Disclaimer : Postingan ini tidak bermaksud menghina pihak tertentu, mohon dibaca dengan hati dingin. hehe.
Alkisah, 2 teman saya sesama jurusan informatika, Matski dan Tobu, sama2 memiliki ketertarikan berlebih (lebih dari informatika) di dunia seni, terutama fotografi (dan sayangnya baru mereka ketahui setelah mereka memasuki masa2 akhir perkuliahan di informatika, otomatis langsung berasa salah jurusan). Untuk memuaskan rasa ingin tahunya, maka semester ini, mereka berdua memutuskan untuk mengambil salah satu mata kuliah seni rupa ITB 2006, yaitu fotografi aplikatif.
jadilah, mereka cukup membuat saya ngiler dengan cerita2 bernada man-sumpah-ya-kuliahnya-asik-abis-gak-kayak-di-if-dosen-ma-mahasiswanya- dah-kayak-temen-aja dan man-bingung-nih-tugas-minggu-ini-suruh-motret-tema-selfportrait-dong. wahahahah sialan, bikin ngiri aja. emang kalo udah suka, mau disuruh ngerjain tugas 24-7, mau disuruh nyari bahan ampe manapun juga, bakal dijalanin dengan hati riang, ya gak seehh?? hehehe.
nah, tema foto matski dan tobu untuk minggu kedua April yang lalu adalah,
…eng lupa namanya apa. hahaha.
pokoknya, itu tugas kelompok, disuruh nyari 10 foto, bertema, terserah temanya apa, untuk nanti dipresentasikan di depan kelas fotografi aplikatif tersebut, yang jatuh pada hari selasa kemarin.
berhubung si matski dan tobu banyak tugas, jadilah mereka baru kalang kabut nentuin tema dan hunting2 foto dari hari sabtu. singkat cerita, setelah sempat berganti tema dan macem2, mereka butuh memotret banci dan PSK juga, untuk melengkapi koleksi foto.
perlu kalian tahu, teman saya si matski dan tobu ini orang2 yang tergolong ‘kalem’ dan ‘anak baik2′ (gak di semua bidang sih, ahaha). pokoknya agak sulit untuk membayangkan mereka dengan santainya nyamperin banci ato PSK, dan memintanya untuk berpose karena mau dipotret untuk tugas kampus, tugas fotografi aplikatif.
gatau sih, gak maksud berprasangka buruk juga, tapi kalo saya banci-nya, mungkin udah saya santap di tempat, secara itu dua cowok kok polos2 amat, terlihat gampang ditipu.
karena menyadari kalo kemampuan mereka dalam hal ini terbatas, maka mereka meminta saya dan sila alias darcil untuk membantu. maka, darcil-pun memberitahu daerah2 prostitusi yang dia ketahui, beserta jenis2 banci dan dimana mereka bisa ditemui, seperti :
kalo mencari banci2 cantik high class mulus putih tinggi semampai, carilah di jalan X, itu jenis2 banci yang bisa membuat para cewek merasa anjrit-mending-saya-aja-yang-jadi-banci-kalo-kamu-secantik-itu.
kalo mau cari yang agak2 radikal, banci2-on-the-making, dalam artian, masih berotot, masih berbulu, masih berkulit hitam mengkilat, masih ber-you-know-what, pakaian masih korban mode, masih berjakun, pokoknya masih tak enak dilihat, carilah di belakang daerah Y.
bisa juga sih di jalan Z, tapi itu banci-banci yang udah lewat masa prime time, banci yang udah lewat masa jaya, gak kuat bayar maintenance lagi dan udah pasrah menghadapi nasib, jadi yang udah gak peduli mau tumbuh bulu kaki, kumis dan silikon di wajahpun udah mulai luber kemana2, jadi menimbulkan kesan bengkak.
soal kenapa darcil bisa fasih soal ini, gak usah diomongin lah, ntar jadi buka masa lalu orang lain. gak enak. hahahaha.
tapi dasar, udah untung dikasih tips and trik, mereka malah minta ditemenin hunting foto bareng. Berikut percakapan kami, sehari sebelum pengumpulan tugas fotografi aplikatif, di ruang makan kosan mesum (matski dan tobu mampir sekalian numpang makan malem) :
Matski : "Eh, kalian berdua harus ikut ya, bantuin cari foto malem ini" (melihat pada Manda dan Sila)
Sila : "Heh?! buat apaan?"
Matski : "Kami butuh negotiator untuk ngomong sama komunitas2 itu, kan kalian berdua jago hal begini" (gak ngerti kenapa menganggap gue juga bisa berkomunikasi akrab dengan banci dan PSK, padahal kan yang gape, Sila doang)
Sila : "Gak ah! udah gila ya! males ah. lagian itu kan tenaga-laki-emosi-perempuan, takut dicakar, gila lo."
Manda : "Mending kalo dicakar, kalo dianggap berpotensi menjadi banci dan diajak gabung, lebih nyesek lagi. gak ah Mat, lo tau jaman2 SMP gue sering dikira anak laki."
-pembicaraan terhenti sejenak, karena semuanya tertawa terbahak2-
Matski (setelah selesai kram perut ketawa2) : "AH! kalo gitu, kalian berdua aja saya daulat jadi model, dandan gih, sila jadi yang PSK, kamu (menunjuk ke Manda) jadi banci."
Sila : "Maaat.. plis dong, itu ntar fotonya bakal lo presentasiin depan anak senirupa 2006 kan, banyak adik kelas gue jaman SMA. bayangin gak entar mereka bakal ngegosipin gue kayak apaa…."
Matski : "Yah, yaudah deh. kalo gitu kamu ya (Manda) jadi banci, bisa kan?"
Manda : "ENGGAK YA!. Ih, masih mending lo Sil, dikira PSK, masih jelas wanita, ketimbang gue, entar kalo papasan di jalan sama anak SR, mungkin ada yang bisik2 ‘eh eh, itu kan aslinya laki, loh’, lebih miris gue, kali."
dan pembicaraan-pun terhenti lagi, karena semua kembali tertawa terbahak2.
tapi seriously deh, saya mau tanya, terutama wanita, menurut kalian mendingan mana, dikira sampingan sebagai PSK apa Banci?
soalnya, kalo bagi saya, dua2nya gak enak, tapi saya lebih down lagi kalo kodrat saya sebagai wanita diragukan. padahal saya wanita tulen. itu MIRIS, kali.
sekedar memberikan bahan renungan malam ini (hehe),
Armando a.k.a Amanda.
ps : btw, kalo kalian bertanya2 si tobu kok gak ngomong, dia orangnya emang kayak gitu, kalo ada dialog seru kerjanya cuma merhatiin bengong2 aja dengan tampang innocent. wahahah. sori loh bu. hehehe.