Semingguan yang lalu, seorang sahabat lama saya akhirnya mengaku bahwa dirinya adalah Bi (gue sempet salah menyimpulkan dia Gay, tapi setelah diconfirm ulang, dia Bi.)

Bi (sama artinya ma binan gak si?) itu artinya biseks ya teman, means dia bisa mencintai baik pria maupun wanita. Sesama jenisnya, maupun lawan jenisnya.

Ayo… siapa yang baru baca ampe sini jantungnya udah kebat kebit? sana tiduran dulu sembari minum teh manis anget, jangan dipaksa, entar kalo brasa kuat boleh lanjut baca, kalo ga kuat yaudah, nonton gosip aja di tipi, gih.


Lanjut ye,

Kalo dibilang kaget
pas dikasitau ma dia soal hal ini, enggak juga, kenapa? Pertama, soalnya ini bukan pertama kalinya seorang teman mengaku ke saya berorientasi seks ‘berbeda’. Kedua, karena saya udah curiga dari kapan tau ini anak emang menuju ke arah sana.

Mungkin emang dasar saya beruntung menjadi orang straight yang dikaruniai gaydar (gay radar) yang lumayan terpercaya (btw, straight di sini = penyuka lawan jenis, dan memang hanya lawan jenis yang bisa saya sukai). Atau, emang dianya yang secara gk sengaja banyaaaak banget kasi hint soal hal ini dan saya emang lumayan peka (contoh hint2 : banyak bertanya pendapat gue soal hub. sesama jenis, memperlihatkan perilaku yang keliatan banget ‘lentik’nya dan sebagainya)

Udah sejak lama ini orang gak gue anggep cowok (maaph, entah kenapa saya cuma bisa menganggap ‘cowok’ pada cowok straight, tanpa bermaksud menyinggung ato apa, I just can’t), ketika pada akhirnya dia mengaku bahwa dia Bi :

Manda : "Joooooo (nama samaran) sori yaaa… tadi hape gue disilent, jadi gak denger pas lo nelpooon…!!"
Jo : "Gapapa kali, Man. Sante aja, gak gitu penting kok tadi."
Manda : "Pokoknya maaf ya, jangan anggep gue meninggalkan lo ya, jangan anggep gue sombong yaaa… maaf yaaa… gue tetep temen lo koook… gue sayang kok ma looo…." (mulai bersikap berlebihan, maaf, begitulah cara saya minta maaf : ngegombal)
Jo : "apaan sih. iyaaa… gapapa…. tetep anggep lo temen kok."
Manda : "Huuu.. terharu. terimakasih, Jo temankuuuu…!!" (cuh. gombal.)
Jo : "Wahahah. Ada2 aja lo, kalau gue bi lo masih mau temenan ma gue gak, Man?"
Manda : "Masihlah, lo salah satu temen baik gue gitu, kalo sampe gara2 itu doang terus gue pergi, gue bego dong."
Jo : "hehehehe…."
Manda : "Harusnya ngomong dari kapan tau kali, Jo."
Jo : "HWAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA……!!!!!!" (berteriak kenceng banget)
Jo : "Mandaaaaaaaaa…. banyak yang pengen gue ceritaiiiiiiinnn…….!!!!" (tampang mulai mewek)

Manda : "ya ya, sini cerita…"

Nampaknya saya telah mengatakan sesuatu yang tepat sasaran
(kalimat ini –> ‘harusnya ngomong dari kapan tau kali, Jo’), hehehe. Tadinya dia mungkin cuma mau ngomong sambil lalu, malah jadi ngaku beneran deh.
Dan kisahpun berlanjut dengan dia nyekokin saya pake McD dan Pizza Hut (kekenyangaan…. dasar! merusak diet aaahh!!! tapi makasih udah ditraktir!!) sembari cerita panjang lebar mengenai kisah perjalanan hidup dia selama ini dan betapa dia ragu buat ngomong ke gue karena takut dibenci, siapa cowok yang lagi dia taksir saat ini, semuuuaanyaaaa… sampe dini hari menjelang dan sayapun dianter pulang ke kosan.

Terus? sekarang gimana?


Well….

Saya gak bisa memungkiri kenyataan bahwa saya sempet shock saat harus menghadapi perubahan sikap Jo yang lumayan drastis. Yang tadinya cool2 ‘cowok’ gitu, sekarang jadi lumayan feminim, cenderung centil malah, lebih centil dari gue, wakakak.

Saya gak bisa memungkiri kenyataan bahwa saya sempet tersentuh saat Jo mengajak saya ke sebuah toko buku ternama dan menunjukkan beberapa buku yang berhubungan dengan penyimpangan seksual. Dari yang emang ‘naughty’ sampe yang  membahas dari pandangan agama, dia borong semua.

Saya gak bisa memungkiri kenyataan
bahwa saya sempet berasa tertipu saat tahu bahwa ‘mantan2 pacar’ yang dia ceritakan selama ini adalah cowok.

dan banyak lagi kenyataan yang membuat jidat ini sempat berkerut kebingungan. :D .

Tapi semua perasaan ganjil dan gusar yang saya rasakan itu hilang saat melihat untuk pertamakalinya Jo tersenyum dan bercerita dengan lepas pada saya. Senyum dan cerita yang tak pernah saya dapatkan dari seorang Jo sebelumnya.

Sekali lagi saya diingatkan, bahwa gak ada yang lebih menyenangkan daripada menjadi diri sendiri dan gak ada yang lebih membahagiakan daripada melihat orang yang disayangi bisa menjadi diri sendiri, ya gak Jo? hehehehe.

So,

Gue gak peduli apa pendapat orang lain mengenai hal ini. Yang gue tahu adalah, lo memilih jalan hidup lo dengan pertimbangan matang dan siap menerima semua resikonya. Dan gue juga tahu bahwa, lo adalah salah satu temen terbaik yang gue miliki, tempat gue berkeluh kesah dan menyandarkan diri saat gue membutuhkan dukungan.

Jadi kalau pernyataan bahwa ‘gue menerima lo apa adanya sebagai sahabat’ sudah cukup untuk membuat lo tenang dan lebih kuat untuk menghadapi tiap detik perjalanan lo ke depannya,

Gue akan dengan senang hati
memberikannya, bahkan tanpa lo minta :D .

Malah bagus, sekarang bisa hunting cowok bareng lo. wakakak.

 


Your (straight) bestfriend,

Mandhut.