Beberapa orang mungkin mempunyai lagu yang paling ‘click’ dengan apa yang rasakan dalam hidupnya. Lagu itu menjadi lagu yang selalu diingat liriknya dan didengar sepanjang hidup orang tersebut. And for me, lagu yang dimaksud adalah Looking for a Place to Land, yang dinyanyikan oleh Dakota Moon.

Saya pertama kali denger lagu ini pas jaman SMA, sekitar tahun 2002, dan begitu denger, saya langsung suka. Padahal menurut kebanyakan temen saya, lagu ini biasa2 aja, tapi di kuping saya, lagu ini menceritakan apa yang saya rasakan soal kehidupan, dengan kata-kata yang tepat sasaran.

Dan di postingan kali ini, saya mau menjabarkan apa isi kepala saya, terkait si lagu itu tentunya. hehehehe. Silakan duduk manis dan menyimak, akan sangat panjang, jadi pastikan kalian sudah punya teh manis hangat dan bakpau untuk menemani membaca *masih aja*.

——————————————————— 

Jadi begini, 

Seiring umur saya yang bertambah, saya mulai terus mempertanyakan, apa yang harus saya lakukan di dunia ini, apa yang saya cari, apa yang membuat saya bahagia, mengapa orang-orang berpikir begini, mengapa Tuhan memerintahkan kita untuk begitu, dan masih banyak lagi. Pertanyaan2 ini, terus bertambah jumlahnya serta tingkat kerumitannya, semakin meluas ke semua sektor kehidupan, dari yang penting hingga yang sepele. Semua ini, semakin menyita perhatian dan energi saya.

Kadang saya merasa, saya menyia2kan waktu saya hanya untuk mencari jawaban akan pertanyaan2 saya di atas. Saat semua orang berlari mengejar cita2, melakukan suatu hal yang nyata hasilnya, saya hanya sibuk berpikir dan mengkhayalkan sesuatu yang mungkin sebenarnya gak perlu untuk dibayangkan. Ada yang bilang, hidup itu dijalanin aja, gak usa dipikirin. Tapi saya belum bisa berhenti memikirkannya terus menerus, setiap menit, setiap detik, sampai saya menemukan jawaban yang bisa menenangkan.

Saya selalu berpikir, dunia ini gak berjalan dengan baik. Ini bukan tempat saya. Bukan tempat dimana saya ingin hidup. Bukan tempat dimana saya ingin membesarkan anak-anak saya kelak. Saya gak bisa menggambarkan dengan tepat apa yang salah di dunia ini, tapi saya tahu bahwa something is amiss.

Saya menginginkan banyak hal yang berbeda dalam hidup, 

Saya menginginkan sesuatu yang bisa membuat saya terus bersemangat, petualangan, intrik, drama, apapun. Kadang bahkan saya berkhayal, saya bisa bertemu dengan suatu lubang menuju dimensi lain, dimana disana menunggu sebuah dunia yang berbeda dengan apa yang ada disini. Dunia yang menunggu untuk diselamatkan, dunia dimana sedang terjadi bencana besar, seperti di film Armageddon atau Independence Day, atau dunia mimpi seperti Narnia dan Who’s Ville. Dunia dimana saya tidak berperan sebagai Manda si mahasiswi, tapi sebagai orang lain, siapapun selain saya si Mahasiswi. Dunia dimana saya bisa menemukan orang2 yang benar2 berharga bagi saya. Dunia dimana persahabatan dan cinta diuji kekuatannya.

Kadang saya juga berharap, menemukan dunia dimana, tidak ada polusi udara di dalamnya. Dunia dimana, semua manusia memiliki ladang dan peternakan sendiri di belakang rumah mereka. Tidak terlalu besar, tapi cukup untuk memberi makan diri sendiri dan keluarga. Dunia dimana air sungai mengalir jernih, ikan-ikan berenang dengan bebas, lebah berdesing mengumpulkan madu, para bapak berbincang2 di teras ditemani kopi, dan bau roti panggang memenuhi dapur setiap ibu rumah tangga di pagi hari. Dan saya disana, sedang mengaduk sepanci adonan strawberry di dapur untuk dijadikan selai roti esok hari sambil bersenandung lagu2 lawas. Dunia dimana, kedamaian adalah satu2nya aturan yang ada.

Saya juga pernah membayangkan, hidup di suatu kota besar, pusat perdagangan dunia. Kota yang modern, bersih dan teratur, didiami oleh lebih dari satu suku bangsa, ras dan agama. Hidup melajang, tinggal di sebuah apartemen sederhana, dengan furnitur yang saya beli dan saya atur sendiri. Bekerja sebagai seorang penulis di sebuah majalah/surat kabar ternama, menghasilkan tulisan2 yang bermutu setiap hari. Saya akan berangkat-pulang kerja dengan menaiki kereta bawah tanah atau bis, hanya naik pesawat terbang saat memang ditugaskan di luar negeri. Setiap akhir minggu, saya akan berjalan menyusuri sebuah daerah yang dipenuhi restoran dan kafe dengan menenteng sebuah tas berisi laptop ringan kecil pada pukul 10 pagi, kelewat excited untuk memutuskan akan menulis di mana saya hari ini. Memiliki teman2 yang berwawasan luas dan memberi banyak cerita pada saya. Dunia dimana saya hidup mandiri dan bisa berkarya sesuka hati.

Saya menginginkan dunia-dunia yang menawarkan hal yang berbeda dari apa yang ada disini.

Sebut saya gila, tapi saya benar2 memikirkan hal2 di atas. Saya terus bertanya apa yang sebenernya saya inginkan dan kemana saya ingin menuju, saya terus bertanya bagaimana menggambarkan apa yang sedang saya lakukan selama ini, sampai akhirnya saya menemukan lagu itu dan mendengarkan lirik ini,

                 I guess in my own way
                 Just like him I am wandering, wondering run away
                 But aren’t we all just,

                 Looking for a place to land
                 Looking for a friend to call
                 Looking for a destination, conversation, fascination
                 To protect us from the fall
                 Looking for the one to love
                 Looking for a brand new day
                 Looking for a reason to stand
                 Looking for a place to land

dan saya hanya bisa tersenyum, karena akhirnya saya tahu apa yang sedang saya lakukan. Sampai detik inipun saya masih mencari a place to land.

Mungkin bukan berarti dunia ini bukan tempat saya, tapi saya belum menemukan tempat yang tepat untuk saya mendarat dan tinggal disana. Dan mungkin, saya harus berhenti melarikan diri dari kenyataan, berhenti asik sendiri dengan khayalan2 itu, dan mulai memecut diri melakukan sesuatu guna menemukan ‘tempat mendarat’ terbaik saya. Dan yang pasti, saya harus yakin kalau tempat itu ada, bahkan saat dunia sedang tak bisa diharapkan seperti sekarang ini.

 

hanya racauan saja,

Mandhut.