Postingan panjang. Bacalah kalo senggang. Kalau bisa malah gausa baca, saya malu soalnya :P

Kalau ada yang paling bikin pening selama libur lebaran ini, tidak lain tidak bukan itu adalah Pepen, asisten rumah tangga di rumah saya. No no no, sebelumnya biarlah gue perkenalkan dulu pada kalian semua :

Nama Lengkap :
Supeni
Panggilan Sayang : Pepen, Pince, P-pen, Penci (semua ini gue yang buat)
Umur : 53 tahun kayaknya.
Tinggi : duh gatau, pokoknya dia kira2 sebahu gue.
Berat : Berani jamin antara 35 - 40 kg.
Status dan Keluarga : widow, 1 anak laki2.
Keahlian, Kelemahan dan Tabiat :
- Cerewet, ngomongnya gak pake titik koma.
- Udah tua tapi lincah, masih suka loncat2, harusnya dia masuk iklan Hi-Lo, cocok banget imejnya, persilakan dia kayang-roll depan-roll belakang-handstand, langsung laris thu produk.
- Jago ngeles ("ya kan Pepen tangannya cuma duaaa…". Ya iyalah lo pikir lo apa? siluman belalang? aduuh….)
- Suka ngeledek ("cie adeee, sapa tuuh", "Pepen gak nguping koook… terusin aja nelponnya", oh plis…just stay awaayy…)
- Setrikaannya rapih, cuciannya bersih (woohh..sugoi…).
- Gak pernah inget resep, jadi kalo masak bumbunya selalu asal. ("Pen, ajarin masak rawon dong", "duh pepen gak bisa ngajariin", "udah, kasi tau aja bumbunya apa…bikinnya gimana…", "duh pepen gak inget bumbunya apa, asal aja masuk2in". Awalnya, gue pikir ini boong karena dia males ngajar, tapi the next day, dia kepergok menggunakan kecap asin + sedikit gula untuk semur, karena kecap manis habis. Beberapa hari kemudian dia bikin semur lagi, tapi warnanya kuning, selidik punya selidik, baik kecap manis maupun kecap asin habis, jadi entahlah dia pake apa. She really did those crazy things. graaa…!!!)
- Marah2 kalo masakannya gak dimakan mpe abis (Gosh, perbaiki cara masak lo yang mengerikan itu, baru boleh marah2)
- Mental baja (Dia pernah dilempar piring plastik ma nyokap gue. Gak kena c. Dan nyokap gue juga bukan tipe penyiksa asisten rumah tangga. Tapi Pepen memang bertindak sangat mengesalkan saat itu, ditambah dengan nyokap lagi banyak masalah, ya jadilah. Tau gak after dilempar piring Pepen ngomong apa? "Aduuuhhh… Ibu… masa’ gitu aja marah… maksud saya kan…. blablabla… maaf ya Pepen yang salah…" sambil ketawa2. Nyokap gue tambah panas digituin, akhirnya gue dan kakak gue yang melerai. Kalo ada yang bilang ke gue dulunya dia sukarelawan perang vietnam, gue 100% percaya.)

————–

Si P-pen ini, udah ngikut keluarga gue sejak gue berumur 5 tahun. Dari dulu ampe sekarang, postur dan sifatnya gak pernah berubah, teteeeep aja gitu. Tapi semenyebalkan apapun dia, gue tahu kalau dia adalah orang yang sangat care, baik hati, jujur dan penyayang, jadi gue juga ga pernah berani nyakitin ati dia. Paling banter, gue senyumin terus gue tinggal pergi (abis kadang cerewetnya bikin bingung mau jawab apa). Well, gue berkata begini based on my true experiences lho ya. Soalnya… gue udah berbuat sangat jahat ke dia waktu gue kecil, tapi dia gak pernah ngungkit2 itu setelah gue dewasa, sekalipun enggak. Jadi sumhow gue juga hutang budi ma orang ini.

Hehehehehe… emang apa sih yang terjadi waktu gue kecil? ehehehe ehehehe ehehehe…. itulah inti dari postingan kali ini…

————–

Oke. Sebelumnya saya harus memberitahu anda bahwa sebenarnya sejak kecil saya sudah jatuh cinta pada ballet. Saya mengoleksi semua komik seri Mari-Chan, Swan, Prelude dan Lady Love. Saya lumayan tahu banyak soal gerakan2 ballet dalam bahasa perancis, beserta lakon2nya. Bayangkanlah saat2 dimana Manda kecil mengunci kamar dan berusaha keras melakukan gerakan2 ballet di depan kaca, memperagakan pique, jete, pas de chat, arabesque serta rond de jambe (Saya menyuruh anda membayangkan Manda kecil, bukan Manda yang sekarang). Namun, secinta2nya saya pada ballet, saya tak berani mempelajarinya secara serius di sekolah ballet. Kenapa? soalnya udah keburu minder duluan dengan postur gempal saya, jadi niat belajarpun saya urungkan dengan sendirinya. Tapi setelah dewasa, saya nyesel ampun2an, kenapa juga gak latihan ballet aja, kan lumayan bisa olahraga, toh waktu itu umur saya baru 7 tahun????!! tapi sudahlah, nasi sudah jadi bubur…

Sekarang saya akan memberitahu situasi keluarga saya saat itu. Kedua orang tua Manda kecil sibuk bekerja dan kakak perempuannya yang waktu itu baru saja memasuki usia remaja sedang jatuh cinta, tak ada yang bisa memperhatikannya secara intens. Untuk alasan keamanan, Manda Kecil dipingit di dalam rumah, sebagai gantinya, orangtua Manda mentitahkan pada asisten2 rumah tangga untuk menemani Manda bermain dan menuruti semua permintaannya ("Kalo Manda minta temenin main, tinggalin semua pekerjaan rumah." itu perintah nyokap gue).

Kurangnya kasih sayang keluarga dan sosialisasi dengan teman sebaya di masa itu, membuat Manda kecil tumbuh sebagai seorang anak yang cukup manja serta diktaktor. Sekarang coba kalian pikirkan, kecintaan pada ballet ditambah dengan 2 sifat yang sudah dijelaskan barusan, serta otoritas untuk memerintah asisten rumah tangga sesuka hati, apa jadinya?

….

Jadinya adalah, Ballet Course with Madamme Amanda, kira2 3-4 jam setiap harinya. Pesertanya? Para Asisten Rumah Tangga tentunya. Dan jangan berani kabur dari les Madamme Amanda atau dia akan mengadukanmu pada Ibunya.

Well, kejahatan ada karena adanya kesempatan kan? :P



—————

…Dosa ini akan terus membayangi sampai saya tua.

benar2 akan membayangi saya sampai tua.

Bayangan Pepen dan asisten rumah tangga lainnya memperagakan gerakan2 ballet terus berulang di benak saya. Teriakan kesakitan mereka yang meminta belas kasihan akan terus terngiang2 di kuping saya. Kala itu, saya benar2 memperlakukan mereka seperti hamster, seperti boneka, saya perintah mereka melakukan gerakan ini dan itu tanpa rasa perikemanusiaan.

Aku ini wanita jalang! (sok2 puitis)

Ah sudahlah, hentikan sok2 puitis ini. Pokoknya waktu itu saya kejam banget deh. Saya udah bilang kan kalo Pepen setia ama keluarga saya? jadi ya dia itu murid tetap saya dalam les ballet ini. Kadang saya melatihnya melakukan gerakan solo, kadang gerakan duet (kalau lagi ada Asisten Rumah Tangga perempuan lain yang sedang sial bekerja di rumah saya). Karena Pepen kecil dan ringan, maka dia selalu kebagian jadi peran dancer perempuan, sementara yang satunya kebagian dancer laki2.

Untuk lebih jelasnya
, sebaiknya kekejaman ini saya tunjukkan dengan gambar.

Saya pernah menyuruh Pepen dan mbak2 satunya (saking ganti2, lupa namanya) melakukan arabesque dan attitude berulang2 sampai kakinya bisa membentuk 90 derajat seperti ini :


Tapi mereka gak bisa2. Sampe keselnya, saya suruh mereka latihan dasar, yaitu split.

jahat ya Madamme kecil ini, masa orang dewasa disuruh split?? (merasa berdooosaaa). Tapi pada akhirnya saya gak pernah berhasil membuat mereka berhasil melakukan 2 gerakan itu.

Saya juga suruh mereka melakukan jete :


Mereka loncat2 dari ujung ke ujung ruangan berkali2, gara2 saya gak puas liat loncatan mereka yang gak indah (merasa sangaaaaaaaaaattt berdosa).


Saya suruh mereka melakukan gerakan grand fouette en tournant (semoga tulisannya bener, ini adalah 32 putaran angsa hitam Odil di lakon swan lake) :


yang ada mereka cuma bisa muter 10-12 putaran terus jatoh gara2 pusing.

Itu baru gerakan solo. belum liat yang pas de deux (duet) kan? saya suruh mereka melakukan ini :


ini :


dan ini :


gak boleh istirahat sebelum berhasil. kurang jahat apa saya coba (aaaaaaaaaaaahhh anak jahaaaaaaaaaaaattt… ToT)

Belum puas, sekali dalam sebulan saya mengadakan ujian2an. Ujiannya kayak apa? masing2 dari mereka saya kasih daftar lakon2 dalam ballet yang pernah saya bahas di kelas kursus (cailah). Terus mereka harus memilih salah satu lakon itu, lalu memperagakannya di depan saya. Belum selesai loh itu, lalu mereka harus menjelaskan cerita lakon itu secara lengkap. salah sedikit, gak lulus, ulang latihan dari awal.

Salah satu Lakon favorit yang biasanya saya gunakan dalam ujian adalah, Giselle. Ceritanya tentang gadis desa yang jatuh cinta pada seorang pria. Ternyata pria itu adalah seorang pangeran dari kerajaan yang memerintah desanya. Giselle merasa pangeran itu menipunya, lalu dia bunuh diri. Pangeran merasa berdosa, maka datanglah dia ke kubur Giselle. Lalu Giselle yang dendam terhadap pangeran muncul sebagai hantu, menakut2i pangeran, dibantu hantu2 lainnya. Tapi akhirnya Giselle menyadari cinta Pangeran terhadapnya dan melindungi pangeran dari serangan para hantu. Cerita yang aneh, tapi lakon ini lumayan beken di dunia ballet. Saya inget banget waktu itu ada mbak2 yang milih lakon ini dalam ujian saya, tapi dia gak bisa memerankan hantu dengan baik, makanya gagal.

Dan masih banyaaak lagi. Ada Firebird, The Nutcraker, SwanLake, La Sylphide, de el el.

———————–

Saya kurang ingat, tapi nampaknya saya baru berhenti memberikan les waktu saya naik ke kelas 4 SD… hehehehe….Well, that’s why saya berhutang banyak banget sama Pepen. Karena sejahat apapun gue waktu kecil, dia selalu menuruti permintaan saya ToT dan tetap menyayangi saya. Dia bisa meracuni makanan atau mencekik saya kapanpun dia mau, tapi gak dia lakukan!. Mungkin dalam hati dia juga berterimakasih sama saya juga kali ya, secara gara2 saya dia gak terserang osteoporosis dini. I ahahahahaha…. :D

Sekarang, The Mighty Pepen lagi pulang kampung dalam rangka Lebaran. AAAAARRGGHHHH!!!! The Mighty Pepen cepet pulang doong…. ToT

Moral dari cerita ini? didiklah anak anda dengan baik, pembaca. Salurkan bakat dan minat mereka, jadi mereka gak perlu cari pelampiasan,,, eeheheheee…


Manda yang somehow kangen The Mighty Pepen.