mari kita nobatkan hari ini sebagai hari posting sedunia, karena sejak pagi saya gak bisa berhenti menulis. hahaaha. enjoy my writing,
![]()
Tell me, para-pekerja-kantoran-wherever-you-are, apa enaknya bekerja di kantoran?
Karena saya sama sekali gak melihat kenikmatannya.
Waktu saya harus melakukan kerja praktek tahun lalu di bagian IT sebuah perusahaan di bilangan Senen, Jakarta untuk memenuhi tugas salah satu mata kuliah di tempat saya menuntut ilmu. Saya benar2 menderita.
Saya merasa tertekan dengan kenyataan bahwa saya harus bangun pukul setengah 5 pagi, berangkat pukul 6 pagi agar bisa sampai di kantor tanpa terjebak macet. Saya sampai di kantor pukul 7 pagi, dan harus menunggu sampai jam 8 pagi, waktu dimana kegiatan kantor benar2 dimulai.
Saya menunggu sejam ditemani ruangan kantor yang masih remang, ditemani lampu baca dan novel yang saya bawa dari rumah atau sms2 bernada OHMAIGAT-INI-KERJA-PRAKTEK-BENER2-SUCKS dengan teman, kadang harus menjawab dengan senyuman miris pertanyaan2 office boy yang heran kenapa pagi2 begini udah ada mbak2 yang nangkring di depan meja kantor. "Rajin banget, mbak Putri" kata mereka, rajin pale lo, sini gue lempar sepatu hak, sebel.
Setelah itu, saya harus bekerja selama kurang lebih 8 jam (belum terhitung 1 jam istirahat makan siang), sampe jam 5 sore. Dan selama waktu itu, saya bener2 gak bebas ngapa2in, harus tetap fokus bekerja, gak bisa chatting dengan teman2 kuliah yang juga lagi kerja praktek di tempat lain karena kantor ini melarang penggunaan messenger.
Waktu jam makan siang, saya bener2 sebal, saya ingin dibiarkan saja asik dengan buku novel saya sambil makan bekal dari rumah, tapi gak bisa, karena saya terpaksa harus ikut makan bersama senior2 ini, karena kalo gak, entar dibilang sombong, dan itu akan merugikan bapak pembimbing saya, jadi saya harus bertoleransi. Saya harus mendengarkan omongan yang menurut saya gak menarik selama jam makan siang, lelucon yang itu2 aja, reaksi yang itu2 aja, dan harus kembali ke kantor dalam waktu sejam, untuk bekerja lagi.
Saya pulang kantor jam 5 sore, dan harus terjebak macet, merasakan jembatan atas Rawamangun yang bergetar hebat saat banyak mobil berada di atasnya (ini benar2 terjadi dan saya takut jembatan rubuh, saya gak mau mati dengan cara itu) saya baru sampai rumah jam setengah 8.
Dengan hati gondok, kepala pening, perut lapar, badan lelah. Gak ada tenaga untuk posting blog, untuk baca novel, apalagi untuk bertukar kabar dengan teman, dan memang gak boleh, saya harus tidur cepat karena besok saya harus bangun pagi dan bekerja lagi. Akhir minggupun, saya gak bisa keluar, karena capek, dan males, Jakarta panas bin macet bin apa-apa-mahal, jadi mending saya tidur. dan inipun gak membantu meringankan beban saya.
Saya bener2 stress, satu2nya hiburan saya di kantor adalah saat waktu sholat tiba, saya bisa sejenak meregangkan otot, berlama2 mengambil wudhu, berlama2 menghirup udara di musholla, sampai akhirnya saya harus kembali lagi ke tempat duduk saya, di bilik berukuran 2 kali 4 meter. Pernah saking udah gak tahannya, saya gak peduli lagi. Di minggu akhir masa bekerja, pas jam makan siang, saya menghilang dari kantor, gak ikut makan bersama senior2 itu, cuma untuk berjalan sejenak di Golden Truly Senen, makan pizza sendirian di Pizza Hut, dan window shopping sejenak. saya kembali ke kantor dan telat setengah jam, dan pura2 "udah balik daritadi kok.. tadi cuma dari wc aja, sedikit gak enak badan" ke bapak pembimbing saya. Dan kegiatan ini melegakan. sangat melegakan. sayang gak saya lakukan dari dulu2.
Seringkali saya juga nekad menulis di komputer kantor saat saya gak ada kerjaan, menulis sesuatu yang nanti tinggal saya posting ke blog saya lewat koneksi internet di rumah. Karena kantor itu membatasi homepage yang bisa dibuka oleh karyawannya, friendster dan blogsome adalah sesuatu yang dilarang.
Dan setelah saya cek ke senior2 saya, mereka juga menjalani hidup yang sama dengan saya, bahkan ada yang lebih ekstrim lagi, yang berangkat dari rumah jam 4 pagi dan nyampe rumah jam 10 malem, dan masih sempet smsan sama pacarnya dulu sebelum tidur, dan sempet ngerjain proyekan di wiken. entah dia manusia ato wanita bionic, saya gak ngerti.
Saya bener2 gak cocok kerja kantoran. Dan saya harap itu terakhir kalinya saya mesti mengerjakan hal yang gak saya sukai, di lingkungan yang gak saya sukai, dengan cara yang gak saya sukai, setiap hari, 5 hari seminggu, 8 jam sehari.
Waktu saya bilang ke ibu saya, dia langsung panik. dan bilang kalo saya belum ngerti aja perlunya punya penghasilan tetap.
Saya pengen2 aja punya penghasilan tetap, tapi kalau itu membuat saya jadi kayak robot dan gak bisa melakukan hal2 yang saya sukai, saya mikir2 juga. Punya duit tapi kebebasan diri berasa dirampok abis2an gitu, apa worth it? karir kan ada banyak pilihan.
tanpa bermaksud menghina pihak tertentu, saya sekedar bercerita, dan mau bertanya, ada yang bisa kasihtau saya gak, apa enaknya kerja kantoran? mungkin saya bisa berubah pikiran.
Mandhut yang (masih) Benci Kerja Kantoran.



layaknya orang2 yg baru dapat merasakan kenikmatan hidup ketika disiksa, ada orang yang merasa harus mengalami rutinitas itu untuk tetap hidup.
dan yang seperti itu, tidak sedikit.
berbahagialah kita yang punya visi lebih dari sekadar lahir-sekolah-kerja-kawin-beranak-mati.
Comment by roberto — May 24, 2008 @ 3:29 pm
Jangan kerja di Jakarta atuh jeng. Bandung euy Bandung! Living cost lebih murah, macet ngga separah di sana, ngga sesumpek kota terkutuk itu lah pokoknyah.
Btw, produktif sekali blog mu nak belakangan.
Comment by Ibam — May 25, 2008 @ 1:14 am
salut punya ide begitu. saya udah 13 tahun kerja di jakarta. rasanya memang capek. Belakangan terlintas ingin berhenti dan mulai kerja dari rumah. Dan rasanya akan saya lakukan. I just realized, I’ve missed my quality time for my family.
Comment by madhusein — May 29, 2008 @ 4:34 am