.
Thoughts, Sehari-hari, Konyol, Autis, CuriousNovember 28, 2007 8:08 am

Berhubung gak ada yang bisa menanggapi dengan memuaskan, coba saya pajang di blog :

Kalian tahu gak sih iklan
Kipas Angin Wadest*? itu loh iklan yang mbak2nya bergaya futuristik, tapi begitu nyanyi, suaranya medok abis ("kipas angin merk WA-DESH-T*, nempel di dindiiing… nempel di mejaaa….. nem-pel di lantaaaaiii….." jijay berat).

Nah begitu ngeliat iklan norak ini, gue menyadari sesuatu, kenapa ya orang2 kadang menyebut ‘kipas angin’ untuk kipas yang menggunakan listrik (biasa disebut ‘fan’ juga), tapi kalo untuk kipas2 manual yang kayak kipas tukang sate ato kipas ibu2 arisan, mereka cuma menyebutnya dengan ‘kipas’ doang, padahal kan dua-duanya sama2 menghasilkan angin???

bener2 lagi asik mengajukan pertanyaan semacam itu ke orang2 (semacam itu, means bukan cuma soal kipas doang). wakakakk…

duh, periode gak penting ini berlangsung lebih lama dari biasanya, hahahaha…..

Manda.
Thoughts, Friends, Sehari-hariNovember 19, 2007 2:36 am

Akh akh akh. daritadi gue terngakak-ngakak (padahal lagi sariawan gede banget) nonton Akhirnya Datang Juga yang di TransTV. bukan promosi nih ya. tapi episode yang 18 November 07 lagi bener2 lucu. ahahahaahahahaaa…. aduh pengen nonton langsung di studio trans-nya. ahahahaha…. begoooo…. dodoooll…. stupiiiiiiddd… ahahahahahaaa…..

sudah, sudah, mari lanjut ke postingan inti.

Beberapa waktu yang lalu, sobat-gosip saya bercerita tentang kelakuan seorang cewek, sebut saja namanya Nana. Jadi, ceritanya, si Nana ini terkenal sebagai cewek yang perangainya agak2 mengganggu. Suatu hari, dia bertengkar dengan Dono temannya (sobat gosip saya temenan sama Dono, makanya dapet cerita ini), karena masalah gak penting yang dibesar2kan oleh si Nana sendiri (lo gak akan mau tau apa masalahnya). Setelah lama tak memberi kabar satu sama lain (si Dono udah gak ngegubris), tahu2 si Nana mengsms Dono, berisi kurang lebih seperti ini :

"Don, gue boleh ngomong sesuatu gak? udah gak ada waktu lagi nih. Nana."

Smsnya agak2 dramatis gitu deh. Secara si Nana emang udah terkenal agak2 melebih2kan, si Dono ya nanggepinnya biasa aja, gak terlalu excited. Akhirnya setelah si Dono memperbolehkan Nana bercerita, si Nana bilang dia sakit jantung, klep jantungnya udah lemah banget, hidupnya tinggal sebentar lagi.

Mendengar hal kayak gini dari mulut Nana, si Dono agak2 gak percaya, soalnya si Nana ini sebelumnya pernah juga ngasitau Dono tentang sesuatu, tapi belakangan baru ketahuan kalo si Nana ini bohong. Dan ini gak terjadi cuma sekali.

Tapi kalo beneran gimana? sebagai temen, Dono kan was2 juga. Akhirnya Dono ngeladenin smsnya, ditanyalah si Nana kenapa baru ngomong sekarang, udah berobat apa belum, apa kata dokter soal penyakit jantung Nana, sampai akhirnya si Dono nanya rincian obat yang dikonsumsi sama Nana sekarang. Nana menyebut sebuah nama obat, yang setelah di cek-en-ricek sama Dono dengan temennya yang tahu soal obat2an (kuliah di jurusan yang berkaitan dengan itu), ketahuanlah bahwa itu bukan obat jantung, tapi obat maag.

…………..

Nana bohong lagi untuk kesekian kalinya.

————————————–

Pokoknya kurang lebih ceritanya begitu deh ya, moga2 gak ada yang dilebih2kan. Abis denger cerita ini, tadinya sebel dan mencaci maki, tapi lama-lama kok agak kasihan juga. Masalahnya, bohongnya itu kayak bohong-pasrah. Bohong yang gak dipikirin baik2, gak pake logika. Bohong yang udah jelas2 banget bercelah. Masa sih dia gak kepikiran untuk ngecek nama2 obat jantung di internet ato nanya2 temennya yang anak farmasi ato gimana, kalo emang pengen ngibul bahwa dia sakit jantung? gak kepikiran kalo mungkin si Dono meminum obat yang sama, bukan buat jantung, tapi buat lambung? kalo emang kepengen baikan, ya bilang aja terus terang, ngapain juga pake bohong kayak gitu yang jelas2 bikin orang tambah ilfeel (ilang feeling)?

Menurut cerita teman saya, Nana gak sebego itu, jadi yang kepikiran di benak saya, bohongnya Nana itu karena penyakit. Kalau gak salah pernah denger, namanya Mythomania, penyakit bohong untuk mendapatkan perhatian orang lain. Pernah di-review juga di salah satu acara talkshow Oprah Winfrey kapan itu.

————————————–

Temen sekolah saya dulu juga ada yang gitu, 2 mingguan gak masuk sekolah, ngesms salah seorang temen sekelas, berisi pengakuan bahwa dia menderita leukimia (kanker sel darah putih), umurnya udah tinggal diitung pake jari, lalu ditutup pake kalimat ‘jangan bilang siapa2 ya’. Gila lo ya. Jelaslah masalah kayak gini cuma guru2, ibu kantin dan penjaga sekolah aja yang dianggap ’siapa2′.

Gosip-pun perlahan mulai menyebar, beberapa teman dekatnya udah mulai panikwati, niat jenguk dan macem2. Tau2nya suatu hari dia kembali beraktivitas aja gitu di sekolah. Berjalan sambil tersenyum menyebarkan aura ‘mari bermain dan belajar’ dengan asiknya. Kalo ditanyain soal Leukimia itu, dia ngeles, pura2 lupa ato apa, begitu ditanyain ke orang tuanya (berasa harus di-investigasi lebih lanjut), orang tuanya ngaku gak tahu apa2 soal anaknya kena Leukimia.

Kejadian ini gak sekali doang, dia juga pernah ngaku rumahnya banyak, di Serpong lah, di Sentul juga ada, dimana2 pokoknya. Padahal ada temen yang rumahnya satu komplek sama dia dan udah satu sekolah ma dia dari jaman SD, dan tahu banget kalo keluarga dia gak sekaliber itu.

Gak mau suudzon (berpikir jelek tentang orang lain) juga c, siapa tahu dia beneran kena leukimia waktu itu dan ilang gitu aja waktu mandi (penyakitnya luntur terbawa air), siapa tau juga dia anak Bill Gates yang diberikan identitas dan wajah baru (supaya gak mirip Bill Gates) untuk menyelamatkannya dari serangan teroris ato apa, makanya bisa beli rumah banyak2, cuma dirahasiakan ke tetangga2 (cuma kadang gatel aja, pengen pamer harta, kasi hint dikit2 deh ke temen2 sekolah). Sebanyak apapun berusaha berpikir postitif tentang orang ini, tetep aja, berasa dikibulin gak enak, bikin gondog.

Kembali, satu2nya penjelasan mengapa temen saya begitu sering berbohong dengan banyak celah dan begitu ketahuan bohong dianya tenang2 aja adalah karena penyakit,

————————————–

Soal Nana, saya cuma menyuruh sobat-gosip saya untuk menyarankan pada Dono membawa Nana ke psikiater terdekat atau mengatakan hal ini ke orang tua Nana (gatau deh udah disampein apa belum). Sebelum semuanya menjadi jauh lebih buruk lagi. Nampak Nana ada masalah berat sampai2 gak bisa berpiikir jernih lagi dan mulai berlaku aneh2. Doakan aja dia bener2 membaik, semoga temen sekolah saya itu juga.

Memang sih, bohong itu kadang perlu, untuk beberapa masalah, bohong demi kebaikan sejuta umat memang harus dilakukan. Tapi kalo bohong untuk sekedar cari perhatian orang2, itu udah masuk kategori gak normal. Percaya deh, cepat atau lambat, efeknya bakal kebalikan dari yang diinginkan. Kalo udah gitu, bakal susah dapet kepercayaan dari orang2 lagi. Bahkan, kemungkinan besar si pembohong akan kehilangan orang2 yang tadinya bener2 care soal keadaan si pembohong.

Manda.

PS : kalau pengen tau lebih jauh lagi, bisa search dengan keyword : mythomania/pathological liar atau pathological dishonesty. Mythomania ini beda loh sama pathological compulsive. baca2 aja.

ThoughtsNovember 18, 2007 12:01 pm

Ada seorang gadis kecil, Ara namanya. Dia hidup bersama kedua orangtuanya.

Suatu hari, Ara merayakan ulang tahunnya yang ke-8. Keluarganya-pun mengadakan pesta ulang tahun kecil2an untuk Ara. Beberapa sanak saudara dan tetangga diundang untuk ikut mendoakan kesejahteraan Ara.

Hari itu, untuk pertama kalinya ayah Ara memberikan kado di hari ulang tahun Ara. Ara sungguh tidak menyangka akan mendapatkan kado dari ayah-nya, karena itu Ara senang sekali. Kadonya berupa sebuah jam tangan Mickey Mouse berwarna hijau tua. Kado terbaik yang Ara terima dibanding kado-kado lainnya.

Sejak hari itu, Ara selalu memakai jam tangan Mickey Mouse hijau tua itu ke sekolah.

————————————-

Suatu ketika, ayah dan ibu Ara bertengkar hebat. Kalau sedang begini, Ara memilih untuk mengunci pintu kamar lalu meringkuk di kasur sambil mendengarkan sayup-sayup teriakan dan makian yang tak henti-hentinya. Ara tidak menangis, hanya diam, sambil menunggu kantuk datang dan membawanya pergi ke dunia mimpi.

Esoknya, Ara mengetahui kalau ayahnya pergi meninggalkan rumah. Ara tidak terkejut. Karena ini bukan yang pertama kalinya. Kapan itu, ayah Ara pernah pergi selama 2 minggu tanpa kabar. Kali terakhir, ayah Ara pergi selama 1 bulan juga tanpa kabar. Saat itu Ara tidak khawatir, yang Ara khawatirkan justru adalah ibunya, yang dalam kondisi begini pasti menjadi sangat emosional dan cenderung untuk mendamprat seluruh penghuni rumah. Ara tahu bahwa dia harus menjaga sikapnya lebih hati-hati lagi supaya ibunya tidak memarahinya, setidaknya sampai ayah kembali.

Hari demi hari berlalu, ayah Ara tak kunjung pulang juga. Sudah 1 bulan lebih, tetap saja ayah Ara tak memberi kabar. Ara mulai bertanya-tanya di dalam benaknya sendiri, kemana ayahnya pergi? apa dia baik-baik saja?. Tapi Ara tak berAra bertanya pada siapa-siapa, apalagi pada ibunya, Ara bisa dimarahi habis-habisan seperti waktu itu. Ara hanya bisa mengobati kerinduan dengan memandangi jam tangan hadiah dari ayahnya saja.

————————————-

Suatu hari, Ibu Ara memergoki Ara sedang terdiam sendirian di kamarnya. Ibu Ara segera masuk dan bertanya, apa yang Ara pikirkan. Ara berkata, dia tidak memikirkan apa-apa hanya bengong-bengong saja. Tapi Ibu Ara tidak percaya dan terus mencecarnya dengan pertanyaan seputar apakah Ara memikirkan ayahnya. Tadinya Ara masih berkilah, tapi karena Ibunya terus memojokkannya, akhirnya Ara berkata jujur bahwa Ara ingin ayahnya pulang.

Seketika, Ibu Ara mengamuk dan memarahinya. Ara tidak mengerti kenapa Ibunya marah, tapi Ara biasa menghadapi hal seperti ini, jadi Ara hanya diam saja, mendengarkan omelan-omelan ibunya. Ibunya merasa Ara tidak adil kepada kedua orangtuanya. Padahal ibunya yang membiayai keluarga, yang jauh lebih berusaha, tapi Ara selalu lebih menyayangi ayahnya. Sekeras apapun Ara berusaha menjelaskan bahwa dia menyayangi kedua orangtuanya sama besar, Ibunya tak pernah mau terima, jadi yasudah, Ara memutuskan untuk diam saja, mungkin ibunya cuma butuh melampiaskan amarah.

Namun, di sela-sela omelan tersebut, tiba-tiba Ibu Ara mengatakan bahwa jam tangan Mickey Mouse hijau tua itu bukan dari ayahnya, tapi ibunya-lah yang membelikan. Ibunya sengaja membungkus jam tangan itu dan meminta ayah Ara untuk memberikannya pada Ara sebagai kado ulang tahun, supaya Ara senang. Karena ibunya tahu sebelumnya ayah Ara tak pernah mau bersusah-susah membelikan Ara kado.

Ara terkesiap. Tak bisa berkata apa-apa. Hanya terus mendengarkan ibunya sampai wanita itu merasa puas dan bergegas keluar dari kamar Ara.

————————————-

Sejak hari itu, Ara tak pernah memakai jam tangan Mickey Mouse hijau tua itu lagi. Setelah ayahnya kembali pulang ke rumahpun, Ara tidak bertanya apa-apa soal jam tangan itu.
Ara tetap mengatakan bahwa dia menyayangi kedua orangtuanya sama besar meskipun berkali-kali Ibunya menuduhnya lebih menyayangi ayahnya.
Ara tetap mengunci kamar saat kedua orangtuanya bertengkar.
Ayah Ara tetap seenaknya pergi dan pulang.
Suatu waktu Ara menyadari bahwa jam tangan itu hilang entah kemana dan Arapun tak merasa kehilangan.
Dan sejak hari itu, Ara tak pernah menjaga barang pemberian dari ayah maupun ibunya.

- THE END -

Tak usah repot-repot menebak-nebak ini cerita true story atau bukan, siapa si Ara sebenarnya, dan lain-lain, karena itu tak penting :P . hahahaha…

Yang terpenting adalah makna ceritanya, karena setiap orang mungkin menangkap makna yang berbeda.

Buat saya, tidak ada yang benar dan salah dalam hal ini. Hanya saja, mungkin seandainya Ara boleh memilih, dia lebih baik tidak mengetahui asal usul jam tangan itu.

Ada beberapa hal yang sebaiknya tetap menjadi rahasia, bukan? =)

Hati-hatilah dengan ucapan dan tindakan kalian, pembaca. Sesuatu yang kita anggap sepele bisa saja merupakan hal yang sangat penting untuk orang lain. Contohnya dalam kisah Ara ini, ungkapan kasih sayang dan rahasia yang sebaiknya tetap tersimpan rapi di tempatnya.

Manda.

Tentang Manda, Thoughts, Sehari-hari, Love, StressNovember 15, 2007 10:03 am

(courtesy of www.jupiterimages.com

Akhir2 ini, ada orang yang selalu bikin gue merasa konyol. SANGAT KONYOL.
soalnya kalo dengan orang ini, gue tidak bisa bersikap biasa seperti ke orang2 lainnya, :

  1. Gue gak bisa bersikap ramah, jadi kalau papasan sama orang ini di jalan, tampang  gue datar-kaku (meski sebenernya mood gue lagi baik), kalau bisa pura2 gak  liat, lebih baik lagi kalo gak usa papasan sama sekali. Padahal seneng kalo  papasan. huuu.
  2. Gue gak bisa memulai pembicaraan, jadi ya diem2an aja kalo ketemu. Padahal sebenernya pengen ngobrol juga.
  3. Kalau terpaksa ngobrol sama orang ini (dia yang memulai pembicaraan), itupun  dengan respon seadanya dari gue, gak memandang mata, sekedar menjawab ‘iya- iya’ aja dan tersenyum kaku (itu udah usaha keras ya). Kalo terpaksa menjawab  dengan kalimat kompleks (ber S-P-O-K, kata penhubung, kata ganti dan teman2nya), pasti jawabannya ngaco karena gak bisa berpikir properly. Akhirnya, gue mengakhiri pembicaraan secepatnya dan kabur, sebelum  gue berbuat lebih bodoh lagi di depan orang ini.
  4. dan masih banyak kekonyolan lainnya.

Sebal. Rasanya pengen tereak, "JANGAN LEWAT2 DEKET GUE DEH! KALO ADA LO, GUE JADI MERASA SANGAT2 BODOH, DAN ITU RASANYA GAK ENAK!!!". Tapi jangankan tereak, nyapa aja gak bisa. tenggorokan keburu kering kalo ketemu ini orang. aaaaaaakkh. terpaksa misuh2 di belakang doang.

Paling berasa bodoh waktu orang ini bercanda2 narsis dengan mengatakan hal2 senada ‘Gue paling keren sedunia’. Bercandanya ke gue. GUE. gak ada orang lain yang bisa lo ajak becanda soal ini, ato gimana siiihhh???

Gini ya, orang lain bisa gue sikat habis dengan menunjukkan beberapa kekurangan dirinya, bercanda seperti biasa, berakhir dengan tertawa2. Nah orang ini? mau gue sikat abis, gak bisa karena, ya, menurut gue dia memang keren. Gak gue sikat habis, kok gak rela, ada orang yang bebas narsis di depan hidung gue (berasa berkewajiban menyadarkan kalau semua manusia itu sama). Akhirnya yang ada cuma ketawa garing (gak mengiyakan, gak menyangkal juga) lalu mengalihkan atau menyudahi pembicaraan. Karena topiknya terlalu berbahaya buat kerja jantung gue.

Oh ya Allah, tolong jangan ampe dia muji gue cantik, manis, mempesona, bikin kangen, bikin gemes atau yang lainnya. Gue bisa kena anemia di tempat. Terlalu lelah mengatur detak jantung dan sebagian besar darah udah keburu nguap di ubun-ubun.

……..

Tapi kalo dengan begitu bisa membakar lemak sekalian,
yaudah deh gapapa. hehehehe.

Sungguh menyebalkan mengetahui kalau ada orang yang bisa membuat lo sangat2 lemah dan bodoh. Yang lebih menyebalkan adalah karena mereka melakukannya tanpa sadar. Yang paling menyebalkan adalah karena lo gak bisa membalas dendam atau marah, karena mereka terlalu berharga bagi lo untuk diperlakukan seenaknya.

huh. konyol. sungguh konyol. hari gini kelakuan masih kayak anak ABG, memalukaaaaaaan…..!!!!!

Dan dari pengalaman ini, akhirnya gue menyadari kalau, manusia memang makhluk yang rumit ya, teman. Contohnya saya. hehehe……

Manda yang merasa konyol. 
Tentang Manda, Budaya, ThoughtsNovember 11, 2007 9:18 am

Barusan saya chatting sama temen SMP yang sekarang kuliah di Jakarta. Dari cuma sekedar tanya2 kabar, lama2 jadi ngegosip macem2 deh. Awalnya cuma gosip ngalor-ngidul, tiba2, topik pembicaraan kami berbelok ke oknum M, cewek temen satu SMP kami juga.

Si M ini, anak yang supel, terhitung sebagai anak gaul di SMP kami. Menjadi anggota di salah satu geng cewek terkemuka, bertingkah mengikuti trend anak muda saat itu (kaos kaki putih selutut, lengan junkies, obrolan yang selalu diikuti kata ‘jayus’ dan ’sumpe-lo?-sumpe-de!’ dsb…), pokoknya menjalani hidup layaknya gadis SMP pada umumnya.

Entah kabar itu datang darimana, si M diberitakan hamil di luar nikah dengan pria yang berumur jauh di atasnya dan sudah beristri (yap, beristri.). Untungnya, pria itu mau bertanggung jawab dan menikahi M dengan segera.

Topik si M ini memang selalu jadi pembicaraan hangat kalau lagi reuni SMP. Yang dibicarakan juga bukan yang jahat2 macam menertawakan nasib M, tapi sekedar bertanya2 aja "si M sekarang kerja dimana ya?", "anaknya udah umur berapa ya?" dan masih banyak lagi.

Yang jelas, kabar terbaru mengatakan, M hidup sederhana dengan suami dan anak perempuan-nya. Dan sekarang bekerja sebagai SPG di salah satu supermarket di Jakarta (suami M berpenghasilan rendah, jadi M juga harus ikut membanting tulang membantu ekonomi keluarganya).

—————————–

Yang dialami M hanyalah salah satu kisah dari banyak kumpulan cerita kehamilan di luar nikah lainnya.

Buat saya, ini bukan hal yang baru lagi. Temen saya si M, salah seorang kerabat dekat, anak perempuan tetangga, sahabat dekat kakak saya, anak teman ibu saya, banyak sekali yang mengalami nasib yang hampir sama dengan M. Ada yang berakhir bahagia (menikah, menjalani hidup seperti biasa), ada juga yang berakhir menyedihkan (putus sekolah, terpaksa membesarkan anak sendirian karena si pacar kabur dari tanggung jawab, membuat malu keluarga).

Kalau melihat berita2 di media, kisah2nya lebih bervariasi lagi. Ada yang meninggal karena aborsi, ada yang memilih untuk kabur dari rumah, ada yang berusaha menyembunyikan kehamilan mati2an tapi akhirnya ketahuan, ada juga yang memilih melahirkan diam2 lalu membunuh anak kandungnya sendiri karena takut dengan pandangan orang, dan masih banyak lagi.

Perasaan saya aja ato memang benar, kok ya kian hari kasus macam ini kian banyak ya? :( .

—————————–

Kasus macam ini terbukti dapat merusak masa depan, terutama untuk pihak perempuan-nya (cowok bisa kabur dari masalah ini, cewek enggak segampang itu. gimana coba caranya kabur? wong masalahnya nangkring di rahim, dibawa kemana2). Saking merugikannya, masyarakat-pun mulai bergembar-gembor memperingati generasi muda mengenai ‘pencegahan’ dengan berbagai cara, dari mulai sudut pandang agama, moral bangsa timur, pandangan yang sudah berkompromi dengan budaya barat (’gunakan kondom saat berhubungan’) dan masih banyak lagi.

Disini, saya gak kepengen ngomongin lagi soal ‘pencegahan’, saya mau ngomongin tentang bagaimana ‘menindak lanjuti kalau kehamilan itu sudah terlanjur terjadi’. Soalnya, menurut saya, yang terakhir ini punya prioritas lebih tinggi. Kenapa saya bilang lebih tinggi? karena saat itulah manusia dalam keadaan panik luar biasa dan kehilangan akal sehat. Yang terakhir ini yang justru bisa mengantar pada tindakan gegabah yang berakhir kematian atau penjara (aborsi, pembunuhan). Yang terakhir ini yang merupakan titik penentuan apakah masa depan korban akan hancur atau tetap gemilang. Yang terakhir ini pantas diperhatikan dan didengar oleh yang tidak maupun terlanjur hamil di usia muda. Baik oleh perempuan, maupun laki-laki.

Saya belum pernah mengalami kehamilan di usia muda (dan mari berdoa semoga saya cukup baik mengendalikan diri sendiri dalam hal ini), namun saya pernah berpikir bagaimana seandainya hal itu terjadi pada saya. Bukannya ngarepin yang jelek2, tapi saya yakin kalau yang namanya manusia itu banyak khilafnya, jadi apa salahnya mempersiapkan diri untuk semua kemungkinan. Punya pikiran macam "itu gak akan terjadi sama saya, amit2 deh" dan menolak berpikir lebih jauh, bisa jadi senjata makan tuan. Selagi masih bisa berpikir sehat, gak ada salahnya mencoba untuk memikirkan hidup lebih dalam lagi.

Pokoknya kalau sampai hal itu terjadi sama saya, saya :

1. Akan bicara dengan keluarga dan oknum yang menghamili sejak awal kehamilan.
Nyimpen2 masalah kayak gini sendirian, ngumpet2 dari orang lain, cuma bikin sakit jiwa. Si pelaku jelas harus dikasitau, apapun kondisinya, enak aja saya gelagapan, situ ongkang2 kaki. Tapi saya gak akan memberitahu terlebih dahulu keluarga yang dirasa riskan secara emosional (contohnya sedang sakit parah, sedang menghadapi ujian, memang tipe panikan), saya akan cari anggota keluarga yang cukup dewasa dan reliable untuk saat itu. Setidaknya saya sudah memberitahu seseorang tentang hal ini, jadi mereka bisa memberi masukan pada saya dan mengingatkan saya kalau mulai agak2 lepas kendali.

2. Gak akan menggugurkan kehamilan, apapun yang terjadi.
Saya yang berbuat, saya yang tanggung jawab dan terima resikonya. Biarpun saya yang mengandung, saya gak berhak nentuin hidup mati anak saya. Aborsi itu kayak lempar batu sembunyi tangan, dan itu perbuatan paling nyebelin yang pernah ada. Mau ditabokin kek, mau dijambakin, mau dihina, mau diusir, mau ditinggalin, mau diapain aja, terserah, tapi anak ini tetep harus lahir.
Ada yang bilang, ‘buat apa dilahirkan kalau nantinya bakal ditelantarkan?’, ‘buat apa dilahirkan kalau nantinya dia bakal menderita?’. Sekarang saya balik, gimana kalau ternyata, setelah saya lahirkan , nasib berkata lain, anak ini ternyata ‘bisa menerima kenyataan dan hidup bahagia?’, ‘bisa berguna buat orang2 di sekitarnya kelak?’. Emangnya anak yang lahir bukan dari hasil kehamilan di luar nikah, pasti bahagia? gak juga kali.
Nasib manusia itu adalah sesuatu yang berada di luar kuasa kita. Yang udah pasti kita tahu, adalah, aborsi yang dilakukan tanpa pertimbangan medis yang jelas (misalnya, kesehatan ibu yang mengandung, kondisi janin) itu sama aja kayak membunuh, jadi itu bukan pilihan.

3. Memastikan kalau anak gue akan dirawat dan dididik dengan benar.
Kalau gue belum bisa (masih sekolah, belum ada penghasilan), gue akan minta bantuan pada orang yang gue percaya (teman, tante, sepupu, siapapun) untuk merawatnya. Bukannya full lepas tangan, tetep bakal gue pantau dengan rutin, sembari cepet2 nyelesein studi, jadi bisa cepet menghasilkan uang buat mbiayain anak sendiri dan gak ngerepotin orang lagi.
Kalau gue bisa (udah lulus, udah ada penghasilan), ya langsung gue rawat dengan tangan gue sendiri. hehe.

4. Kalau memang keluarga menuntut gue dinikahi.
Kalau si oknum-penyebab-kehamilan mau menikahi, ya terimakasih, alhamdullillah, masalahnya gak nambah panjang.
Kalau gue dinikahin dengan sukarelawan (yang entah keluarga gue dapet darimana) untuk sekedar menjaga dari omongan orang karena si pelaku asli gak mau tanggung jawab, yasudah, terimakasih. Meski mungkin saya gak cinta, tapi ini bukan saatnya bertindak egois dan sok2 melodramatis. Udah bagus anak gue tetep bisa lahir dengan kehadiran seorang bapak (meskipun bukan bapak kandung), yang penting anak gue dan keluarga dulu, baru urusan lainnya.
Tapi kalau enggak ada yang mau, yasudah, life must go on. Gak ada jalan lain selain menghadapi dengan berani. Single parent-pun takapa! masih ada sahabat dan keluarga yang bisa membantu gue.

5. Akan tetap berusaha berpikir positif.
Pernah berbuat khilaf bukan berarti kesempatan untuk berkarya langsung hilang begitu saja. Memang benar, hidup saya sudah berbeda dari anak lainnya. Sudah ada anak yang harus dipikirkan di saat seharusnya saya masih bermanja2 pada orang tua.
Tapi, pisau aja bertambah tajam kalau banyak diasah, kan? gak pake menyesal atau malu, justru harusnya bangga bisa survive dari cobaan :D . Bahkan sekarang bisa berbagi dengan orang2 lain tentang hal ini, kita bisa jauh lebih berguna untuk manusia lainnya.

Sebenernya ya bok, kalo mau diterusin, bisa lebih panjang dari ini. Masih banyak jawaban dari pertanyaan macam "gimana kalau anak gue membenci gue karena hal ini?", "gimana kalau gue ternyata gak siap jadi ibu?" dsb. Tapi sementara ini dulu deh, semoga bisa jadi bahan renungan bersama. amin. hehe.

Penting banget ya ini postingan. besok hari senin ya? met beraktivitas, orang2!.

Mandhut.

Tentang Manda, Thoughts, Sehari-hari, Level Up!, StressNovember 9, 2007 9:32 pm

Sedang bete dan lagi pengen bener2 meracau. panjang, gue serius. barusan gue itung, panjangnya 7 halaman. jangan ganggu. yang ganggu gue doain alisnya ilang (dan muka lo jadi aneh) hush hush…


Duh duh, semingguan ini mood saya lagi bener2 jelek.

Gak, bukan karena dibilang ‘mesum’ kok (masih aja, wakakaks), bukan karena ‘M’ juga, tapi karena masalah lain. Masalah lama yang sebenernya gak kepengen saya pikirkan karena cuma bikin sedih, tapi entah kenapa kadang2 suka kepikiran terus berakhir dengan nangis bombay dhe.

Benci deh kalo lagi kayak gini.
Soalnya :

  1. Mbalikin mood gue ke kondisi ‘aku baik2 saja’ tuh susssaaah banget.
  2. Nangis bombay bikin kepala sakit dan mata bengkak, ada lingkaran hitam, persis panda. AARRGH.
  3. Bukan tipe multi-tasking, jadi kalo lagi banyak pikiran kayak gini pasti ada aja tugas2 yang terbengkalai. damn it. Lagi hepi aja tugas dibikin seenak jidat, apalagi lagi sedih. ah.
  4. Karena sesuatu dan lain hal, sedang berupaya gamau sering2 curhat ke orang lain dan menyelesaikan masalah sendiri. lumayan. Ada kemajuan. Tapi efeknya jadi lebih nyesek dari biasanya. Biasanya ada beban, dibagi-bagi ke orang biar kerasa lebih ringan, sekarang dibawa sendiri. uuhh.
  5. Kalo lagi sedih karena suatu masalah, biasanya masalah lain ikut2an nimbrung juga. dobel2 deh sedihnya.
Udah semingguan, mood tidak kunjung membaik juga, yang ada malah, makin mellow. Yang gue pikirin kebawa masuk ke mimpi, berhari-hari, jadi pas tidurpun gue gak berasa istirahat. Bahkan, 3 episode mimpi terakhir turut dibintangi oleh almarhum bokap gue, entah cuma figuran di salah satu scene, ngasi liat muka terus pergi, duduk diam di sebelah gue, ato datang membawa oleh2 buah anggur.

Yang kurang ajar, belum sempet makan anggur, ngejar atau ngobrol2 lebih lanjut di salah satu dari 3 mimpi tersebut, alarm hape keburu bunyi, saatnya bangun dan beraktivitas di dunia nyata. Ah sebal sebal. Karena sebal, jadinya melampiaskan kerinduan terhadap Bokap ke satu2nya temen sekampus yang berfisik agak mirip (badan iya, muka totally tidak, bokap gue lebih ganteng). Jadinya 3 harian ini, si temen gue ini dengan intens-nya gue jailin, gue ledek, gue caci-maki, gue ceritain macem2. Lumayan ngefek sih, agak terhibur. duh duh. Maaf ya teman, ngerepotin =(.

Niwei, biasanya gue cuma mimpi almarhum Bokap kalo lagi bener2 dalam keadaan down (artinya : gue lagi butuh pelarian). So yeah, gue sedang bener2 fragile saat ini.

—————————-


Secara ini kondisi terus berulang. gue capek juga. Kalo terus begini, lama2 gue bisa gila.

Gimana ya caranya biar gak keulang2 lagi, jadi setidaknya gue bisa menjalani hidup dengan damai dan fokus kayak orang lain? :(

Akhirnya, untuk menemukan jawaban dari pertanyaan itu, gue mulai berintrospeksi diri :

Sebenernya kondisi ini keulang gara2 apa?

Gara2 teringat suatu masalah berat, terus biasanya masalah2 lain (lama maupun baru) ikut2an dateng dan meramaikan suasana.

Masalah apa aja?

Ya itu deh, terus itu, yang waktu itu juga. Ada yang emang dari jaman jebot (lama), ada yang baru2 ini. (males cerita, banyak dan ngerepotin, lagian inti postingannya bukan apa masalah gue, tapi gimana menyiasati permasalahan yang ada)

Rasanya gimana?

Rasanya, sedih, sakit, dendam, apalagi kalo keinget yang dulu2 dan pengaruhnya ke gue sekarang. hiih.

Efeknya apa?

Udah dijelasin di atas. Tapi yang terparah sih mau bunuh diri, pernah tuh, duluuuuu banget waktu masih jaman2 ABG, tapi kalo nginget disana lebih menderita lagi, langsung mengurungkan niat bulad2. Gak rela gue mati bunuh diri, gue belum mencapai impian2 gue, matinya gak enak, bikin kosan jadi berhantu (kasian sila, iprit, dkk), begitu nyampe disana disiksa juga. Menderita dunia-akhirat? gak, makasih. Saya diem2 disini aja sampe waktu saya beneran tiba, menderita-pun saya jalanin, Insyaallah masih ada harapan di akhirat.

Masalah dan kenangan buruk, itu ibarat luka di badan. Kalo lukanya masih berasa sakit dan bikin nangis, berarti masih belum sembuh benar. Biar sembuh dan gak sakit2 lagi, lukanya mesti dibersihkan pake antiseptik, dikasih obat, ditutup pake tensoplast, tunggu hingga mengering. Begitu juga dengan masalah dan kenangan buruk, kalo masih bikin nangis, ya berarti, entah lo yang belum bisa menerima kenyataan atau memang masalahnya gak pernah menemukan solusi yang terbaik. Sudahkah lo menyelesaikan masalah lo dengan baik?
Seorang teman pernah bilang, gue tipe orang yang lari dari masalah. Dia bilang, gue suka pura2 gatau apa2, suka pura2 everything-just-fine, padahal di dalemnya mendem, cuma nyakitin diri sendiri, bikin apa2 jadi gak nyaman sendiri dan orang kayak gitu dipastikan bakal cepet mati (sial. eksplisit amat). Gue akuin, ya, kadang gue memang bersikap begitu. Ada beberapa masalah yang bisa dengan mudah gue selesaikan, ada beberapa yang memang gak kepingin gue pikirkan karena cuma bikin makan ati dan pusing.
Namun, sebanyak apapun gue memikirkan, gue gak bisa menemukan solusi buat diri gue sendiri. Kepala udah sakit, hati udah ancur lebur, masalahnya tetep ada disana, sedangkan gue butuh njalanin hidup, dunia gue bukan cuma masalah ini doang. Akhirnya, ibarat luka, gue cari jalan pintas, bukannya gue obatin supaya sembuh benar, gue tutupin luka itu pake lakban coklat rapat2, paling gak, jangan sampe luka ini kemasukan kuman, jangan sampe bikin gue dan orang lain miris liatnya. Tapi yang namanya luka, ditutup dari luar bukan berarti gak membusuk di dalem, dan gue gak bisa buat apa2 untuk itu. Bukannya gak kepengen diobatin, hanya saja gue gak bisa nemu obatnya.

Bukan gak bisa nemu solusi, tapi lo terlalu takut buat menggali masalah lo sendiri. Bener kan?

….gak bisa jawab dengan ‘mungkin’, karena dalam hal ini jawaban ‘mungkin’ itu brengsek. gak bisa jawab ‘enggak’ juga. jadi jawabannya iya.

Kenapa takut?

Kalo masalahnya berkaitan dengan orang yang gue anggap penting, umumnya gue takut kehilangan, jadi memilih selesaikan cepat2 dengan mengalah. Kalo berkaitan dengan diri sendiri, gue takut salah ambil keputusan, gue gak percaya sama intuisi gue sendiri, akhirnya memilih let it flow.

Bukannya lo tahu kalau people DO come and go, dan lo harusnya udah terbiasa dengan itu? Apapun yang lo lakukan untuk mempertahankan mereka di sisi lo, kalau nasibnya memang bukan bersama lo, kalo mereka emang gak sesayang itu sama lo, mereka tetap akan pergi, kan?. Dan semua yang lo lakukan jadi sia2. Gue rasa, kalo ada yang PENTING BANGET untuk lo takutkan, bukannya kehilangan orang lain, tapi kehilangan jati diri lo sendiri. Kalo lo terus2an menempatkan diri lo di tempat yang gak sepantasnya, terus2an gak yakin dengan diri sendiri, lo akan terus terombang-ambing. Dan tau2, yang namanya Putri Amanda Bahraini udah gak eksis lagi di dunia ini. Yang ada cuma cewek gendut-hopeless ngaku2 bernama Putri Amanda Bahraini, disuruh ini mau, dibilang itu nurut, diancem dikit langsung takut, ada masalah ngindar. LO TAU BANGET SEHARUSNYA KUALITAS LO GAK SERENDAH ITU! NISTA BANGET LO KALO SAMPE JADI KAYAK GITU! MAU LO?!
gak mau lah… gila apa. gue pengen punya hidup sendiri, pengen bisa ngelindungin orang yang gue sayang, pengen berguna buat lingkungan sekitar, pengen ngewujudin apa yang gue impikan.

Kalo gitu mulailah dari mencintai diri sendiri! Lo bisa nemuin kelebihan orang lain bahkan yang orang itu sendiri gak sadar. Lo bisa menyayangi orang lain, padahal buruknya gak ketulungan. Lo bisa membuat orang berasa tenang dan nyaman, kembali nemuin kepercayaan diri mereka yang sempet hilang. Lo bisa meyakinkan orang untuk tetap mencintai diri mereka sendiri, separah apapun masalah yang mereka hadapi. Masa lo gak bisa lakukan itu untuk diri lo sendiri?

Iya juga, ya. hooo. dipikir2, kayaknya introspeksi diri ini salah satu proses deh. Soalnya sembari ngebayangin, kalo ada orang bermasalah sama persis kayak yang gue alami, terus datang ke gue minta pendapat, apa yang akan gue katakan, ya?. Yah beginilah biasanya gue menenangkan orang.

Jadi? udah tahu kelebihan dan kekurangan diri sendiri? gue tau banget lo narsis.

udah…

apa?

kalo disebutin satu2, malu. ntar bikin eneg yang baca. cukup2.

Tuh kan, kalo nyebutin kelebihan dan kekurangan diri sendiri aja malu, gimana mau mencintai diri sendiri?
oh please deh. harus ya?

Harus. Biar kalo sedih lagi, tinggal baca postingan ini dan inget apa aja yang udah dipikirin dulu2, jadi gak terjebak masalah yang sama. Lo tipe2 ‘terlanjur basah nyebur sekalian’, kalo dipajang disini, lo gak akan bisa berkutik lagi dan selamanya akan mengikuti apa yang udah lo katakan sendiri dan orang lainpun terlanjur tahu. Cuekin apa yang orang lain mau pikirkan soal lo. Kalo emang pada dasarnya narsis, yaudah, buat apa juga ditutup2in. Just do it. ini kan blog lo, lo yang punya kuasa disini. buat apa bikin blog kalo malu dibaca orang. tulis aja di buku harian yang bisa disimpen di laci kamar.

heeeh..justru bikin blog karena buku harian gak dibaca orang, gak bisa bagi2 pemikiran…
OKE DEEEH…. (merasa tertantang) sini lo semua, liat sini, denger ya.
Kelebihan saya :
peacelover, peacemaker, kreatif, suka introspeksi, humoris, cerdas (ya, sejak kecil, jauh dalam hati gue mencap diri sendiri cerdas, even jarang digunakan dengan baik), tahu gimana caranya bikin orang ketawa (kalo gak ketawa, berarti dia bukan orang, atau mungkin gue sedang tidak enak badan :P ), suka banget liat orang lain ketawa, penganut Golden Rules, punya sense of art yang lumayan, penyayang, perhatian, bisa melihat masalah dari berbagai sisi pandang, bisa menempatkan diri di posisi orang lain, peka, tahu bagaimana cara bersenang2 (heran, hari gini masih aja ada orang yang gak tau kalo mie instant itu paling enak kalo dicampur kornet dan sedikit mentega), suara lumayan (seriosa), gambar lumayan, tampang lumayan, seksi (oh iya, jangan tertipu lemak, teman. haha.), gak suka manfaatin orang, ceria, makhluk survivor kayak kecoa (sekeras apapun lingkungan, saya akan bertahan, even nangis2 dulu), setia, senang mengambil pelajaran dari kejadian2 macam ini, jago cerita (dari sejak SMA tepatnya, nyadar begitu selalu diminta nyeritain isi buku biologi dan sejarah sama temen gue setiap mau ulangan 2 mata pelajaran itu).
Kekurangan :

Susah konsen, males mikir, tidak pintar, tidak rajin, pemalu, suka menunda2, clumsy, suka iri, pelupa, asal, bawel, boros, moody, keras kepala (terutama soal kritik), pendendam (intinya adalah, gue gak pernah memaafkan kesalahan orang sepenuhnya, apalagi kalo nyakitin gue dengan sengaja, I just can’t. pasti gue inget mpe kapanpun), sombong, jahil, mesum, ketawanya kampungan, gak bisa menyembunyikan ketidaksukaan (pasti tergambar dari ekspresi muka), suka jahat sama orang seenak jidat (khusus untuk yang gak dikenal/deket = boleh dijahatin), suka ngilfilin, suka-memberi-tapi-ngarep-balasan (maap. lagi berlatih gak usah ngasi kalo orang yang dikasih tampak gak bisa membalas), takut nyakitin perasaan orang, mellow, drama-queen, bosenan (semangat di awal doang), suka lari dari masalah, cuek soal penampilan (lo semua harus liat tampilan gue jaman SD-SMP), susah banget bilang ‘enggak’ (percayalah, kalo gue menolak sesuatu saat ini, itu hasil perjuangan panjang di masa lalu, dan habis itu pasti gue merasa bersalah), gak tega-an, lemah terhadap pujian maupun kritikan, cengeng, suka sok pahlawan, suka demam panggung, naif.

Nah sekarang, kalo misal lo ketemu orang dengan kelebihan dan kekurangan sama persis seperti yang lo gambarkan di atas, kira2 lo bakal sayang gak sama orang itu?

sayang. Sophisticated, sombong, malu2in, dari luarnya terlihat kuat, tapi sebenernya lemah. Terlalu sweet untuk dibenci :D . ahahahahah.

Apa lo akan menuntut dia untuk merubah dirinya?

Selama emang baik untuk dia dan dia melakukannya tanpa terpaksa, gue akan sangat mendukung.

Apa yang harus dia lakukan kalau dia kehilangan orang yang dia sayangi?

Berusaha caritau kenapa dia ditinggal, minta maaflah kalo memang udah berbuat salah, diemin aja kalo emang berasa gak salah. Inget, People DO come and go. Lo bukan Tuhan dan gak bisa atur2 orang sesuka lo, begitu juga dengan orang lain. Kalau dia memang gak nyaman sama lo, yasudah dadah-babay. At least lo sudah belajar sesuatu hal. Sedih memang, tapi yaudahlah, jalanin aja, paling begitu sadar tau2 udah lupa dan udah ada gantinya. Pernah terjadi dan gak cuma sekali, kan?.

Apa yang harus dia lakukan kalau dia mulai gak yakin terhadap diri sendiri?

baca postingan ini, lagi dan lagi.

Sekarang katakan semua yang lo pikirkan itu pada diri lo sendiri, dan belajarlah mencintai diri lo apa adanya! lalu mulailah selesaikan masalah lo dengan baik, jadi gak usah sedih2 berkepanjangan lagi besok2!!!

hehe. Insyaallah…

————————–

believe it or not. gue berasa lebih baik.

Dipikir2 gue kayak orang gila ngobrol ma diri sendiri kayak gini
(sebenernya agak mirip bulletin board FS gak c?). Tapi berhubung gak ada yang bisa meyakinkan gue sebaik diri gue sendiri (bukannya ngeremehin kemampuan sahabat2 gue ya, tapi memang harus gue yang selesaikan), berhubung di kepala beneran terjadi dialog seperti itu, dan salah satu syarat gue bisa berpikir lebih fokus adalah dengan menulis (entah kenapa kalo nulis berasa harus sampe beres), ya sudah gue lakukan aja.

Gue selalu merasa temen2 gue aneh,
tapi sebenernya gak ada yang lebih aneh dari gue. Entah kerasukan apa sampe bisa ngobrol ma diri sendiri kayak gini -_-#

Well, semoga racauan yang ini sedikit banyak ngasih masukan ke pembaca (kalo ada yang kuat baca, hahaha). Intinya adalah, Cintailah Diri Anda Sendiri! Ternyata ngaruhnya gede banget, teman! *baru sadar*. Kalo mengalami krisis percaya diri, coba deh bertanya pada diri sendiri kayak di atas deh, moga2 ngaruh ke saya, ngaruh juga ke kalian :D . huhu.

Mandhut.