Barusan saya chatting sama temen SMP yang sekarang kuliah di Jakarta. Dari cuma sekedar tanya2 kabar, lama2 jadi ngegosip macem2 deh. Awalnya cuma gosip ngalor-ngidul, tiba2, topik pembicaraan kami berbelok ke oknum M, cewek temen satu SMP kami juga.
Si M ini, anak yang supel, terhitung sebagai anak gaul di SMP kami. Menjadi anggota di salah satu geng cewek terkemuka, bertingkah mengikuti trend anak muda saat itu (kaos kaki putih selutut, lengan junkies, obrolan yang selalu diikuti kata ‘jayus’ dan ’sumpe-lo?-sumpe-de!’ dsb…), pokoknya menjalani hidup layaknya gadis SMP pada umumnya.
Entah kabar itu datang darimana, si M diberitakan hamil di luar nikah dengan pria yang berumur jauh di atasnya dan sudah beristri (yap, beristri.). Untungnya, pria itu mau bertanggung jawab dan menikahi M dengan segera.
Topik si M ini memang selalu jadi pembicaraan hangat kalau lagi reuni SMP. Yang dibicarakan juga bukan yang jahat2 macam menertawakan nasib M, tapi sekedar bertanya2 aja "si M sekarang kerja dimana ya?", "anaknya udah umur berapa ya?" dan masih banyak lagi.
Yang jelas, kabar terbaru mengatakan, M hidup sederhana dengan suami dan anak perempuan-nya. Dan sekarang bekerja sebagai SPG di salah satu supermarket di Jakarta (suami M berpenghasilan rendah, jadi M juga harus ikut membanting tulang membantu ekonomi keluarganya).
—————————–
Yang dialami M hanyalah salah satu kisah dari banyak kumpulan cerita kehamilan di luar nikah lainnya.
Buat saya, ini bukan hal yang baru lagi. Temen saya si M, salah seorang kerabat dekat, anak perempuan tetangga, sahabat dekat kakak saya, anak teman ibu saya, banyak sekali yang mengalami nasib yang hampir sama dengan M. Ada yang berakhir bahagia (menikah, menjalani hidup seperti biasa), ada juga yang berakhir menyedihkan (putus sekolah, terpaksa membesarkan anak sendirian karena si pacar kabur dari tanggung jawab, membuat malu keluarga).
Kalau melihat berita2 di media, kisah2nya lebih bervariasi lagi. Ada yang meninggal karena aborsi, ada yang memilih untuk kabur dari rumah, ada yang berusaha menyembunyikan kehamilan mati2an tapi akhirnya ketahuan, ada juga yang memilih melahirkan diam2 lalu membunuh anak kandungnya sendiri karena takut dengan pandangan orang, dan masih banyak lagi.
Perasaan saya aja ato memang benar, kok ya kian hari kasus macam ini kian banyak ya?
.
—————————–
Kasus macam ini terbukti dapat merusak masa depan, terutama untuk pihak perempuan-nya (cowok bisa kabur dari masalah ini, cewek enggak segampang itu. gimana coba caranya kabur? wong masalahnya nangkring di rahim, dibawa kemana2). Saking merugikannya, masyarakat-pun mulai bergembar-gembor memperingati generasi muda mengenai ‘pencegahan’ dengan berbagai cara, dari mulai sudut pandang agama, moral bangsa timur, pandangan yang sudah berkompromi dengan budaya barat (’gunakan kondom saat berhubungan’) dan masih banyak lagi.
Disini, saya gak kepengen ngomongin lagi soal ‘pencegahan’, saya mau ngomongin tentang bagaimana ‘menindak lanjuti kalau kehamilan itu sudah terlanjur terjadi’. Soalnya, menurut saya, yang terakhir ini punya prioritas lebih tinggi. Kenapa saya bilang lebih tinggi? karena saat itulah manusia dalam keadaan panik luar biasa dan kehilangan akal sehat. Yang terakhir ini yang justru bisa mengantar pada tindakan gegabah yang berakhir kematian atau penjara (aborsi, pembunuhan). Yang terakhir ini yang merupakan titik penentuan apakah masa depan korban akan hancur atau tetap gemilang. Yang terakhir ini pantas diperhatikan dan didengar oleh yang tidak maupun terlanjur hamil di usia muda. Baik oleh perempuan, maupun laki-laki.
Saya belum pernah mengalami kehamilan di usia muda (dan mari berdoa semoga saya cukup baik mengendalikan diri sendiri dalam hal ini), namun saya pernah berpikir bagaimana seandainya hal itu terjadi pada saya. Bukannya ngarepin yang jelek2, tapi saya yakin kalau yang namanya manusia itu banyak khilafnya, jadi apa salahnya mempersiapkan diri untuk semua kemungkinan. Punya pikiran macam "itu gak akan terjadi sama saya, amit2 deh" dan menolak berpikir lebih jauh, bisa jadi senjata makan tuan. Selagi masih bisa berpikir sehat, gak ada salahnya mencoba untuk memikirkan hidup lebih dalam lagi.
Pokoknya kalau sampai hal itu terjadi sama saya, saya :
1. Akan bicara dengan keluarga dan oknum yang menghamili sejak awal kehamilan.
Nyimpen2 masalah kayak gini sendirian, ngumpet2 dari orang lain, cuma bikin sakit jiwa. Si pelaku jelas harus dikasitau, apapun kondisinya, enak aja saya gelagapan, situ ongkang2 kaki. Tapi saya gak akan memberitahu terlebih dahulu keluarga yang dirasa riskan secara emosional (contohnya sedang sakit parah, sedang menghadapi ujian, memang tipe panikan), saya akan cari anggota keluarga yang cukup dewasa dan reliable untuk saat itu. Setidaknya saya sudah memberitahu seseorang tentang hal ini, jadi mereka bisa memberi masukan pada saya dan mengingatkan saya kalau mulai agak2 lepas kendali.
2. Gak akan menggugurkan kehamilan, apapun yang terjadi.
Saya yang berbuat, saya yang tanggung jawab dan terima resikonya. Biarpun saya yang mengandung, saya gak berhak nentuin hidup mati anak saya. Aborsi itu kayak lempar batu sembunyi tangan, dan itu perbuatan paling nyebelin yang pernah ada. Mau ditabokin kek, mau dijambakin, mau dihina, mau diusir, mau ditinggalin, mau diapain aja, terserah, tapi anak ini tetep harus lahir.
Ada yang bilang, ‘buat apa dilahirkan kalau nantinya bakal ditelantarkan?’, ‘buat apa dilahirkan kalau nantinya dia bakal menderita?’. Sekarang saya balik, gimana kalau ternyata, setelah saya lahirkan , nasib berkata lain, anak ini ternyata ‘bisa menerima kenyataan dan hidup bahagia?’, ‘bisa berguna buat orang2 di sekitarnya kelak?’. Emangnya anak yang lahir bukan dari hasil kehamilan di luar nikah, pasti bahagia? gak juga kali.
Nasib manusia itu adalah sesuatu yang berada di luar kuasa kita. Yang udah pasti kita tahu, adalah, aborsi yang dilakukan tanpa pertimbangan medis yang jelas (misalnya, kesehatan ibu yang mengandung, kondisi janin) itu sama aja kayak membunuh, jadi itu bukan pilihan.
3. Memastikan kalau anak gue akan dirawat dan dididik dengan benar.
Kalau gue belum bisa (masih sekolah, belum ada penghasilan), gue akan minta bantuan pada orang yang gue percaya (teman, tante, sepupu, siapapun) untuk merawatnya. Bukannya full lepas tangan, tetep bakal gue pantau dengan rutin, sembari cepet2 nyelesein studi, jadi bisa cepet menghasilkan uang buat mbiayain anak sendiri dan gak ngerepotin orang lagi.
Kalau gue bisa (udah lulus, udah ada penghasilan), ya langsung gue rawat dengan tangan gue sendiri. hehe.
4. Kalau memang keluarga menuntut gue dinikahi.
Kalau si oknum-penyebab-kehamilan mau menikahi, ya terimakasih, alhamdullillah, masalahnya gak nambah panjang.
Kalau gue dinikahin dengan sukarelawan (yang entah keluarga gue dapet darimana) untuk sekedar menjaga dari omongan orang karena si pelaku asli gak mau tanggung jawab, yasudah, terimakasih. Meski mungkin saya gak cinta, tapi ini bukan saatnya bertindak egois dan sok2 melodramatis. Udah bagus anak gue tetep bisa lahir dengan kehadiran seorang bapak (meskipun bukan bapak kandung), yang penting anak gue dan keluarga dulu, baru urusan lainnya.
Tapi kalau enggak ada yang mau, yasudah, life must go on. Gak ada jalan lain selain menghadapi dengan berani. Single parent-pun takapa! masih ada sahabat dan keluarga yang bisa membantu gue.
5. Akan tetap berusaha berpikir positif.
Pernah berbuat khilaf bukan berarti kesempatan untuk berkarya langsung hilang begitu saja. Memang benar, hidup saya sudah berbeda dari anak lainnya. Sudah ada anak yang harus dipikirkan di saat seharusnya saya masih bermanja2 pada orang tua.
Tapi, pisau aja bertambah tajam kalau banyak diasah, kan? gak pake menyesal atau malu, justru harusnya bangga bisa survive dari cobaan
. Bahkan sekarang bisa berbagi dengan orang2 lain tentang hal ini, kita bisa jauh lebih berguna untuk manusia lainnya.
Sebenernya ya bok, kalo mau diterusin, bisa lebih panjang dari ini. Masih banyak jawaban dari pertanyaan macam "gimana kalau anak gue membenci gue karena hal ini?", "gimana kalau gue ternyata gak siap jadi ibu?" dsb. Tapi sementara ini dulu deh, semoga bisa jadi bahan renungan bersama. amin. hehe.
Penting banget ya ini postingan. besok hari senin ya? met beraktivitas, orang2!.
Mandhut.




Amankan posisi Pertamaxx dulu!!
Comment by Paijo — November 11, 2007 @ 9:42 am
he…siapa sih si M??? kakak kelas ku juga dong berarti…mandaaaa..siapaa??? penasarannn….
Comment by Fanny — November 11, 2007 @ 1:24 pm
kedua kah?
mangkanya… jauhi free sex lah, kalo kepepet BAYAR AJA, yg penting jgn free sex. heheheee…
eits, btw, manda hamil? makan2 donk kitah?
Comment by roberto — November 11, 2007 @ 1:41 pm
arrgghhh… ketiga ternyata!
Comment by roberto — November 11, 2007 @ 1:41 pm
Hmmm… tapi ada yg bilang juga kalo cewe ngelahirin anak di luar nikah, malah haram utk menikah kemudian dgn cowonya yg ngehamilinnya itu. Bener gak sih??? Weeew… kalo emang bener, harus siap jadi single parent yah.
Comment by diBond — November 11, 2007 @ 2:17 pm
Roberto postingannya gak penting…
BTW, ada satu hal yang harus dilakuin… Namanya TOBAT! Ada TOBAT Nyamuk, TOBAT Batuk, de el el…
Oya, saya sangat setuju kalo anaknya harus dilahirkan, karena aborsi = pembunuhan… Saya pernah baca dimana gitu, kalo dengan proses aborsi tuh, si bayi tuh sangat tersiksa, luar biasa tersiksa… Bayangkan kamu dibakar dengan api yang gak begitu panas, siksaan terus menerus tapi gak mati-mati… Kurang lebih kaya gitu…
Comment by Zakka Fauzan Muhammad — November 11, 2007 @ 2:28 pm
Nambahin yang mbak DiBond: bukan haram seingetku, tapi harus dipisahkan (means gak ada komunikasi antar keduanya) selama satu ato dua bulan gitu… Kalo dinikahin, kayanya boleh setelah masa itu terlewati
Comment by Zakka Fauzan Muhammad — November 11, 2007 @ 2:29 pm
Oya, nambahin ke-2
Judulnya menurut saya kurang sesuai, toh ada juga kok orang yang hamil di usia muda dengan cara yang benar (benar menurut hukum, benar menurut ajaran agama), tapi terserah mbak aja deh
Comment by Zakka Fauzan Muhammad — November 11, 2007 @ 2:30 pm
haram dinikahi? yang saya tau secara islam, wanita yang sedang hamil tidak boleh menikah, alias tidak sah nikahnya… tapi kan kalo gini kasusnya, yg penting kan formalitas untuk opini publik… ntar kalo udah lahir, baru ijab kabul secara sah…
oknum M… Manda?
salam kenal yah.!
Comment by Adham Somantrie — November 12, 2007 @ 2:08 am
waaaa manda…udah siaga nih, hehehehe…
Comment by siska — November 12, 2007 @ 4:45 am
dah jauh di bawah ternyata….
Comment by Petra Novandi — November 12, 2007 @ 11:13 am
walah, siaga pisan…
mudah2an jangan kejadian ya man…
buat lo dan buat semua para gadis2…
mari kita gunakan terus akal sehat!!!!
Comment by dinda — November 12, 2007 @ 4:23 pm
Wah Man, keren neh postingan lo!
Lebih baik dipikirkan sekarang emang, dr pd ntar2…
Kalo (”kalo” loh ya…) aja beneran terjadi, ga bingung2 lg harus gimana!
Tinggal aja postingan lo yg ini! Hqhqhq… xD
*uhmmmm… kalo gw, bakal gimana yah?*
Nyontek aja boleh ga, Man?
Comment by Juminten — November 13, 2007 @ 4:49 am
sangat prihating kalo lihat berita seperti itu…
sebenarnya kasihan… tapi…
Comment by aji putra — November 13, 2007 @ 10:47 am
quickie express kan? yg salah satu tempat syuting filmnya di deket (ga deket2 amat jg sih) tempat kosku waktu kp di jakarta, hehehee… mulai menghentak di bioskop2 terdekat tanggal 22 november ini. be there!
Comment by roberto — November 13, 2007 @ 4:29 pm
ahh.. itu karena telat ngangkat ajah kalo istilah gue mah.. :p
Lamkenal balik
Comment by leksa — November 14, 2007 @ 9:44 am
2 minggu yg lalu aku jg dapet kabar…temen ku sma dulu juga MBA..jgn2 orang yg sama lagih
Comment by icha — November 15, 2007 @ 5:24 pm
seeep
Comment by Fake_tan — November 19, 2007 @ 5:13 am
Wah, bagus nih beberapa pandangannya…
Bener tuh…
Hidup ini gak kayak sikring korslet….
Sekali korslet bukan berarti selamanya korslet…
Kita dikasih kesempatan untuk memperbaikinya seumur hidup kita….
Jadi inget, dulu ada bule masuk islam….
Aye lupa namanya sapa…
Langsung dibawa ama keluarga aye ketemu ama ustadz….
Dsiitu diterangin tentang zina dan azabnya…
Pulang-pulang nangis dan setres…
Welee~
Kadang ustadz sadis juga seh kalo ngomong kagak ngerti perasaan orang…
Gak berarti sekali seseorang itu hina dia bakal selamanya hina…..
Mengenai kasus aborsi…
Di jepang sendiri aborsi menjadi sesuatu yang lumrah…
Nowadays ABG di jepang paling gak pernah satu kali masuk kursi aborsi…
Selama ada izin dari orang tua tiket aborsi ada di tangan…
Salah masyarakat sendiri juga sih pake menggunjing….
Kalo gak menggunjing kan gak ada aborsi…
Coba adem adem aja…
PS:
Justru gue lagi kesel ama yang kena AIDS terus bilang
“ini memang jalan tuhan”
“dikasih jalannya begini”
Sompret….
Puih,
Udah kepepet baru ngomong tuhan….
Mbok yah bilang,
“ini memang kesalahan saya sendiri and i am taking responsible of it”
PS2:
Man….
Gak mungkin lah lo hamil di usia muda….
Lah wong umur mu udah gak terbilang muda toh???
Comment by Zhar Aditya — November 19, 2007 @ 7:29 pm
“Pernah berbuat khilaf bukan berarti kesempatan untuk berkarya langsung hilang begitu saja.”
Gwe tertarik sama kalimat di atas man!Karena manusia tempatnya salah, tapi manusia diberi akal untuk memperkecil dan menanggulangi kesalahan yang ada. So..klo ga jatuh ga akan pernah hati”,rite? Karna uda ngerasain jatuh, jalanannya hati” biar ga jatuh lagi. Paling tidak memperkecil kemungkinan jatuh lagi. For second chance?semua orang berhak dapat, Yang Maha Pemurah ga akan menutup pintu maaf sampai nafas kita ada di kerongkongan.
Panjang aja comment gwe yaa!
hehehe..
Comment by adhini — November 25, 2007 @ 4:50 am
well klo sekedar persiapan sih kita bisa ngomong macem2 dan planning sesuka hati, tapi begitu beneran kejadian ternyata ga segampang itu. sy yakin yg ngalamin jg pasti pernah kepikiran buat ngomong, buat cerita ke orang lain karena berat untuk menyimpan hal sebesar itu sendirian. cuma ya pada akhirnya mereka diam. because it’s easier said than done.
Comment by arhcamt — November 27, 2007 @ 5:39 am
heiyya manda…is totally happen in my life gal. what do I say now? being parent at 21 yrsOld…everything is unforgetable memories. in every single day when I knew I was pregnant my life was totally change. everything is not the same. everything is about dealling with responsibility and responsibility, we must prepare ourselves being double packets. double meals (lol), double spirits, double energies, double strenghts, everything is all for ur baby.
now matter how difficult it is
now matter it will kill me
now matter everyone will hate me
I’ll do everything for him
he’s the best thing I ever had
he’s the more than who I am
his breathes is my life
his smiles is my happiness
his cries is my sorrow
his kiss is my prize
his hugs is my peacefullness
I feel that god is blessing me everyday.
Comment by anis — January 24, 2008 @ 7:04 am
aduh aku kejadian nie, bingung aku sie syap aja tanggung jawab tapi ce nya kan skul hikzzzzz…. pnya solusi?
Comment by pLuTo — October 28, 2008 @ 6:11 pm
gw cow umur gw 21 taon gw baru nikah karna MBA,gw mo cerita dikit tentang kehidupan gw,tanpa ada niat apapun selain buat ngasih support buat orang2 diluar sana yang nasibnya sama ama gw,mungkin gw gila tapi begitu gw tau pacar gw hamil yang ada di pikiran gw bukanya lari,atau takut masa depan gw ilang,yang ada di benak gw pada saat itu adalah gw akan punya anak dan jadi bapak,well emang beban buat ngomong jujur sama ortu kita tapi lebih jadi beban lagi kalo kita aborsi anak kita,akhirnya kita(gw + istri) memberanikan diri buat ngomong sama ortu kita,awalnya mereka shock,marah,kecewa bahkan nangis,tapi mau gimana lagi gw gak mungkin ngebiarin kandungan pacar gw tambah besar dan diliat banyak orang tanpa stasus pernikahan yang jelas,tapi gw yakin dan akhirnya dikasih jalan ma Tuhan rupanya ortu kita juga punya hati mereka gak akan ngebiarin anaknya menderita atau membunuh cucunya demi nama gengsi, akhirnya kita di kasih restu+di modalin buat menikah,pada masa kehamilan 2 bulan kita menikah,istri gw ambil cuti kuliah dan gw kerja sambil kuliah sembari nabung buat anak dan kuliah istri gw ntar,dari sini gw harap lu pada bisa ambil hikmah nya selalu akan ada jalan kalo lu mau jujur,dan bertanggung jawab,demi Diri lu sendiri dan orang lain,Tuhan itu Maha adil dia gak akan ngebiarin umatnya menderita,hadapin aja semua nya dengan keikhlasan,simplenya gini, lu pilih mana?, jadi pembunuh,dihantui dosa seumur hidup dan masuk neraka atau menikah dan membangun kehidupan lo yang indah……mungkin ni bisa jadi contoh buat cow2 buat lebih bertanggung jawab ma cew nya,di dunia ini gak ada yang sulit kalo lo mau ikhlas dan jujur sama diri lu sendiri & orang lain,gw jamin cinta bisa ngasih kekuatan untuk hidup kta jadi lebih hidup,lu gak sendirian lu masih punya Tuhan yang sayang ma lu. THX
Comment by adi zulkarnain — February 6, 2009 @ 8:11 am