nyem nyemm.. dari kemaren2 lagi kepengen bener-bener meracau tanpa peduli apakah tulisan gue ini nanti akan dimengerti apa enggak ni sama pembaca. hehehe. daripada makin menjadi2, gue rasa akan gue habiskan semua yang gue pengen omongkan pada beberapa postingan. ^^ kalo mau baca, Alhamdullillah, gak mau yasudah, skip wae’.
kalo ditanya apa main concern gue sekarang, adalah kenyataan bahwa gue baru saja putus sekitar… eng.. 2 minggu lalu? gak kepengen jadi main concern, tapi mau gak mau sampe hari ini masih aja kepikiran. hahaha. gimana doong…. *guling2*
rasa putus itu menyebalkan, apalagi kalo lo-lah yang melakukan hampir semua don’ts dalam buku dos and don’ts in a relationship, dan berakhir dengan putus, dan saat lo sadar bahwa lo melakukan hal yang salah-bodoh-cupu, semua benda sudah terlanjur tidak pada tempatnya dan entah bagaimana gak ada cara yang jelas untuk mengembalikan ke tempat yang semula. bukan karena lo gamau, tapi karena benda2 itu bukan milik lo seorang.
untuk kesekian kalinya, gue harus sadar bahwa dunia bukan gue seorang, dan kembali untuk kesekian kalinya, gue harus merasakan betapa menyedihkannya saat gue tau kebahagiaan gue seringkali bukanlah sebuah ‘benda’ tapi manusia, yang hidup, yang bergerak dan mempunyai keinginan sendiri, dan itu berarti, amplitudo perasaan yang gak bisa diprediksi, yang bereaksi sesuai gerak-gerik si manusia itu.
akhir2 ini, berasa ada yang kosong entah di bagian mana di tubuh ini, dan gak tau gimana menambalnya. udah berusaha dengan benda2 subsitusi lainnya, tapi saat ini, semua terasa salah dan gak meaning. entah bener2 gak bisa atau gue yang gak kepengen menutup lubang itu dengan benda selain benda yang tadinya memang berada di sana, gue gak mengerti. gue bingung dan empty, dan saat ini, yang bisa gue lakukan hanya menunggu, berusaha membiasakan diri dengan perasaan yang ada, merasakan perasaan ini sampai habis, sampai gue terbiasa dan lupa bahwa ini anomalli.
menurut gue, fase2 dalam hidup itu kayak sekumpulan permen karet. satu untuk mewakili setiap perasaan/pengalaman yang harus lo lewati. harus dikunyah hingga bener-bener hilang rasanya untuk selanjutnya lo buang tanpa merasa bersalah, dan masukkan kembali permen karet yang baru ke dalam mulut. begitu juga dengan yang gue lakukan sekarang.
deep down inside, gue tahu hidup itu indah, baik kenangan baik maupun buruknya. soon after gue menemukan kebahagiaan baru, gue akan bisa menertawakan semua kejadian2 yang telah berlalu. yang tadinya gue tertawakan, gue tangisi, gue sesali, semua yang gue simpan baik2 dalam hati, semua akhirnya akan menjadi bahan pembicaraan seru, ditemani secangkir besar teh manis hangat, semangkok pop-corn dan seorang teman pendengar setia. berbicara sepanjang siang dan malam hanya untuk berbagi seberapa naif dan mudanya saya ‘dulu’ itu sembari merajut perasaan baru yang dipersiapkan di masa depan.
gue selalu tahu bagaimana perasaan2-tak-menyenangkan ini akan berakhir juga di tempat yang sama dengan perasaan lainnya. tapi tetap saja, menjalaninya adalah saat yang menyebalkan. persis usus buntu yang segera ingin lo angkat. persis jerawat yang ingin lo pencet. persis lintah yang menyedot darah lo sampai gendut. seperti itulah rasanya. yang gue inginkan hanya segera melewatinya dengan segala cara, tapi seberapapun lo berteriak marah karena kelelahan, lo tetap harus menjalaninya, keesokan harinya dan keesokan harinya. hari2 dimana lo merasakan kerinduan amat sangat saat lo memandang langit, merasakan udara dan embun pagi, melihat orang2 di dalam angkot, melihat aliran air di got, melihat deretan pohon, mendengar desiran angin, menelan pisang goreng, bahkan saat lo menutup mata dan menulikan telinga. entah merindukan apa, lo hanya rindu, entah pada apa, entah pada siapa.
beberapa menjalaninya dalam diam. tapi biasanya, gue akan menjalaninya dengan menghabiskan seluruh alternatif cara untuk melepaskan diri dari penderitaan ini di awal permainan, untuk selanjutnya merasa kecewa karena tak berhasil, dan memutuskan untuk diam, sama seperti beberapa orang lainnya, karena memang hanya itu yang bisa gue lakukan lagi. paling tidak, kalaupun gue gagal, gue gagal dengan fakta bahwa gue sudah mencoba segala cara yang gue bisa, jadi bisa mengurangi kadar penyesalannya.
.
hehehehe,
ingin rasanya tetap berkosentrasi dalam rutinitas sehari2, tapi gue gak kuasa. gue sehaus itu sama benda yang namanya ‘kasih sayang’, sehaus itu sampai gak bisa gak mikirin hal itu sedetik saja, sehaus itu sampai bahkan saat gue memiliki benda itu di tangan, gue selalu merasa kurang, sehaus itu sampai selalu merasa iri dengan kasih sayang yang dimiliki orang. sehaus itu sampai gue memasrahkan semua bagian hidup gue, kecuali masalah kasih sayang. sehaus itu sampai seringkali tanpa sadar gue sudah dalam state mengemis kasih sayang, dan saat sadarpun gue sudah tak peduli apa pendapat orang, karena mereka gak bisa menawarkan solusi lain yang lebih menenangkan.
gue selalu merasa gue gak waras karena hal ini,
sempet terpikir kembali untuk kesekian kalinya, cobalah memasrahkan masalah yang satu ini, sama seperti yang lainnya, mungkin beban akan sedikit berkurang, dan lo bisa menggunakan energi yang tersisa untuk menemukan hal baru lainnya. tapi gak bisa, persis seperti air hujan yang akan selalu bermuara ke laut, kesanalah gue selalu menuju, dan sampai saat ini belum ada cara untuk mencegahnya.
gue bertanya terus menerus dalam hati, persis seperti orang gila, "tidakkah semua yang dialami kemarin dulu, membuat orang itu sedikit tidak rela jika semua berakhir begini?", "meski tidak banyak, tidakkah dia merasa itu berkesan?", "bukankah ini terlalu cepat untuk berakhir?", "tidakkah dia tahu bahwa setiap manusia tidak ada yang sempurna, dan tidakkah dia merasa cukup saat tahu bahwa manusia itu setidaknya selalu belajar untuk menjadi sempurna?", "apakah dia membenci gue". tapi sebelumnya, gue harus menanyakan pada diri gue sendiri terlebih dahulu ‘tidakkah lo sadar bahwa setiap manusia mempunyai tujuan yang berbeda dalam hidup? tidakkah lo merasa wajar saat mereka marah dan membuang lo karena lo menarik mereka jauh dari tujuan abadi mereka?". sama seperti gue dan ‘kasih sayang’, orang itu memiliki benda penting lainnya, dan dia berhak memilah2 mana yang pantas mereka pertahankan dan yang tidak, mana yang menurut mereka barang cacat dan layak pakai, jadi memang tak ada gunanya gue bertanya. ini sama persisnya dengan berusaha mengubah periode rotasi bumi.
mungkin baginya, cinta adalah kualitas, bagi gue, cinta adalah kuantitas. bagi dia, cinta adalah alokasi waktu dan tenaga, mempersembahkan sesuatu sesempurna mungkin, di momen yang tepat. bagi gue, cinta adalah spontanitas, selalu ada waktu dan tenaga untuk cinta, tak peduli sempurna atau tidak, gue hanya peduli perasaannya. orientasi yang sangat berbeda dan membuat gue tersenyum miris saat menyadarinya.
gue ingin marah. ingin berontak. tapi gue gak tahu pada apa, atau pada siapa. hanya bisa menyalahkan diri sendiri dan memastikan diri ini belajar, agar setidaknya ada yang bisa dijadikan bekal di masa depan, dan dibagikan pada yang membutuhkan nantinya.
menelan semua pikiran dan fakta yang disodorkan bulat2 di depan mata. gue cuma bisa bilang, gue lakukan apa saja untuk menghilangkan rasa menyebalkan ini. gue akan lakukan apa saja. karena gue sudah gak tau harus bagaimana. sementara ini, gue rasa gue memang harus menjalaninya. wish me luck, then.
——————————————————-
entah kenapa, saat sedang begini, gue teringat seorang kawan yang sudah lama gue hilangkan dari daftar sahabat karena sesuatu dan lain hal. yang terpaksa gue sakiti untuk membuatnya benci dan melupakan. setidaknya, bagi gue, itulah hadiah terakhir yang bisa gue berikan atas semua kebaikan dan sebagai perwujudan rasa sayang, hanya karena gue gak mau mencurangi, hanya supaya dia tahu bahwa gue sebusuk yang bisa dia bayangkan dan supaya dia tidak menyangkal, hanya karena gue gak enak sudah terlalu lama menyusahkannya, dan menyusahkan teman2 gue lainnya karena dia.
gue membayangkan apa kira2 yang akan dia katakan saat tahu gue mengalami hal ini, saat kami masih bersahabat dulu. pertama2, dia akan tertawa terbahak2, lalu akan mengkritik gue dari ujung rambut sampai ujung kaki, luar-dalam, semuanya, sampai gue merasa lebih buruk dari sebelumnya, sampai gue menangis terpuruk, sampai pada titik gue sudah kebas dengan semua kenyataan yang ada, gue tau gue salah dan gue bisa menerima, lalu dia akan memberi gue benda2 manis lainnya, yang bisa membuat gue lupa akan penderitaan gue dan tersenyum tulus.
sebuah eden yang instant dan terjamin, tapi senyum itu tidak akan lama, karena sebulan kemudian, dia akan jadi penderitaan gue selanjutnya, dan biasanya begitu sebaliknya. dan memang begitu yang terjadi berkali2. jadi saat ini, cuma bisa tertawa membayangkan reaksi orang itu aja, tapi memilih untuk gak merealisasikannya.
aneh memang, mengetahui bahwa ada orang yang mengetahui lo dan lo ketahui hampir sangat baik, yang bisa menebak apa yang lo pikirkan dalam sepersekian detik, yang bisa menghibur lo dengan cara yang berbeda, yang bisa mengangkat beban yang ada di pundak, tapi gak bisa lo dekati karena lo tahu kedekatan lo berdua hanya akan saling menyakiti. karena lo tahu lo berdua sama2 rumit dan gak cukup tenaga untuk saling mengerti lebih dari ini. setidaknya, gak sekarang. mungkin nanti. mungkin tak akan pernah lagi. gue gak tau.
somehow, gue merindukan saat2 dimana gue bisa meringkuk di sofa ruang tengahnya, melawan udara dingin yang menusuk tulang, mengobrol sepanjang malam sampai mata sudah benar2 meminta untuk dipejamkan. mengobrolkan dari hal yang terpenting sampai yang tak jelas apa maksudnya. tertawa sampai mata mengeluarkan air. merindukan keperfeksionisannya yang berkadar tinggi, sampai terkadang menyakiti diri sendiri untuk mencapainya. merindukan kerapuhannya yang kadang membuat gue geram dan marah, ingin menjambak siapapun yang membuatnya seperti itu. merindukan masakan2 nyonya rumah tersebut yang enak luar biasa, beragam dan membuat gue terkagum2 dibuatnya. merindukan aroma setiap ruangan di sana, mengingat baik2 letak benda2 di dapurnya yang sekarang entah masih sama atau tidak, merindukan kehangatan yang sempat gue rasakan di sana.
Tapi gue tahu, gue gak boleh merasakannya lagi, kenikmatannya persis narkoba, membawa lo terbang ke langit, tapi sangat adiktif, se-adiktif itu membuat lo meraung kesakitan kalau konsumsinya dihilangkan sesaat. jadi lebih baik memang, jangan menggunakannya.
mungkin gue gak normal, freak, drama queen or anything. tapi gue hanya mengatakan apa yang ada di kepala, sejujur dan se-harmless yang gue bisa. so, kalo lo baca, kawan, gue hanya ingin bilang, tertawakan gue disana, karena memang gue pantas ditertawakan dalam hal ini dan memang itu yang gue inginkan saat ini. Dan berbanggalah, karena kuku lo telah menancap begitu dalam, sampai saat inipun gue masih bisa menerka kata2 lo tanpa perlu lo ada disini. dan gue rasa, begitu sebaliknya.
thank you karena telah meninggalkan kenangan yang sedikit menghibur, maaf karena diinget cuma kalo lagi susah aja. wahahahah. lo berharga dengan cara lo sendiri. bahkan saat gue maki2 lo, lo tetap berharga buat gue, bahkan saat gue niat melupakan, lo tetep bercokol disana persis tanda lahir. dari hati yang terdalam, tulus gak pake ngeledek, beneran mendoakan lo baik2 aja disana, meskipun gue tahu lo gak butuh, karena lo akan melewatkan Tugas Akhir meneliti kelinci2-yang-nampaknya-merepotkan itu dengan sangat baik. saya nyumbang doa untuk faktor2 X aja dah, doa yang mungkin terlewat didoakan orang lainnya. lekas lulus dan cepatlah tajir. berbahagialah sampai akhir hayat.
dan juga, thank you buat dia yang sempet mengisi beberapa bulan ini. gak kepengen mengatakan kata perpisahan seakan2 gak akan pernah ketemu selama hidup lagi, jadi gue gak akan ngomong babay. cuma bisa bilang, don’t write me off just yet, lo belum tahu gue sebener2nya dan begitu sebaliknya. terlalu cepet untuk membuang apa yang ada, karena permen karet itu masih bisa dikunyah, meski mungkin rasanya udah gak sama. sampai saat ini, masih suka sama seperti setahun yang lalu, dan belom tahu ini perasaan mau diapain, jadi sementara diangin2 dulu aja kayak ikan asin, bisa jadi makin asin, makin mahal dan enak rasanya, bisa jadi tiba2 dicuri kucing lainnya ato kucing yang sama *wahahahaahahhh*. mari berdoa yang terbaik aja dah. semoga Tugas Akhirnya sukses juga ya, bertahanlah disana, semoga selalu dikasih petunjuk dan keringanan sama Allah SWT
.
ini celotehan mungkin masih lanjut loh. wahahah.
stuck in a world where nothing makes sense (paling gak ya saat ini aja),
Manda.



waw panjaaaangg. ehehehe. hal ini kynya sudah kita bicarakan berulang kali dalam berbagai situasi kondisi jadi sy rasa situ udah tau lah ya jawaban sy bakal ky gimana.
“itu semua pikiran loh dek! mati satu tumbuh seribuu!” =))
Comment by arhcamt — May 18, 2008 @ 5:50 am
Hmm.. kok style penulisannya kaya bukan ala manda
Comment by dyah — May 18, 2008 @ 6:49 am
“entah kenapa, saat sedang begini, gue teringat seorang kawan yang sudah lama gue hilangkan dari daftar sahabat karena sesuatu dan lain hal.”
details, please…
Comment by roberto — May 18, 2008 @ 6:50 am
manda…
maapkan daku taunya telat banget, dasar ratih dudul. Gw juga lagi kangen man, entahlah apakah ini kebodohan, keegoisan atau memang jalan yang harus ditempuh. kita liat aja nanti hiks
Comment by ratih — June 8, 2008 @ 11:45 am
Haduh Man, udah 25 aja tulisan yang masuk di reader. Produktif sekali.
Comment by Payjo — June 13, 2008 @ 12:45 am