Ada seorang gadis kecil, Ara namanya. Dia hidup bersama kedua orangtuanya.
Suatu hari, Ara merayakan ulang tahunnya yang ke-8. Keluarganya-pun mengadakan pesta ulang tahun kecil2an untuk Ara. Beberapa sanak saudara dan tetangga diundang untuk ikut mendoakan kesejahteraan Ara.
Hari itu, untuk pertama kalinya ayah Ara memberikan kado di hari ulang tahun Ara. Ara sungguh tidak menyangka akan mendapatkan kado dari ayah-nya, karena itu Ara senang sekali. Kadonya berupa sebuah jam tangan Mickey Mouse berwarna hijau tua. Kado terbaik yang Ara terima dibanding kado-kado lainnya.
Sejak hari itu, Ara selalu memakai jam tangan Mickey Mouse hijau tua itu ke sekolah.
————————————-
Suatu ketika, ayah dan ibu Ara bertengkar hebat. Kalau sedang begini, Ara memilih untuk mengunci pintu kamar lalu meringkuk di kasur sambil mendengarkan sayup-sayup teriakan dan makian yang tak henti-hentinya. Ara tidak menangis, hanya diam, sambil menunggu kantuk datang dan membawanya pergi ke dunia mimpi.
Esoknya, Ara mengetahui kalau ayahnya pergi meninggalkan rumah. Ara tidak terkejut. Karena ini bukan yang pertama kalinya. Kapan itu, ayah Ara pernah pergi selama 2 minggu tanpa kabar. Kali terakhir, ayah Ara pergi selama 1 bulan juga tanpa kabar. Saat itu Ara tidak khawatir, yang Ara khawatirkan justru adalah ibunya, yang dalam kondisi begini pasti menjadi sangat emosional dan cenderung untuk mendamprat seluruh penghuni rumah. Ara tahu bahwa dia harus menjaga sikapnya lebih hati-hati lagi supaya ibunya tidak memarahinya, setidaknya sampai ayah kembali.
Hari demi hari berlalu, ayah Ara tak kunjung pulang juga. Sudah 1 bulan lebih, tetap saja ayah Ara tak memberi kabar. Ara mulai bertanya-tanya di dalam benaknya sendiri, kemana ayahnya pergi? apa dia baik-baik saja?. Tapi Ara tak berAra bertanya pada siapa-siapa, apalagi pada ibunya, Ara bisa dimarahi habis-habisan seperti waktu itu. Ara hanya bisa mengobati kerinduan dengan memandangi jam tangan hadiah dari ayahnya saja.
————————————-
Suatu hari, Ibu Ara memergoki Ara sedang terdiam sendirian di kamarnya. Ibu Ara segera masuk dan bertanya, apa yang Ara pikirkan. Ara berkata, dia tidak memikirkan apa-apa hanya bengong-bengong saja. Tapi Ibu Ara tidak percaya dan terus mencecarnya dengan pertanyaan seputar apakah Ara memikirkan ayahnya. Tadinya Ara masih berkilah, tapi karena Ibunya terus memojokkannya, akhirnya Ara berkata jujur bahwa Ara ingin ayahnya pulang.
Seketika, Ibu Ara mengamuk dan memarahinya. Ara tidak mengerti kenapa Ibunya marah, tapi Ara biasa menghadapi hal seperti ini, jadi Ara hanya diam saja, mendengarkan omelan-omelan ibunya. Ibunya merasa Ara tidak adil kepada kedua orangtuanya. Padahal ibunya yang membiayai keluarga, yang jauh lebih berusaha, tapi Ara selalu lebih menyayangi ayahnya. Sekeras apapun Ara berusaha menjelaskan bahwa dia menyayangi kedua orangtuanya sama besar, Ibunya tak pernah mau terima, jadi yasudah, Ara memutuskan untuk diam saja, mungkin ibunya cuma butuh melampiaskan amarah.
Namun, di sela-sela omelan tersebut, tiba-tiba Ibu Ara mengatakan bahwa jam tangan Mickey Mouse hijau tua itu bukan dari ayahnya, tapi ibunya-lah yang membelikan. Ibunya sengaja membungkus jam tangan itu dan meminta ayah Ara untuk memberikannya pada Ara sebagai kado ulang tahun, supaya Ara senang. Karena ibunya tahu sebelumnya ayah Ara tak pernah mau bersusah-susah membelikan Ara kado.
Ara terkesiap. Tak bisa berkata apa-apa. Hanya terus mendengarkan ibunya sampai wanita itu merasa puas dan bergegas keluar dari kamar Ara.
————————————-
Sejak hari itu, Ara tak pernah memakai jam tangan Mickey Mouse hijau tua itu lagi. Setelah ayahnya kembali pulang ke rumahpun, Ara tidak bertanya apa-apa soal jam tangan itu.
Ara tetap mengatakan bahwa dia menyayangi kedua orangtuanya sama besar meskipun berkali-kali Ibunya menuduhnya lebih menyayangi ayahnya.
Ara tetap mengunci kamar saat kedua orangtuanya bertengkar.
Ayah Ara tetap seenaknya pergi dan pulang.
Suatu waktu Ara menyadari bahwa jam tangan itu hilang entah kemana dan Arapun tak merasa kehilangan.
Dan sejak hari itu, Ara tak pernah menjaga barang pemberian dari ayah maupun ibunya.
- THE END -
Tak usah repot-repot menebak-nebak ini cerita true story atau bukan, siapa si Ara sebenarnya, dan lain-lain, karena itu tak penting
. hahahaha…
Yang terpenting adalah makna ceritanya, karena setiap orang mungkin menangkap makna yang berbeda.
Buat saya, tidak ada yang benar dan salah dalam hal ini. Hanya saja, mungkin seandainya Ara boleh memilih, dia lebih baik tidak mengetahui asal usul jam tangan itu.
Ada beberapa hal yang sebaiknya tetap menjadi rahasia, bukan? =)
Hati-hatilah dengan ucapan dan tindakan kalian, pembaca. Sesuatu yang kita anggap sepele bisa saja merupakan hal yang sangat penting untuk orang lain. Contohnya dalam kisah Ara ini, ungkapan kasih sayang dan rahasia yang sebaiknya tetap tersimpan rapi di tempatnya.
Manda.




*sniffs*
memang, ada kalanya diam adalah emas. tp aku sedih bacanya..kasian Ara.
Comment by Fanny — November 18, 2007 @ 1:33 pm
Wiiiih… Berisi banget, dan bukan mengenai hal-hal mesum lagi
Comment by Zakka Fauzan Muhammad — November 18, 2007 @ 3:29 pm
*hiks.. *
yap, berhati-hatilah dalam menjaga rahasia rumah tangga. persoalan sepele (memberitahukan bahwa hadiah tersebut bukan dari ayah ara) seperti itu bisa mengubah karakter orang (Ara).
sebenci-bencinya seorang istri terhadap suaminya (karena pertengkaran tsb). seharusnya tidak membunuh karakter ‘ayah’ apalagi kepada ara yang belum dewasa. ibu ara salah karena tidak menjalankan peran ibu.
tidak selamanya dengan mengatakan kebenaran seperti itu ara akan memihak ibunya. bahkan mungkin ketika dewasa nanti ara malah meninggalkan ibunya karena menurut ara ibunya salah dengan mengatakan hal tsb.
Comment by pebbie — November 19, 2007 @ 4:20 am
seeep… gw pikir juga mendingan dirahasia in ajalah.
ga perlu jd merasa lebih berjasa stlh ngebuka rahasia
Comment by novee — February 6, 2008 @ 6:42 pm