasuk di dalamnya kosan mesum) + Jallil nonton premiere Kung Fu Panda bersama di 21 Braga. Saya sempet dikenalin dan ngomong sedikit ma Jallil, tapi karena saya pemalu (gak ding, conversation gue tengkurep + terlalu perfeksionis soal grammar dan vocab sampe ngomongpun susah) jadi biarlah temen2 gue yang lain yang ngomong banyak sama Jallil (sori ya Lil, entar aja kite karaoke bareng :D , janji deh).

 (berfoto bersama Po - panda gendut berbaju abu2 - sehabis nonton Kung Fu Panda)

 

kami bersenang2 disana, Kung Fu Panda sangat menghibur, kami pun makan di C’mar setelahnya, dan sempat berfoto2 (gue membawa Poso si kamera kesayangaaan).

 

(makan di C’mar yang mengenyangkan, enaaak dan historical, dan dingin, dan kereen :P . mempertimbangkan C’mar sebagai tempat dilamar suatu hari nanti, hahaha.) 

 

dara mesum sempat melakukan pose ikan lentera di C’mar,

(tampang gue menyeramkan. tapi demi keutuhan postingaaaannn… apa daya…) 

bersama Jallil yang berhasil kami racuni ;) . hihihihi. 

 

berdoa semoga Jallil gak kapok ke Indonesia,

 

Amanda. 

Tentang Manda, Budaya, Sehari-hari, KonyolJune 7, 2008 10:32 am

(taken from : http://blog.microbrainx.net) 

Gak terasa, udah 4 tahun gue kuliah di Bandung, dan masih belum lulus karena ada beberapa hal. waahahahah. selama itu, banyak kenangan yang mengisi, termasuk pengalaman dengan angkot.

perlu dicatat, gue mulai belajar naik angkot semenjak gue di Bandung, sebelum itu? di kampung halaman gue Jakarta, gue anak pingit, cing. pulang sekolah harus langsung pulang ke rumah dan itupun dijemput. baru setelah bisa nyetir mobil, gue bisa agak bebas curi2 waktu jalan2 bareng temen2, tapi itupun pake mobil nyokap, bukan angkot.

jadi sungguh wajar, kalo pada saat pertama kali naik angkot (di Bandung), gue gak tau gimana lagi memberitahu pak supir kalo gue udah sampe tempat tujuan, kecuali berteriak "berhenti, bang!". wakakak. baru setelah gue naik angkot beberapa kali, gue sadar kalo biasanya orang2 berteriak ‘kiri!’ atau ‘kiri, ya!’ atau ‘kiri payuuuunn…’ atau ‘kiri ya, aaaa…’ untuk menotifikasi supir. dan gue baru tahu kalo ‘sekedap’ itu maksudnya ’sebentar’, dan itu berarti gue harus nunggu beberapa saat, bukannya ngotot tetep bilang ‘kiri!’ beberapa kali karena merasa dicuekin (ini aneh banget).

banyak banget pengalaman gue dan temen2 gue yang lucu2 soal angkot. dari yang mulai nyaris kecopetan, kecopetan, melihat aksi copet2an, terjebak di angkot berisi banci semua, kejeduk pintu angkot, kesangkut pintu angkot, jatuh dari angkot, dibuat keqi sama angkot, diusir dari angkot, angkot tabrakan dan lo ada di dalam angkot tersebut, salah naik angkot, ketemu makhluk2-salah-minta-dikomentarin di angkot, gak sengaja ngedudukin bapak2 pegawai negeri karena angkot keburu jalan padahal belum sempet duduk, gak sengaja nonjok bapak2 tua karena lagi2 angkot jalan sebelum sempet duduk, gak sengaja ngegebuk ibu2 tua pake tas berisi laptop, tangan keemut mbak2 di angkot (ini aneh dan jijik, nanti yang ini gue ceritain), diteriakin abang angkot karena duit kurang, nguping gosip anak sekolah di angkot, diinjek berkali2 sama anak kecil yang gue curigai penderita manic-depressive di angkot padahal gue gak salah apa2an, dan masih banyak lagi.

huah, sampai capek. tapi emang banyak banget kejadian2 konyol. hehehehe. ada sedih dan senang, angkot memegang banyak peranan penting dalam masa2 saya dan teman2 di Bandung ini. dan saya bangga, karena sedikitnya lumayan tau beberapa rute angkot Bandung, kalo Jakarta mah saya totally buta arah dan buta jalan. wahahahh.

oh saya janji cerita yang tangan saya keemut mbak2 angkot. jadi waktu itu, saya ceritanya mau naik angkot jurusan Caringin-Sadang-Serang yang biasanya memang langganan saya untuk menuju kampus dari kosan. lagi lari2 kecil menuju angkot, pas memegang pintu angkot untuk naik, tau2 saya denger ada suara orang teriak, dan tangan saya kok basah2. kontan langsung narik tangan, gak jadi naik angkot, dan selidik punya selidik, rupanya itu suara teriakan mbak2 yang mulutnya kemasukan beberapa jari saya. dia duduk deket pintu angkot dan naro muka di sudut pintu persis. dan seakan belum cukup penderitaannya, saya spontan berteriak ‘ih basah, jijik.’

………..

duh saya merasa berdosa, sepanjang jalan itu mbak2 pasang tampang sepet, tapi ya salah sendiri, kenapa juga naro mulut di pinggir pintu gituu… yaudahlahya. wahahaahh.

yaudah ah, iseng aja pengen nyeritain angkot. ada pengalaman lucu2, pembaca? hehehe.

 

Mandhut. 

Budaya, Thoughts, SengsaraMay 24, 2008 3:07 pm

mari kita nobatkan hari ini sebagai hari posting sedunia, karena sejak pagi saya gak bisa berhenti menulis. hahaaha. enjoy my writing, :)

 

Tell me, para-pekerja-kantoran-wherever-you-are, apa enaknya bekerja di kantoran?

Karena saya sama sekali gak melihat kenikmatannya.

Waktu saya harus melakukan kerja praktek tahun lalu di bagian IT sebuah perusahaan di bilangan Senen, Jakarta untuk memenuhi tugas salah satu mata kuliah di tempat saya menuntut ilmu. Saya benar2 menderita.

Saya merasa tertekan dengan kenyataan bahwa saya harus bangun pukul setengah 5 pagi, berangkat pukul 6 pagi agar bisa sampai di kantor tanpa terjebak macet. Saya sampai di kantor pukul 7 pagi, dan harus menunggu sampai jam 8 pagi, waktu dimana kegiatan kantor benar2 dimulai.

Saya menunggu sejam ditemani ruangan kantor yang masih remang, ditemani lampu baca dan novel yang saya bawa dari rumah atau sms2 bernada OHMAIGAT-INI-KERJA-PRAKTEK-BENER2-SUCKS dengan teman, kadang harus menjawab dengan senyuman miris pertanyaan2 office boy yang heran kenapa pagi2 begini udah ada mbak2 yang nangkring di depan meja kantor. "Rajin banget, mbak Putri" kata mereka, rajin pale lo, sini gue lempar sepatu hak, sebel.

Setelah itu, saya harus bekerja selama kurang lebih 8 jam (belum terhitung 1 jam istirahat makan siang), sampe jam 5 sore. Dan selama waktu itu, saya bener2 gak bebas ngapa2in, harus tetap fokus bekerja, gak bisa chatting dengan teman2 kuliah yang juga lagi kerja praktek di tempat lain karena kantor ini melarang penggunaan messenger.

Waktu jam makan siang, saya bener2 sebal, saya ingin dibiarkan saja asik dengan buku novel saya sambil makan bekal dari rumah, tapi gak bisa, karena saya terpaksa harus ikut makan bersama senior2 ini, karena kalo gak, entar dibilang sombong, dan itu akan merugikan bapak pembimbing saya, jadi saya harus bertoleransi. Saya harus mendengarkan omongan yang menurut saya gak menarik selama jam makan siang, lelucon yang itu2 aja, reaksi yang itu2 aja, dan harus kembali ke kantor dalam waktu sejam, untuk bekerja lagi.

Saya pulang kantor jam 5 sore, dan harus terjebak macet, merasakan jembatan atas Rawamangun yang bergetar hebat saat banyak mobil berada di atasnya (ini benar2 terjadi dan saya takut jembatan rubuh, saya gak mau mati dengan cara itu) saya baru sampai rumah jam setengah 8.

Dengan hati gondok, kepala pening, perut lapar, badan lelah. Gak ada tenaga untuk posting blog, untuk baca novel, apalagi untuk bertukar kabar dengan teman, dan memang gak boleh, saya harus tidur cepat karena besok saya harus bangun pagi dan bekerja lagi. Akhir minggupun, saya gak bisa keluar, karena capek, dan males, Jakarta panas bin macet bin apa-apa-mahal, jadi mending saya tidur. dan inipun gak membantu meringankan beban saya.

Saya bener2 stress,
satu2nya hiburan saya di kantor adalah saat waktu sholat tiba, saya bisa sejenak meregangkan otot, berlama2 mengambil wudhu, berlama2 menghirup udara di musholla, sampai akhirnya saya harus kembali lagi ke tempat duduk saya, di bilik berukuran 2 kali 4 meter. Pernah saking udah gak tahannya, saya gak peduli lagi. Di minggu akhir masa bekerja, pas jam makan siang, saya menghilang dari kantor, gak ikut makan bersama senior2 itu, cuma untuk berjalan sejenak di Golden Truly Senen, makan pizza sendirian di Pizza Hut, dan window shopping sejenak. saya kembali ke kantor dan telat setengah jam, dan pura2 "udah balik daritadi kok.. tadi cuma dari wc aja, sedikit gak enak badan" ke bapak pembimbing saya. Dan kegiatan ini melegakan. sangat melegakan. sayang gak saya lakukan dari dulu2.

Seringkali saya juga nekad menulis di komputer kantor saat saya gak ada kerjaan, menulis sesuatu yang nanti tinggal saya posting ke blog saya lewat koneksi internet di rumah. Karena kantor itu membatasi homepage yang bisa dibuka oleh karyawannya, friendster dan blogsome adalah sesuatu yang dilarang.

Dan setelah saya cek ke senior2 saya, mereka juga menjalani hidup yang sama dengan saya, bahkan ada yang lebih ekstrim lagi, yang berangkat dari rumah jam 4 pagi dan nyampe rumah jam 10 malem, dan masih sempet smsan sama pacarnya dulu sebelum tidur, dan sempet ngerjain proyekan di wiken. entah dia manusia ato wanita bionic, saya gak ngerti.

Saya bener2 gak cocok kerja kantoran. Dan saya harap itu terakhir kalinya saya mesti mengerjakan hal yang gak saya sukai, di lingkungan yang gak saya sukai, dengan cara yang gak saya sukai, setiap hari, 5 hari seminggu, 8 jam sehari.

Waktu saya bilang ke ibu saya, dia langsung panik. dan bilang kalo saya belum ngerti aja perlunya punya penghasilan tetap.

Saya pengen2 aja punya penghasilan tetap, tapi kalau itu membuat saya jadi kayak robot dan gak bisa melakukan hal2 yang saya sukai, saya mikir2 juga. Punya duit tapi kebebasan diri berasa dirampok abis2an gitu, apa worth it? karir kan ada banyak pilihan. :(

tanpa bermaksud menghina pihak tertentu, saya sekedar bercerita, dan mau bertanya, ada yang bisa kasihtau saya gak, apa enaknya kerja kantoran? mungkin saya bisa berubah pikiran.

 

Mandhut yang (masih) Benci Kerja Kantoran. 

Resensi, BudayaApril 23, 2008 2:02 pm


 

abis browsing2 random dan menemukan web Dove Self-Esteem Fund

bukan sok2 iklan salah satu produk komersil ye, tapi beneran kagum sama konsep yang mereka tawarkan ke masyarakat :D .  jadi ikut2an deh menyebarluaskan campaign for real beauty ini, agak telat sih, tapi sudahlah, hehehehe. saya pake Dove loh baidewai. shampoo dan sabun. ahahahahahhh *jijay abis, sok2 eksis*

ah ya, jangan lupa lihat rekaman video iklan2 dove di sana deh, liat yang onslaught, menurut saya, itu paling keren. ato gak, bisa liat juga di mini racauan manda,  cari yang postingan 23 april. hehehehe. enjoy it. cups cups!

btw, kalo ngasi foto dara2 mesum ini ke manajemen Dove sebagai salah satu foto campaign for real beauty, bakal dipake gak ya? soalnya foto ini kurang menunjukkan self-esteem apa coba :


 (dara mesum berpose ikan lentera di foto angkatan IF ITB 2004)

ya kan? cenderung kepedean malah. wahahah.

 

coz’ every girl deserves to feel good about herself,

 

Mandhut ;)

 

Budaya, Friends, Sehari-hari, Konyol, Autis, StoryApril 22, 2008 6:19 pm

Disclaimer : Postingan ini tidak bermaksud menghina pihak tertentu, mohon dibaca dengan hati dingin. hehe.

 

Alkisah, 2 teman saya sesama jurusan informatika, Matski dan Tobu, sama2 memiliki ketertarikan berlebih (lebih dari informatika) di dunia seni, terutama fotografi (dan sayangnya baru mereka ketahui setelah mereka memasuki masa2 akhir perkuliahan di informatika, otomatis langsung berasa salah jurusan). Untuk memuaskan rasa ingin tahunya, maka semester ini, mereka berdua memutuskan untuk mengambil salah satu mata kuliah seni rupa ITB 2006, yaitu fotografi aplikatif.

jadilah, mereka cukup membuat saya ngiler dengan cerita2 bernada man-sumpah-ya-kuliahnya-asik-abis-gak-kayak-di-if-dosen-ma-mahasiswanya- dah-kayak-temen-aja dan man-bingung-nih-tugas-minggu-ini-suruh-motret-tema-selfportrait-dong. wahahahah sialan, bikin ngiri aja. emang kalo udah suka, mau disuruh ngerjain tugas 24-7, mau disuruh nyari bahan ampe manapun juga, bakal dijalanin dengan hati riang, ya gak seehh?? hehehe.

nah, tema foto matski dan tobu untuk minggu kedua April yang lalu adalah,

…eng lupa namanya apa. hahaha.

pokoknya, itu tugas kelompok, disuruh nyari 10 foto, bertema, terserah temanya apa, untuk nanti dipresentasikan di depan kelas fotografi aplikatif tersebut, yang jatuh pada hari selasa kemarin.

berhubung si matski dan tobu banyak tugas, jadilah mereka baru kalang kabut nentuin tema dan hunting2 foto dari hari sabtu. singkat cerita, setelah sempat berganti tema dan macem2, mereka butuh memotret banci dan PSK juga, untuk melengkapi koleksi foto.

perlu kalian tahu, teman saya si matski dan tobu ini orang2 yang tergolong ‘kalem’ dan ‘anak baik2′ (gak di semua bidang sih, ahaha). pokoknya agak sulit untuk membayangkan mereka dengan santainya nyamperin banci ato PSK, dan memintanya untuk berpose karena mau dipotret untuk tugas kampus, tugas fotografi aplikatif.

gatau sih, gak maksud berprasangka buruk juga, tapi kalo saya banci-nya, mungkin udah saya santap di tempat, secara itu dua cowok kok polos2 amat, terlihat gampang ditipu. 

karena menyadari kalo kemampuan mereka dalam hal ini terbatas, maka mereka meminta saya dan sila alias darcil untuk membantu. maka, darcil-pun memberitahu daerah2 prostitusi yang dia ketahui, beserta jenis2 banci dan dimana mereka bisa ditemui, seperti :

kalo mencari banci2 cantik high class mulus putih tinggi semampai, carilah di jalan X, itu jenis2 banci yang bisa membuat para cewek merasa anjrit-mending-saya-aja-yang-jadi-banci-kalo-kamu-secantik-itu. 

kalo mau cari yang agak2 radikal, banci2-on-the-making, dalam artian, masih berotot, masih berbulu, masih berkulit hitam mengkilat, masih ber-you-know-what, pakaian masih korban mode, masih berjakun, pokoknya masih tak enak dilihat, carilah di belakang daerah Y.

bisa juga sih di jalan Z, tapi itu banci-banci yang udah lewat masa prime time, banci yang udah lewat masa jaya, gak kuat bayar maintenance lagi dan udah pasrah menghadapi nasib, jadi yang udah gak peduli mau tumbuh bulu kaki, kumis dan silikon di wajahpun udah mulai luber kemana2, jadi menimbulkan kesan bengkak.

soal kenapa darcil bisa fasih soal ini, gak usah diomongin lah, ntar jadi buka masa lalu orang lain. gak enak. hahahaha.

tapi dasar, udah untung dikasih tips and trik, mereka malah minta ditemenin hunting foto bareng. Berikut percakapan kami, sehari sebelum pengumpulan tugas fotografi aplikatif, di ruang makan kosan mesum (matski dan tobu mampir sekalian numpang makan malem) :

Matski : "Eh, kalian berdua harus ikut ya, bantuin cari foto malem ini" (melihat pada Manda dan Sila)

Sila : "Heh?! buat apaan?" 

Matski : "Kami butuh negotiator untuk ngomong sama komunitas2 itu, kan kalian berdua jago hal begini" (gak ngerti kenapa menganggap gue juga bisa berkomunikasi akrab dengan banci dan PSK, padahal kan yang gape, Sila doang)

Sila : "Gak ah! udah gila ya! males ah. lagian itu kan tenaga-laki-emosi-perempuan, takut dicakar, gila lo."

Manda :  "Mending kalo dicakar, kalo dianggap berpotensi menjadi banci dan diajak gabung, lebih nyesek lagi. gak ah Mat, lo tau jaman2 SMP gue sering dikira anak laki."

-pembicaraan terhenti sejenak, karena semuanya tertawa terbahak2- 

Matski (setelah selesai kram perut ketawa2) : "AH! kalo gitu, kalian berdua aja saya daulat jadi model, dandan gih, sila jadi yang PSK, kamu (menunjuk ke Manda) jadi banci."

Sila : "Maaat.. plis dong, itu ntar fotonya bakal lo presentasiin depan anak senirupa 2006 kan, banyak adik kelas gue jaman SMA. bayangin gak entar mereka bakal ngegosipin gue kayak apaa…."

Matski : "Yah, yaudah deh. kalo gitu kamu ya (Manda) jadi banci, bisa kan?"

Manda : "ENGGAK YA!. Ih, masih mending lo Sil, dikira PSK, masih jelas wanita, ketimbang gue, entar kalo papasan di jalan sama anak SR, mungkin ada yang bisik2 ‘eh eh, itu kan aslinya laki, loh’, lebih miris gue, kali."

dan pembicaraan-pun terhenti lagi, karena semua kembali tertawa terbahak2.

 

tapi seriously deh, saya mau tanya, terutama wanita, menurut kalian mendingan mana, dikira sampingan sebagai PSK apa Banci?

soalnya, kalo bagi saya, dua2nya gak enak, tapi saya lebih down lagi kalo kodrat saya sebagai wanita diragukan. padahal saya wanita tulen. itu MIRIS, kali.

 

sekedar memberikan bahan renungan malam ini (hehe),

 

Armando a.k.a Amanda.

 

ps : btw, kalo kalian bertanya2 si tobu kok gak ngomong, dia orangnya emang kayak gitu, kalo ada dialog seru kerjanya cuma merhatiin bengong2 aja dengan tampang innocent. wahahah. sori loh bu. hehehe.

 

Budaya, Thoughts, Friends, Sehari-hariFebruary 10, 2008 8:15 pm

Semingguan yang lalu, seorang sahabat lama saya akhirnya mengaku bahwa dirinya adalah Bi (gue sempet salah menyimpulkan dia Gay, tapi setelah diconfirm ulang, dia Bi.)

Bi (sama artinya ma binan gak si?) itu artinya biseks ya teman, means dia bisa mencintai baik pria maupun wanita. Sesama jenisnya, maupun lawan jenisnya.

Ayo… siapa yang baru baca ampe sini jantungnya udah kebat kebit? sana tiduran dulu sembari minum teh manis anget, jangan dipaksa, entar kalo brasa kuat boleh lanjut baca, kalo ga kuat yaudah, nonton gosip aja di tipi, gih.


Lanjut ye,

Kalo dibilang kaget
pas dikasitau ma dia soal hal ini, enggak juga, kenapa? Pertama, soalnya ini bukan pertama kalinya seorang teman mengaku ke saya berorientasi seks ‘berbeda’. Kedua, karena saya udah curiga dari kapan tau ini anak emang menuju ke arah sana.

Mungkin emang dasar saya beruntung menjadi orang straight yang dikaruniai gaydar (gay radar) yang lumayan terpercaya (btw, straight di sini = penyuka lawan jenis, dan memang hanya lawan jenis yang bisa saya sukai). Atau, emang dianya yang secara gk sengaja banyaaaak banget kasi hint soal hal ini dan saya emang lumayan peka (contoh hint2 : banyak bertanya pendapat gue soal hub. sesama jenis, memperlihatkan perilaku yang keliatan banget ‘lentik’nya dan sebagainya)

Udah sejak lama ini orang gak gue anggep cowok (maaph, entah kenapa saya cuma bisa menganggap ‘cowok’ pada cowok straight, tanpa bermaksud menyinggung ato apa, I just can’t), ketika pada akhirnya dia mengaku bahwa dia Bi :

Manda : "Joooooo (nama samaran) sori yaaa… tadi hape gue disilent, jadi gak denger pas lo nelpooon…!!"
Jo : "Gapapa kali, Man. Sante aja, gak gitu penting kok tadi."
Manda : "Pokoknya maaf ya, jangan anggep gue meninggalkan lo ya, jangan anggep gue sombong yaaa… maaf yaaa… gue tetep temen lo koook… gue sayang kok ma looo…." (mulai bersikap berlebihan, maaf, begitulah cara saya minta maaf : ngegombal)
Jo : "apaan sih. iyaaa… gapapa…. tetep anggep lo temen kok."
Manda : "Huuu.. terharu. terimakasih, Jo temankuuuu…!!" (cuh. gombal.)
Jo : "Wahahah. Ada2 aja lo, kalau gue bi lo masih mau temenan ma gue gak, Man?"
Manda : "Masihlah, lo salah satu temen baik gue gitu, kalo sampe gara2 itu doang terus gue pergi, gue bego dong."
Jo : "hehehehe…."
Manda : "Harusnya ngomong dari kapan tau kali, Jo."
Jo : "HWAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA……!!!!!!" (berteriak kenceng banget)
Jo : "Mandaaaaaaaaa…. banyak yang pengen gue ceritaiiiiiiinnn…….!!!!" (tampang mulai mewek)

Manda : "ya ya, sini cerita…"

Nampaknya saya telah mengatakan sesuatu yang tepat sasaran
(kalimat ini –> ‘harusnya ngomong dari kapan tau kali, Jo’), hehehe. Tadinya dia mungkin cuma mau ngomong sambil lalu, malah jadi ngaku beneran deh.
Dan kisahpun berlanjut dengan dia nyekokin saya pake McD dan Pizza Hut (kekenyangaan…. dasar! merusak diet aaahh!!! tapi makasih udah ditraktir!!) sembari cerita panjang lebar mengenai kisah perjalanan hidup dia selama ini dan betapa dia ragu buat ngomong ke gue karena takut dibenci, siapa cowok yang lagi dia taksir saat ini, semuuuaanyaaaa… sampe dini hari menjelang dan sayapun dianter pulang ke kosan.

Terus? sekarang gimana?


Well….

Saya gak bisa memungkiri kenyataan bahwa saya sempet shock saat harus menghadapi perubahan sikap Jo yang lumayan drastis. Yang tadinya cool2 ‘cowok’ gitu, sekarang jadi lumayan feminim, cenderung centil malah, lebih centil dari gue, wakakak.

Saya gak bisa memungkiri kenyataan bahwa saya sempet tersentuh saat Jo mengajak saya ke sebuah toko buku ternama dan menunjukkan beberapa buku yang berhubungan dengan penyimpangan seksual. Dari yang emang ‘naughty’ sampe yang  membahas dari pandangan agama, dia borong semua.

Saya gak bisa memungkiri kenyataan
bahwa saya sempet berasa tertipu saat tahu bahwa ‘mantan2 pacar’ yang dia ceritakan selama ini adalah cowok.

dan banyak lagi kenyataan yang membuat jidat ini sempat berkerut kebingungan. :D .

Tapi semua perasaan ganjil dan gusar yang saya rasakan itu hilang saat melihat untuk pertamakalinya Jo tersenyum dan bercerita dengan lepas pada saya. Senyum dan cerita yang tak pernah saya dapatkan dari seorang Jo sebelumnya.

Sekali lagi saya diingatkan, bahwa gak ada yang lebih menyenangkan daripada menjadi diri sendiri dan gak ada yang lebih membahagiakan daripada melihat orang yang disayangi bisa menjadi diri sendiri, ya gak Jo? hehehehe.

So,

Gue gak peduli apa pendapat orang lain mengenai hal ini. Yang gue tahu adalah, lo memilih jalan hidup lo dengan pertimbangan matang dan siap menerima semua resikonya. Dan gue juga tahu bahwa, lo adalah salah satu temen terbaik yang gue miliki, tempat gue berkeluh kesah dan menyandarkan diri saat gue membutuhkan dukungan.

Jadi kalau pernyataan bahwa ‘gue menerima lo apa adanya sebagai sahabat’ sudah cukup untuk membuat lo tenang dan lebih kuat untuk menghadapi tiap detik perjalanan lo ke depannya,

Gue akan dengan senang hati
memberikannya, bahkan tanpa lo minta :D .

Malah bagus, sekarang bisa hunting cowok bareng lo. wakakak.

 


Your (straight) bestfriend,

Mandhut.

Tentang Manda, Budaya, ThoughtsNovember 11, 2007 9:18 am

Barusan saya chatting sama temen SMP yang sekarang kuliah di Jakarta. Dari cuma sekedar tanya2 kabar, lama2 jadi ngegosip macem2 deh. Awalnya cuma gosip ngalor-ngidul, tiba2, topik pembicaraan kami berbelok ke oknum M, cewek temen satu SMP kami juga.

Si M ini, anak yang supel, terhitung sebagai anak gaul di SMP kami. Menjadi anggota di salah satu geng cewek terkemuka, bertingkah mengikuti trend anak muda saat itu (kaos kaki putih selutut, lengan junkies, obrolan yang selalu diikuti kata ‘jayus’ dan ’sumpe-lo?-sumpe-de!’ dsb…), pokoknya menjalani hidup layaknya gadis SMP pada umumnya.

Entah kabar itu datang darimana, si M diberitakan hamil di luar nikah dengan pria yang berumur jauh di atasnya dan sudah beristri (yap, beristri.). Untungnya, pria itu mau bertanggung jawab dan menikahi M dengan segera.

Topik si M ini memang selalu jadi pembicaraan hangat kalau lagi reuni SMP. Yang dibicarakan juga bukan yang jahat2 macam menertawakan nasib M, tapi sekedar bertanya2 aja "si M sekarang kerja dimana ya?", "anaknya udah umur berapa ya?" dan masih banyak lagi.

Yang jelas, kabar terbaru mengatakan, M hidup sederhana dengan suami dan anak perempuan-nya. Dan sekarang bekerja sebagai SPG di salah satu supermarket di Jakarta (suami M berpenghasilan rendah, jadi M juga harus ikut membanting tulang membantu ekonomi keluarganya).

—————————–

Yang dialami M hanyalah salah satu kisah dari banyak kumpulan cerita kehamilan di luar nikah lainnya.

Buat saya, ini bukan hal yang baru lagi. Temen saya si M, salah seorang kerabat dekat, anak perempuan tetangga, sahabat dekat kakak saya, anak teman ibu saya, banyak sekali yang mengalami nasib yang hampir sama dengan M. Ada yang berakhir bahagia (menikah, menjalani hidup seperti biasa), ada juga yang berakhir menyedihkan (putus sekolah, terpaksa membesarkan anak sendirian karena si pacar kabur dari tanggung jawab, membuat malu keluarga).

Kalau melihat berita2 di media, kisah2nya lebih bervariasi lagi. Ada yang meninggal karena aborsi, ada yang memilih untuk kabur dari rumah, ada yang berusaha menyembunyikan kehamilan mati2an tapi akhirnya ketahuan, ada juga yang memilih melahirkan diam2 lalu membunuh anak kandungnya sendiri karena takut dengan pandangan orang, dan masih banyak lagi.

Perasaan saya aja ato memang benar, kok ya kian hari kasus macam ini kian banyak ya? :( .

—————————–

Kasus macam ini terbukti dapat merusak masa depan, terutama untuk pihak perempuan-nya (cowok bisa kabur dari masalah ini, cewek enggak segampang itu. gimana coba caranya kabur? wong masalahnya nangkring di rahim, dibawa kemana2). Saking merugikannya, masyarakat-pun mulai bergembar-gembor memperingati generasi muda mengenai ‘pencegahan’ dengan berbagai cara, dari mulai sudut pandang agama, moral bangsa timur, pandangan yang sudah berkompromi dengan budaya barat (’gunakan kondom saat berhubungan’) dan masih banyak lagi.

Disini, saya gak kepengen ngomongin lagi soal ‘pencegahan’, saya mau ngomongin tentang bagaimana ‘menindak lanjuti kalau kehamilan itu sudah terlanjur terjadi’. Soalnya, menurut saya, yang terakhir ini punya prioritas lebih tinggi. Kenapa saya bilang lebih tinggi? karena saat itulah manusia dalam keadaan panik luar biasa dan kehilangan akal sehat. Yang terakhir ini yang justru bisa mengantar pada tindakan gegabah yang berakhir kematian atau penjara (aborsi, pembunuhan). Yang terakhir ini yang merupakan titik penentuan apakah masa depan korban akan hancur atau tetap gemilang. Yang terakhir ini pantas diperhatikan dan didengar oleh yang tidak maupun terlanjur hamil di usia muda. Baik oleh perempuan, maupun laki-laki.

Saya belum pernah mengalami kehamilan di usia muda (dan mari berdoa semoga saya cukup baik mengendalikan diri sendiri dalam hal ini), namun saya pernah berpikir bagaimana seandainya hal itu terjadi pada saya. Bukannya ngarepin yang jelek2, tapi saya yakin kalau yang namanya manusia itu banyak khilafnya, jadi apa salahnya mempersiapkan diri untuk semua kemungkinan. Punya pikiran macam "itu gak akan terjadi sama saya, amit2 deh" dan menolak berpikir lebih jauh, bisa jadi senjata makan tuan. Selagi masih bisa berpikir sehat, gak ada salahnya mencoba untuk memikirkan hidup lebih dalam lagi.

Pokoknya kalau sampai hal itu terjadi sama saya, saya :

1. Akan bicara dengan keluarga dan oknum yang menghamili sejak awal kehamilan.
Nyimpen2 masalah kayak gini sendirian, ngumpet2 dari orang lain, cuma bikin sakit jiwa. Si pelaku jelas harus dikasitau, apapun kondisinya, enak aja saya gelagapan, situ ongkang2 kaki. Tapi saya gak akan memberitahu terlebih dahulu keluarga yang dirasa riskan secara emosional (contohnya sedang sakit parah, sedang menghadapi ujian, memang tipe panikan), saya akan cari anggota keluarga yang cukup dewasa dan reliable untuk saat itu. Setidaknya saya sudah memberitahu seseorang tentang hal ini, jadi mereka bisa memberi masukan pada saya dan mengingatkan saya kalau mulai agak2 lepas kendali.

2. Gak akan menggugurkan kehamilan, apapun yang terjadi.
Saya yang berbuat, saya yang tanggung jawab dan terima resikonya. Biarpun saya yang mengandung, saya gak berhak nentuin hidup mati anak saya. Aborsi itu kayak lempar batu sembunyi tangan, dan itu perbuatan paling nyebelin yang pernah ada. Mau ditabokin kek, mau dijambakin, mau dihina, mau diusir, mau ditinggalin, mau diapain aja, terserah, tapi anak ini tetep harus lahir.
Ada yang bilang, ‘buat apa dilahirkan kalau nantinya bakal ditelantarkan?’, ‘buat apa dilahirkan kalau nantinya dia bakal menderita?’. Sekarang saya balik, gimana kalau ternyata, setelah saya lahirkan , nasib berkata lain, anak ini ternyata ‘bisa menerima kenyataan dan hidup bahagia?’, ‘bisa berguna buat orang2 di sekitarnya kelak?’. Emangnya anak yang lahir bukan dari hasil kehamilan di luar nikah, pasti bahagia? gak juga kali.
Nasib manusia itu adalah sesuatu yang berada di luar kuasa kita. Yang udah pasti kita tahu, adalah, aborsi yang dilakukan tanpa pertimbangan medis yang jelas (misalnya, kesehatan ibu yang mengandung, kondisi janin) itu sama aja kayak membunuh, jadi itu bukan pilihan.

3. Memastikan kalau anak gue akan dirawat dan dididik dengan benar.
Kalau gue belum bisa (masih sekolah, belum ada penghasilan), gue akan minta bantuan pada orang yang gue percaya (teman, tante, sepupu, siapapun) untuk merawatnya. Bukannya full lepas tangan, tetep bakal gue pantau dengan rutin, sembari cepet2 nyelesein studi, jadi bisa cepet menghasilkan uang buat mbiayain anak sendiri dan gak ngerepotin orang lagi.
Kalau gue bisa (udah lulus, udah ada penghasilan), ya langsung gue rawat dengan tangan gue sendiri. hehe.

4. Kalau memang keluarga menuntut gue dinikahi.
Kalau si oknum-penyebab-kehamilan mau menikahi, ya terimakasih, alhamdullillah, masalahnya gak nambah panjang.
Kalau gue dinikahin dengan sukarelawan (yang entah keluarga gue dapet darimana) untuk sekedar menjaga dari omongan orang karena si pelaku asli gak mau tanggung jawab, yasudah, terimakasih. Meski mungkin saya gak cinta, tapi ini bukan saatnya bertindak egois dan sok2 melodramatis. Udah bagus anak gue tetep bisa lahir dengan kehadiran seorang bapak (meskipun bukan bapak kandung), yang penting anak gue dan keluarga dulu, baru urusan lainnya.
Tapi kalau enggak ada yang mau, yasudah, life must go on. Gak ada jalan lain selain menghadapi dengan berani. Single parent-pun takapa! masih ada sahabat dan keluarga yang bisa membantu gue.

5. Akan tetap berusaha berpikir positif.
Pernah berbuat khilaf bukan berarti kesempatan untuk berkarya langsung hilang begitu saja. Memang benar, hidup saya sudah berbeda dari anak lainnya. Sudah ada anak yang harus dipikirkan di saat seharusnya saya masih bermanja2 pada orang tua.
Tapi, pisau aja bertambah tajam kalau banyak diasah, kan? gak pake menyesal atau malu, justru harusnya bangga bisa survive dari cobaan :D . Bahkan sekarang bisa berbagi dengan orang2 lain tentang hal ini, kita bisa jauh lebih berguna untuk manusia lainnya.

Sebenernya ya bok, kalo mau diterusin, bisa lebih panjang dari ini. Masih banyak jawaban dari pertanyaan macam "gimana kalau anak gue membenci gue karena hal ini?", "gimana kalau gue ternyata gak siap jadi ibu?" dsb. Tapi sementara ini dulu deh, semoga bisa jadi bahan renungan bersama. amin. hehe.

Penting banget ya ini postingan. besok hari senin ya? met beraktivitas, orang2!.

Mandhut.

Tentang Manda, Budaya, Thoughts, Sehari-hari, Level Up!, StressOctober 18, 2007 3:52 pm

It’s a girl thing. Tapi kalo cowok mau baca ya gapapa…..

 

Selama 21 tahun 2 bulan hidupnya, akhirnya Putri Amanda Bahraini mulai mengerti arti kalimat ‘jadi cewek itu gak gampang’.

Sebelumnya, gue udah sering mendengar kalimat itu dari media atau obrolan ringan sehari2, tapi gue selalu menganggap mereka semua drama queen alias melebih2kan keadaan.

Tadinya gue mikir begitu, tapi karena sesuatu hal, sekarang gue sadar kalimat itu ada benernya juga. Dasar guenya aja yang telat puber dan dari dulu agak2 males menganalisis lingkungan sekitar, makanya gak pernah cukup sadar jadi perempuan itu gak gampang.

———————

Heeehhh…. sebenernya ada apa sih?

Sebelum kita masuk ke topik utama, gue mesti jelasin dulu awal dari semua ini.

Jadi gini loh pembaca, entah kenapa sejak gue menyandang gelar 21 tahun pada tanggal 15 Agustus yang lalu, gue mulai memaksa diri untuk berpikir tentang masa depan dan diri gue sendiri lebin intens dari sebelumnya.

Bukannya sebelumnya gue gak mikirin sih, mikirin juga. Bedanya sekarang dipikirin lebih sereus dari sebelumnya aja. Yah gimana dong teman, gue udah tingkat 4, sebentar lagi gue udah harus terjun ke masyarakat.

Di dalam kepala gue, ‘terjun ke masyarakat’ berarti, gue udah harus bisa berdiri di atas kaki sendiri, udah harus mengenal diri sendiri dengan sangat baik, udah harus jelas mau dibawa kemana hidup gue ini (career woman, housewife, or both? spinster or married? hahaha), udah harus bisa mengatasi sifat2 buruk (malas, keras kepala, drama queen), udah harus menumbuhkan sifat2 baik, udah harus mulai sereus mikirin soal JODOH (aaarrgh.. dipikir2 sebenernya perjodohan itu easy-way-out loh), udah harus tau bisa membedakan ‘yang dibutuhkan’ dengan ‘yang diinginkan’, udah gak boleh bergerak berdasar emosi semata dan masih banyak lagi.

Mungkin gue terdengar ribet banget. Tapi, gue udah kenyang berurusan sama orang-dewasa-yang-cuma-dewasa- di-umur-aja-dan-gak-bisa-dibilangin-karena-udah-terlalu-bangkot -untuk-introspeksi-diri, beneran udah sepet, eneg, muak, apalah itu. Kalau ada yang bisa gue lakukan saat ini, adalah berusaha keras dan berharap gue bisa memberi kesan yang lebih baik di masa depan nanti.

 

Kalau memang bertambahnya umur cenderung membuat manusia lebih angkuh untuk mau berintrospeksi, gue akan memastikan gue dibekali dengan baik di masa muda gue. Supaya kalau gue lupa hal ini suatu hari nanti di masa tua gue, gue sudah memiliki hal2 yang memang harus dimiliki orang dewasa seutuhnya, jadi gak nyusahin orang lain!!!. huh.

Heh…. gue jadi emosi jiwa. Yah pokoknya begitu, intinya ini masalah besar buat gue.

Banyak hal yang gue pikirkan soal ini. Untuk memfokuskan masalah, semua pertimbangan dimulai dari tujuan hidup gue dan segala hal yang bisa membantu gue mencapainya. Gue membaginya menjadi 6 faktor, mulai dari kesehatan, keuangan, relationship, psikologi, skill dan impression. Mungkin akan ada tambahan ke depannya, tapi so far, itu dulu.

———————-

Nah sekarang kita masuk ke topik utama postingan,

Dari 6 faktor yang gue berikan, gue sempet agak2 mentog soal impression.

…..

Jujur ya teman, sepanjang hidup, gue gak pernah peduli apa yang orang lain pikirkan soal gue dan tampilan gue. Gue gak pernah dandan, gue berdiet kalau udah sesak napas karena baju kesempitan, gue memakai apa yang gue anggap nyaman, gue melakukan apa yang gue suka. Selama gue gak nyusahin orang, then everything doing just fine. Tapi, gara2 sesuatu hal (kapan2 gue ceritakan) gue mulai menyadari bahwa, impression itu penting, in fact, impression juga membantu lo mencapai tujuan hidup lo. Tanggung jawab diberikan pada orang2 dengan skill dan impression yang baik, bukan? ;P

Duh jangan diketawain dong, tiap orang kan punya prosesnya masing2, kalo gue baru nyadar sekarang gapapa kan, ketimbang enggak sama sekali.

Ngomong soal impression berarti ngomong soal behaviour dan penampilan. Untuk berkembang, means ada yang harus dipertahankan dan dirubah kan?. Jadi gue mulai berpikir soal kesan yang udah gue berikan selama ini dan apakah yang harus gue perbaiki.

Kalo udah ditanya soal behaviour dan penampilan, rata2 temen gue bilang Manda itu : lucu, kayak anak kecil, childish, ngegemesin, imut, empuk, minta dipeluk, minta dicubit, santai, enak buat tidur2an, bikin ketawa, gendut, gayanya tomboy, enak dibuat curhat, nyaman, hangat, ngangenin. Eh ini dikumpulin dari yang pernah orang lain omongin ke gue ya, jadi jangan pada berisik deh. Dari semua yang gue tangkap, gue menyimpulkan sebagian menganggap gue adik kecil yang tampilannya mirip bakpau daging dan bikin hati senang. Sebagian lagi menganggap gue ibu yang bisa dijadikan pelarian, pahanya empuk bisa buat tidur2an dan bikin hati tenang.

Senang dan tenang. What an Impression…

Jadi gak ada yang anggep gue wanita dewasa ber-sex appeal? Jadi kalau gue begini terus, yang deketin gue maybe cuma orang2 fedofil atau mother-complex?

UH-OH, GAMAAAAAAUUUU!!!! (tanpa bermaksud menghina teman2 sekalian, sungguh ini cuma bagian dari drama quenn saja)

Well, gue seneng dianggap seperti itu. Tapi gue pengen sedikit menambahkan kesan dewasa dan bersahaja, berkarisma apalah itu, lagian dipikir bosen juga gak berubah2 dari dulu ampe sekarang. Gak ada salahnya mencoba, sekalian biar lebih cocok sama umur kan :P .

Jadi, tanpa melupakan identitas diri, gue mulai menimbang2 jenis2 pakaian yang bisa dipakai dan tidak (termasuk kecocokan dengan bentuk badan yang tambun ini), model rambut, apakah perlu mewarnai rambut atau tidak, diet yang tepat seperti apa, mau turun sampe berapa kilo, olahraga yg tepat buat gue dan yang terakhir, perawatan dan dandanan yang tepat. Saya juga harus mengatur budget untuk memenuhi itu semua dan masih banyak lagi.

Satu kata untuk menggambarkan itu semua, ribet. Apalagi soal perawatan dan dandan.

Dulu, saya menganggap adik sepupu genit yang sejak kelas 5 SD sudah mengumpulkan uang jajan untuk membeli lipstik dan maskara, sangat2 gak penting. Saya tambah eneg saat dia udah mengeluh soal selulit waktu kelas 2 SMP dan memakai korset ke sekolah (she really did). Tapi sekarang saya agak kagum sama dia. At least dia sudah memikirkannya. Saya bener2 angkat topi buat perempuan2 yang bisa mengatur itu semua sejak usia dini. Yang tahu pakaian dan model rambut apa yang cocok untuk mereka, tahu jenis kulit mereka, tahu bagaimana berdandan untuk segala suasana.

 

Mungkin ada beberapa wanita yang kelewat genit soal dandan, tapi tetep aja ya, itu gak gampang, cing!. baik merencanakan atau menjalaninya. butuh pengalaman dan wawasan luas. butuh kesabaran. butuh kemauan. butuh daya analisis luar biasa.

Contohnya gini deh, kemaren gue sama darpit keliyengan mikirin alat2 kosmetik yang must-have. Gue melakukan survey di majalah2 wanita yang me-review beberapa produk kosmetik dan cara2 bermake-up. Ada bermacam jenis kosmetik, gue udah tahu benda2 ini dari kapan tau, sering buka2 kotak kosmetik nyokap waktu kecil, tapi gak pernah niat make, abis bingung. Karena gak pernah belajar, gue baru sadar kalo jenisnya banyak banget yak, ternyata mascara ternyata ada yang bening, foundation juga ada yang creamy, ada yang matte, dan concealer ada beberapa tingkatan warna. Mereknya juga macem2, harganya apalagi, bikin seret tenggorokan. Tapi kalo belinya merk abal-abal yang ada ntar kulit jadi blentongan. Jadi ya mesti pinter2 memilah2 mana yang bener2 perlu dan enggak, mana yang gampang dikombinasikan dan mana yang tidak, mana yang cocok buat kulit kita dan mana yang enggak, gimana cara taunya kalo gak pernah dicoba???!!!. Makenya juga gak gampaaaaaaaaaaangg!!! ada dandanan resmi, semi resmi, non resmi, natural, dan lain lain. Salah sedikit, menor sedikit, lo langsung mirip Ade Juwita! (berlebihan) Ibarat melukis, dandan juga butuh sense of art!!!

Urusan ini beneran ngabisin waktu dan uang yak. aaaahhh…..kalo artis enak punya make up artist dan stylist sendiri, tinggal lempar duit, duduk diem manis, semua selese, ada yang sponsorin pula. Lah gue????!!! (desperate)

Gue gak tau emang guenya yang kelaenan ato gimana, tapi gue eneg banget pas tahu begitu banyak yang mesti dipikirin untuk urusan dandan dan perawatan doang. Sementara ini, gue berkutat pada perawatan yang perlu2 dulu aja deh, yang poles2 sembari jalan aja. gak usah ngikutin semuanya bener2, nemuin selah sendiri aja. belajar dikit2. huh.

Mungkin ada perempuan yang menganggap kesulitan terbesar menjadi perempuan adalah karena harus mengalami menstruasi sebulan sekali, harus mengandung 9 bulan dan masih banyak lagi. Well for me, jadi perempuan itu susah karena harus merawat diri dan perawatannya gak gampang!!! Ini pilihan sih, gue bisa aja gak melakukan itu semua dan hidup seenaknya, tapi saya juga gamau jadi perempuan jadi2an yang diragukan apakah dia perempuan atau bukan, jadi ya mari bertindak selayaknya perempuan, demi untuk impression yang baik ToT.

Untuk pertama kali dalam hidup gue merindukan kehadiran bencong di samping gue. Mereka pasti tahu banyak soal ini, dan paling gak bisa menjadi tempat gue bertanya serta mengadu. hiks hiks… bencoong….

 

duh gue pengen asisten bencong… (mulai ngaco)

apa gue aja operasi kelamin aja, jadi kan gak perlu mikirin beginian… (tambah ngaco)

Jadi cewek itu gak gampang…!!!!

Jadi hargailah wanita2 di sekitar kalian!. Selaen karena mereka yang akan melahirkan dan merawat generasi penerus kalian, butuh banyak pengorbanan dan observasi untuk menjadi ‘indah’ seperti yang kalian lihat sekarang!!!

Udah ah, capek ngemeng. Ohya, nampak ‘proyek terjun ke masyarakat’ ini bakal banyak menyita waktu dan menghasilkan postingan2 di Racauan Manda, sabar2 aja ya orang2! :D .

Manda yang puyeng.

Budaya, EventOctober 13, 2007 7:02 pm

Sebelum saya ngemeng lebih jauh lagi, Putri Amanda Bahraini dan Racauan Manda mengucapkan :

Selamat Idul Fitri

Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Maaf kalo selama ini suka membuka aib sodara.

Maaf (terutama untuk cowok) kalo selama ini ada yang puasanya batal/kurang afdhol gara-gara postingan saya. (ahahahahahaha,,,, udah dibilang bacanya abis buka aja…)

Maaf kalo spacing di blog saya suka aneh (salahkan blogsome)

Maaf kalo ada kata-kata saya yang menyinggung :P


duh capek pengen tidur.
duh kekenyangan pengen jadi penderita bulimia aja.
duh ngidam jeruk tapi gak punya jeruk.
Gue rasa gue mule ngelantur, kita sudahi saja postingan ini :D

besok kita teruskan ya, teman. ahahahaha.

Manda