
(taken from http://newmexico.indymedia.org/)
damn.
Saya kepikiran sesuatu, gak pengen ngomongin sebenernya karena it’s not a big deal (atau should i say, ‘not even yet a big deal’). Tapi saya harus ngomong, minimal kasitau rasanya gimana, karena beneran gak enak.
Sejak saya nyadar kalo saya Drama Queen + ekstrovert tingkat lanjut, beberapa kali saya berlatih untuk gak membicarakan semua masalah yang saya hadapi ke orang2 terdekat atau mempublish di blog. Kenapa? karena :
- entah kenapa kalo 2 biji sifat itu lagi kumat, kayaknya masalahnya heboh banget, padahal gak gitu2 amat.
- dari pengalaman, saya tahu kalau apapun yang berlebihan, gak pernah bagus hasil akhir-nya, dan saya gak pengen nyesel di akhir2.
- kadang, lo gak kepengen orang2 terkait tahu betapa lo puyeng memikirkan hal itu dan membuat mereka merasa berdosa akan itu. … atau merasa jijik kenapa hal gitu aja bisa dipikirin ampe segitunya. … ya, pokoknya begitu.
Tapi usaha gue ini hampir gak pernah berhasil, gue orangnya ga bisa mendem, kalo gak gue ungkapkan dengan cara yang biasa, gue akan cari pelarian, biasanya kalo gak lari ke makanan, kurang tidur, atau tangannya ga bisa diem, menghasilkan bekas jerawat kesekian di muka dan tempat2 lainnya (hehe) dan ini semua gak akan berenti sebelum gue bicara atau menuliskannya di blog. Pada akhirnya, gue selalu memegang prinsip ‘apa yang terjadi, terjadilah. yang penting sekarang gue bisa makan bakpau dengan hati tenang’ untuk menanggung apapun resiko yang akan gue hadapi nanti.
Untuk yang kali ini aja, udah berusaha gak meninggalkan bekas permanen di tubuh, berusaha gak ngemil (liat kata ‘berusaha’, gue berusaha ya), tapi yang ada jadi gak bisa belajar konsen (musim UTS, gak ada masalah aja ga konsen, apalagi terganggu pikiran lain) dan ga bisa tidur nyenyak karena kalopun tertidur akan mengalami fenomena ketindihan (yang mafhum terjadi kalo saya lagi banyak pikiran) dan mimpi buruk (barusan gue tidur sore2 dan mimpi mau diculik kuntilanak/banshee/apalah itu, kurang tolol apa coba).
Gak peduli seberapa gue berusaha untuk santai dan menekankan ke diri sendiri ‘gak perlu stress Man, karena masalahnya bahkan gak lebih gede daripada upil’, seperti biasa, cuma mulut gue yang bilang ‘ooh indahnya duniaaa, semua baik2 sajaaaa’, sisanya berontak menunjukkan apa yang ada jauh di alam bawah sadar gue, menunjukkan ‘baik dari Hongkong? putri amanda bahraini JELAS gak dalam kondisi baik2 aja’.
gini deh,
Kalau saya bolak balik cari cemilan, bekas jerawat di muka bertambah, terlihat mengantuk dan mulai babbling kalo diajak ngomong, means saya sedang terganggu oleh sesuatu, teman. Lekaslah luangkan waktu, bertanya dengan lembut dan berjanji gak akan menyebar apapun yang saya ceritakan serta gak akan merasa aneh dengan apa yang akan kalian dengar. Saya akan berterimakasih dunia-akhirat kalo kalian lakukan itu tanpa diminta. tapi jangan maksa kalo gue tetep bilang ‘gak ada apa2′, mungkin muka kalian segitu kriminil-nya sampe saya gak percaya ato emang kita gak deket (atau, saya emang gak mau deket2, -_-;). sori loh, gak maksud kurang ajar. wahahah.
————————————
tenang pembaca, paragraf2 panjang itu baru prolog, mari masuk ke topik intinya
.
dari semua yang udah gue jelaskan dan sempet gue sepet dikit di judul, kalian tahu dong nama personality disorder yang saya derita?
CMIIW atau beritahu gue kalo ada julukan lain untuk masalah gue ini, tapi saya bisa dibilang seorang drama queen.
kalo dari penjelasan di wisegeek.com, drama queen adalah…
Someone with a demanding or overbearing personality who tends to overreact to seemingly minor incidents. Life’s little setbacks can trigger explosive emotional outbursts and other irrational behaviors. A drama queen often views the world in absolutes, and only has two settings on her emotional control button; zero and ten. Psychologists might describe a drama queen or king as a neurotic personality with histrionic tendencies, meaning they tend to become needlessly dramatic whenever order is disrupted.
gatau ya penderita drama queen yang lain gimana, tapi dunia saya akan tetap bagai ditutupi awan kelabu kalo sampe detik itu saya tetep keukeuh gak ngomongin atau mengungkapkan apa yang saya rasakan. mungkin ada komplikasi ekstrovertnya juga, mungkin emang jiwa pengen eksis berlebih, gatau, pokoknya dari sononya udah begitu. maaph.
————————————
(taken from http://images.jupiterimages.com)
Bertahun2 hidup dalam kondisi kejiwaan dilempar bolak-balik antara puncak Everest dan palung Mariana, sedikit2 gue mulai belajar gimana menyiasati biar kekurangan gue ini gak segitu mengganggu hidup dan hubungan gue dengan orang-orang di sekitar. Well, mungkin belum segitu expert-nya, tapi paling gak gue puas udah bisa mengenal diri sendiri lebih dalam setiap harinya, dan DENGAN SENANG HATI WALAU TANPA DIMINTA saya akan berbagi ^^; (wahahah)
First of all, kalau kalian punya temen yang kondisi kejiwaannya mirip saya (gak berani bilang saya begini cuman karena Drama Queen aja) dan kalian peduli pada mereka, biarkan mereka bercerita dan mengungkapkan apa yang mereka rasakan, seheboh dan se-berlebihan yang mereka inginkan. Percayalah, mereka cuma butuh tempat cerita aja, dengan lo mendengarkan tanpa berkomentar ‘ih lo berlebihan’, ‘apa sih lo’, ‘ya ampun gitu aja kok repot’, dan komentar2 gak-asik lainnya, kalian udah membantu mereka melenyapkan 60% dari kekhawatiran yang ada (100% kalo udah ngomong sama yang bersangkutan dan masalah menemukan solusi yang baik).
Kedua, simpen aja komentar2 gak cihuy macam yang sudah saya katakan di atas, kami tahu kami berlebihan, sumpah deh, gak perlu dikasihtau berulang2. Dengan kalian ngomentarin kayak gitu, itu baru aja nambah beban baru di kami. Beban baru berupa dilemma mau-cerita-tapi-entar-dibilang-berlebihan-tapi-gimana-kalo-gak-cerita-entar-gak- bisa-idup-tenang. Kalo gak mau denger ya bilang aja, hidup jadi lebih gampang toh.
Ketiga, pada dasarnya saya (atau harus bilang ‘kami’?) hidup bahagia dan ringan2 aja, tapi sekali ada trigger masalah, sekecil apapun itu, itu ngebuat perspektif saya akan hidup jadi negatif, dan pada akhirnya mulai berpikir macam2, yang jelek2. Makanya, kalo gak buruan diselesaikan saat itu, pikiran2 jelek makin bertambah, dan mood sayapun kian memburuk kian hari. Jadi jangan heran kalo untuk masalah sekecil debu, bisa bikin nangis kejer dan gak mau ngomong berhari-hari, itu tiada lain tiada bukan, karena ada masalah2 lain yang ikut ngintil, teman. mungkin bisa dibilang, kayak efek gunung es
.
Keempaat, Jadi, kalo lagi ada masalah sama orang drama queen, dan memang kalian peduli, sebisa mungkin, langsung selesaikan, jangan ditunda2. Apapun deh situasi saat itu, kecuali emang lagi di tengah bencana alam ato apa, luangkan waktu dan selesaikan. Paling gak, jelaskan sejelas2nya apa yang sedang kalian rasakan dan apa yang akan kalian lakukan, lebih baik lagi kalo kami diperbolehkan bertanya sepuasnya. Kalaupun penyelesainnya bukan sesuatu yang membahagiakan, itu jauh lebih baik daripada membiarkan kami berpikir macam2 sendirian. Salah-salah, kami bisa jadi benci, marah, frustrasi dan mengambil tindakan sepihak akan hal ini, tanpa tedeng aling-aling lagi
.
KELIMA, jangan pernah memikirkan kenapa kami berpikir segala hal (terutama yang negatif2) dalam porsi jumbo dan cenderung membuatnya menjadi bisul. itulah kami, dan percayalah kami gak bisa berpikir dengan cara lain selain begitu dan kami bahagia kok, beneran
. Akan lebih baik kalo kalian tanya kami, enaknya gimana
.
———————————————–
Terakhir, buat drama-queen-ers dimanapun kalian berada, gak bermaksud sok tau, tapi kalau ada yang paling gue takutkan for being drama queen adalah membuat orang2 sekitar gue benci dan terganggu akan kehadiran gue dan kekurangan gue ini, kalian begitu juga enggak?
. Makanya seringkali (kalo dari gue) kata2 maaf secara tidak sadar banyak keluar dalam percakapan sehari2. Rasanya pengen bilang : ‘udah lo semua jauhin gue ajaaa…!!! gue tau gue drama queen dan cukup gue aja yang menderita akan hal ituuuu….!!!!’ saking merasa begitu fragile dan nyusahin orang2 yang gue sayangin
. hehehe.
Most of the times, untuk kasus drama queen gue ini, gue berusaha untuk berpikir berulang2 dan sedalam mungkin tentang respon yang akan gue lakukan terhadap masalah2 kecil yang gue temui. Haruskah gue marah untuk hal ini? haruskah gue nangis? haruskah gue memikirkan ini di atas masalah2 gue yang lain? seberapa worth it ini masalah untuk bisa bikin gue pusing berhari2? bisakah gue selesaikan masalah ini dengan cepat dan simpel? adakah orang yang bisa memberikan masukan yang menenangkan gue mengenai masalah gue ini? adakah pelarian positif yang bisa buat gue lega? dan masih banyak lagi. Berpikir kritis dan bergerak cepat membantu gue untuk gak kayak foto tante2 drama queen di paling atas postingan ini (hahaha).
Cara di atas, kadang berhasil, kadang ya enggak. Pada akhirnya ya, cuma bisa bilang, beginilah saya, diterima alhamdullillah, gak bisa diterima ya mau gimana lagi
, paling gak saya gak pernah bermaksud jahat dan selalu berusaha kasih yang terbaik yang saya bisa, dan saya gak salah, gak ada yang salah, cuma gak cocok aja
.
Silakan bilang saya denial ato apapun, saya sempet menganggap diri saya begitu juga sebelumnya
, hanya saja, semua orang berusaha mencari selah untuk dealing with themselves, dan beginilah cara saya
.
LEGA DAN BAHAGIA DAN SEMOGA BISA BELAJAR, HOREHHH!!!!.
Kasih senyum ah sebagai penutup,

salah satu foto norak nih ^^, bonus tuh, wahahah.
nanti cerita2 lagi, orang2…
Mandhut si Drama Queen
.