It’s a girl thing. Tapi kalo cowok mau baca ya gapapa…..

 

Selama 21 tahun 2 bulan hidupnya, akhirnya Putri Amanda Bahraini mulai mengerti arti kalimat ‘jadi cewek itu gak gampang’.

Sebelumnya, gue udah sering mendengar kalimat itu dari media atau obrolan ringan sehari2, tapi gue selalu menganggap mereka semua drama queen alias melebih2kan keadaan.

Tadinya gue mikir begitu, tapi karena sesuatu hal, sekarang gue sadar kalimat itu ada benernya juga. Dasar guenya aja yang telat puber dan dari dulu agak2 males menganalisis lingkungan sekitar, makanya gak pernah cukup sadar jadi perempuan itu gak gampang.

———————

Heeehhh…. sebenernya ada apa sih?

Sebelum kita masuk ke topik utama, gue mesti jelasin dulu awal dari semua ini.

Jadi gini loh pembaca, entah kenapa sejak gue menyandang gelar 21 tahun pada tanggal 15 Agustus yang lalu, gue mulai memaksa diri untuk berpikir tentang masa depan dan diri gue sendiri lebin intens dari sebelumnya.

Bukannya sebelumnya gue gak mikirin sih, mikirin juga. Bedanya sekarang dipikirin lebih sereus dari sebelumnya aja. Yah gimana dong teman, gue udah tingkat 4, sebentar lagi gue udah harus terjun ke masyarakat.

Di dalam kepala gue, ‘terjun ke masyarakat’ berarti, gue udah harus bisa berdiri di atas kaki sendiri, udah harus mengenal diri sendiri dengan sangat baik, udah harus jelas mau dibawa kemana hidup gue ini (career woman, housewife, or both? spinster or married? hahaha), udah harus bisa mengatasi sifat2 buruk (malas, keras kepala, drama queen), udah harus menumbuhkan sifat2 baik, udah harus mulai sereus mikirin soal JODOH (aaarrgh.. dipikir2 sebenernya perjodohan itu easy-way-out loh), udah harus tau bisa membedakan ‘yang dibutuhkan’ dengan ‘yang diinginkan’, udah gak boleh bergerak berdasar emosi semata dan masih banyak lagi.

Mungkin gue terdengar ribet banget. Tapi, gue udah kenyang berurusan sama orang-dewasa-yang-cuma-dewasa- di-umur-aja-dan-gak-bisa-dibilangin-karena-udah-terlalu-bangkot -untuk-introspeksi-diri, beneran udah sepet, eneg, muak, apalah itu. Kalau ada yang bisa gue lakukan saat ini, adalah berusaha keras dan berharap gue bisa memberi kesan yang lebih baik di masa depan nanti.

 

Kalau memang bertambahnya umur cenderung membuat manusia lebih angkuh untuk mau berintrospeksi, gue akan memastikan gue dibekali dengan baik di masa muda gue. Supaya kalau gue lupa hal ini suatu hari nanti di masa tua gue, gue sudah memiliki hal2 yang memang harus dimiliki orang dewasa seutuhnya, jadi gak nyusahin orang lain!!!. huh.

Heh…. gue jadi emosi jiwa. Yah pokoknya begitu, intinya ini masalah besar buat gue.

Banyak hal yang gue pikirkan soal ini. Untuk memfokuskan masalah, semua pertimbangan dimulai dari tujuan hidup gue dan segala hal yang bisa membantu gue mencapainya. Gue membaginya menjadi 6 faktor, mulai dari kesehatan, keuangan, relationship, psikologi, skill dan impression. Mungkin akan ada tambahan ke depannya, tapi so far, itu dulu.

———————-

Nah sekarang kita masuk ke topik utama postingan,

Dari 6 faktor yang gue berikan, gue sempet agak2 mentog soal impression.

…..

Jujur ya teman, sepanjang hidup, gue gak pernah peduli apa yang orang lain pikirkan soal gue dan tampilan gue. Gue gak pernah dandan, gue berdiet kalau udah sesak napas karena baju kesempitan, gue memakai apa yang gue anggap nyaman, gue melakukan apa yang gue suka. Selama gue gak nyusahin orang, then everything doing just fine. Tapi, gara2 sesuatu hal (kapan2 gue ceritakan) gue mulai menyadari bahwa, impression itu penting, in fact, impression juga membantu lo mencapai tujuan hidup lo. Tanggung jawab diberikan pada orang2 dengan skill dan impression yang baik, bukan? ;P

Duh jangan diketawain dong, tiap orang kan punya prosesnya masing2, kalo gue baru nyadar sekarang gapapa kan, ketimbang enggak sama sekali.

Ngomong soal impression berarti ngomong soal behaviour dan penampilan. Untuk berkembang, means ada yang harus dipertahankan dan dirubah kan?. Jadi gue mulai berpikir soal kesan yang udah gue berikan selama ini dan apakah yang harus gue perbaiki.

Kalo udah ditanya soal behaviour dan penampilan, rata2 temen gue bilang Manda itu : lucu, kayak anak kecil, childish, ngegemesin, imut, empuk, minta dipeluk, minta dicubit, santai, enak buat tidur2an, bikin ketawa, gendut, gayanya tomboy, enak dibuat curhat, nyaman, hangat, ngangenin. Eh ini dikumpulin dari yang pernah orang lain omongin ke gue ya, jadi jangan pada berisik deh. Dari semua yang gue tangkap, gue menyimpulkan sebagian menganggap gue adik kecil yang tampilannya mirip bakpau daging dan bikin hati senang. Sebagian lagi menganggap gue ibu yang bisa dijadikan pelarian, pahanya empuk bisa buat tidur2an dan bikin hati tenang.

Senang dan tenang. What an Impression…

Jadi gak ada yang anggep gue wanita dewasa ber-sex appeal? Jadi kalau gue begini terus, yang deketin gue maybe cuma orang2 fedofil atau mother-complex?

UH-OH, GAMAAAAAAUUUU!!!! (tanpa bermaksud menghina teman2 sekalian, sungguh ini cuma bagian dari drama quenn saja)

Well, gue seneng dianggap seperti itu. Tapi gue pengen sedikit menambahkan kesan dewasa dan bersahaja, berkarisma apalah itu, lagian dipikir bosen juga gak berubah2 dari dulu ampe sekarang. Gak ada salahnya mencoba, sekalian biar lebih cocok sama umur kan :P .

Jadi, tanpa melupakan identitas diri, gue mulai menimbang2 jenis2 pakaian yang bisa dipakai dan tidak (termasuk kecocokan dengan bentuk badan yang tambun ini), model rambut, apakah perlu mewarnai rambut atau tidak, diet yang tepat seperti apa, mau turun sampe berapa kilo, olahraga yg tepat buat gue dan yang terakhir, perawatan dan dandanan yang tepat. Saya juga harus mengatur budget untuk memenuhi itu semua dan masih banyak lagi.

Satu kata untuk menggambarkan itu semua, ribet. Apalagi soal perawatan dan dandan.

Dulu, saya menganggap adik sepupu genit yang sejak kelas 5 SD sudah mengumpulkan uang jajan untuk membeli lipstik dan maskara, sangat2 gak penting. Saya tambah eneg saat dia udah mengeluh soal selulit waktu kelas 2 SMP dan memakai korset ke sekolah (she really did). Tapi sekarang saya agak kagum sama dia. At least dia sudah memikirkannya. Saya bener2 angkat topi buat perempuan2 yang bisa mengatur itu semua sejak usia dini. Yang tahu pakaian dan model rambut apa yang cocok untuk mereka, tahu jenis kulit mereka, tahu bagaimana berdandan untuk segala suasana.

 

Mungkin ada beberapa wanita yang kelewat genit soal dandan, tapi tetep aja ya, itu gak gampang, cing!. baik merencanakan atau menjalaninya. butuh pengalaman dan wawasan luas. butuh kesabaran. butuh kemauan. butuh daya analisis luar biasa.

Contohnya gini deh, kemaren gue sama darpit keliyengan mikirin alat2 kosmetik yang must-have. Gue melakukan survey di majalah2 wanita yang me-review beberapa produk kosmetik dan cara2 bermake-up. Ada bermacam jenis kosmetik, gue udah tahu benda2 ini dari kapan tau, sering buka2 kotak kosmetik nyokap waktu kecil, tapi gak pernah niat make, abis bingung. Karena gak pernah belajar, gue baru sadar kalo jenisnya banyak banget yak, ternyata mascara ternyata ada yang bening, foundation juga ada yang creamy, ada yang matte, dan concealer ada beberapa tingkatan warna. Mereknya juga macem2, harganya apalagi, bikin seret tenggorokan. Tapi kalo belinya merk abal-abal yang ada ntar kulit jadi blentongan. Jadi ya mesti pinter2 memilah2 mana yang bener2 perlu dan enggak, mana yang gampang dikombinasikan dan mana yang tidak, mana yang cocok buat kulit kita dan mana yang enggak, gimana cara taunya kalo gak pernah dicoba???!!!. Makenya juga gak gampaaaaaaaaaaangg!!! ada dandanan resmi, semi resmi, non resmi, natural, dan lain lain. Salah sedikit, menor sedikit, lo langsung mirip Ade Juwita! (berlebihan) Ibarat melukis, dandan juga butuh sense of art!!!

Urusan ini beneran ngabisin waktu dan uang yak. aaaahhh…..kalo artis enak punya make up artist dan stylist sendiri, tinggal lempar duit, duduk diem manis, semua selese, ada yang sponsorin pula. Lah gue????!!! (desperate)

Gue gak tau emang guenya yang kelaenan ato gimana, tapi gue eneg banget pas tahu begitu banyak yang mesti dipikirin untuk urusan dandan dan perawatan doang. Sementara ini, gue berkutat pada perawatan yang perlu2 dulu aja deh, yang poles2 sembari jalan aja. gak usah ngikutin semuanya bener2, nemuin selah sendiri aja. belajar dikit2. huh.

Mungkin ada perempuan yang menganggap kesulitan terbesar menjadi perempuan adalah karena harus mengalami menstruasi sebulan sekali, harus mengandung 9 bulan dan masih banyak lagi. Well for me, jadi perempuan itu susah karena harus merawat diri dan perawatannya gak gampang!!! Ini pilihan sih, gue bisa aja gak melakukan itu semua dan hidup seenaknya, tapi saya juga gamau jadi perempuan jadi2an yang diragukan apakah dia perempuan atau bukan, jadi ya mari bertindak selayaknya perempuan, demi untuk impression yang baik ToT.

Untuk pertama kali dalam hidup gue merindukan kehadiran bencong di samping gue. Mereka pasti tahu banyak soal ini, dan paling gak bisa menjadi tempat gue bertanya serta mengadu. hiks hiks… bencoong….

 

duh gue pengen asisten bencong… (mulai ngaco)

apa gue aja operasi kelamin aja, jadi kan gak perlu mikirin beginian… (tambah ngaco)

Jadi cewek itu gak gampang…!!!!

Jadi hargailah wanita2 di sekitar kalian!. Selaen karena mereka yang akan melahirkan dan merawat generasi penerus kalian, butuh banyak pengorbanan dan observasi untuk menjadi ‘indah’ seperti yang kalian lihat sekarang!!!

Udah ah, capek ngemeng. Ohya, nampak ‘proyek terjun ke masyarakat’ ini bakal banyak menyita waktu dan menghasilkan postingan2 di Racauan Manda, sabar2 aja ya orang2! :D .

Manda yang puyeng.