postingan panjang dan serius. bacalah kalau anda2 sedang benar2 luang. hehe.
kalo gak luang, scroll2 aja, cari postingan lain. hey? jangan sia2kan kedatangan anda kemari! betul?
Selama 20 tahun hidup saya, baru hari ini saya mengerti bahwa saya adalah makhluk yang kurang bersabar dan egois. Entah apa yang membuka pikiran, tapi baru saya mengerti dan mau menerima bahwa selama ini saya tumbuh sebagai orang yang selalu tergesa2, malas, temperamen, sombong dan keras kepala.
Ahhh,,,, bagi yang terkejut atau sok2 terkejut, yah sayangnya saya memang seperti itu adanya. gendut dan soktau. gendut dan sombong. oohhhohohoooohhh ternyata saya sangat2 antagonis, ehehehehe.
Kesabaran tidak ada dalam kamus saya, jika keinginan saya tidak kunjung tercapai saya tidak mau menunggu lebih lama lagi. Bila permohonan saya tidak terkabul saya menangis dan mengamuk, marah kepada keadaan. Bila saya merasa terlalu diatur, saya memberontak, padahal semua itu demi kebaikan diri saya sendiri. Saya menganggap cara saya-lah yang paling benar, saya-lah yang harus dimengerti, bukan mereka, harusnya orang lain merasa beruntung bahwa saya masih mau berdiskusi dan berbicara mengenai apa yang saya pikirkan.
Makanya saya bisa ngamuk2 sama petugas loket administrasi ITB (tempat saya menuntut ilmu saat ini) waktu jatah sks saya dipotong (padahal salah saya, saya yang telat daftar ulang dan saya gak tahu ada aturan itu, tapi malah loket kaca petugasnya yang gue gedor, sambil tereak "SIAPA TUH YANG BIKIN ATURAN KAYAK GITUUU???!!! SINI BAWA KE DEPAN SAYA!!! KOK BIKIN HUKUMAN YANG MERUGIKAN MASA DEPAN MAHASISWA!!! GAK MIKIR APA?! DENDA AJA NAPA???!!! PERINGATAN DULU AJA, KENAPA?! MANA GAK ADA NOTIFIKASI YANG JELAS??!!! EMANG GUE DUKUN BISA TAU PERATURAN TANPA ADA PENGUMUMAN???!!!!", well, petugasnya ampe cuma bisa diem dan bengong, ahahahaha).
Ternyata, peraturannya emang ada di web akademik. Secara baru diberlakukan 2 tahun ini dan banyak mahasiswa yang lebih suka meneliti Friendster ketimbang web akademik (termasuk gue) jelas banyak yang gak tau. Dan banyak kejadian lainnya, yang kebanyakan dikarenakan saya kurang teliti, kurang memperhatikan dan malas memperbaiki diri, tapi selalu saya limpahkan ke orang2 yang sialnya berurusan dengan saya.
Sebenernya sifat ini beberapa kali gue sadari di masa SMA dan selama 3 tahun kuliah ini, dan yah, cukup merugikan, tapi gue selalu mengelak, gue berdalih dalam hati, bahwa ini adalah bagian dari sifat pemberani dan berpendirian gue. Jika ada yang berani berkata sebaliknya, maka gue akan sangat sangat sangat marah dan bisa dipastikan gue akan membela pemikiran gue yang salah kaprah itu mati2an.
Berhubung 6 bulan ini (terutama 2 bulan gue marahan sama kawan dan 2 bulan gue berlibur di Jakarta), gue banyak berpikir dan menganalisis tentang hidup, diri gue dan masa depan (yang sebelumnya sangat malas gue lakukan, pikiran tentang masa depan begitu rumit dan menakutkan buat gue, beberapa kali gue tertekan dengan bayangan wanita gendut memakai tank top pink norak berenda putih, muka kusam penuh komedo, duduk di sofa berdebu, memakan kuaci sambil nonton sinetron murahan sementara bon hutang dan tagihan bank bertumpuk di meja kopi sebelah sofa, gyaaaaaa!!!). Semua begitu menakutkan, sampai akhirnya gue mau juga mengulik kotak pandora gue itu. Dan yah, gue mendapatkan pemecahan yang menurut gue terbaik yang bisa gue lakukan saat ini.
Sudah saatnya gue tinggalkan sifat2 remaja kekanakan itu dan mulai berpikir dan bertindak layaknya orang dewasa.
kok bisa tiba2 berubah pikiran c man? ada apa?
jadi gini ceritanya,
3 hari yang lalu gue bertengkar hebat dengan nyokap. Kami berdua tipe sama2 keras dan gak bisa diatur (dia nyadar gak ya ini nurun dari dia?), and… yeah, well, gak bisa dipungkiri, Ibu gue masih membawa beberapa sifat kanak2nya sampai sekarang. 2 orang dengan masalah orang dewasa namun masih berjiwa anak2 bertengkar, apa jadinya? jadinya adalah perang dunia ke III, kami berteriak satu sama lain, memaki (gue gak, itu ibu gue), mengatai ‘Ibu jahat’ dan ‘anak jahat’ (tuh kan? terbukti satu darah), menuduh satu sama lain, menunjuk (duh duh, gue takut durhaka), menuntut pihak lawan mengalah dan diri sendiri menolak untuk mengalah (egois).
Selama ini kami memendam prasangka terhadap pihak lawan dan hari itu semua pikiran buruk terungkap. Banyak dan macem2 masalahnya. Dari yang dia mengancam membunuh sahabat gue karena gue lebih sering bareng sahabat gue ketimbang keluarga (oh mari anggap saja Ibu gue bercanda, even gue bener2 melarang sahabat yang satu itu untuk datang dan menelpon lagi, takut dia dibunuh).
Gue kelepasan ngomong kalo gue gak betah di rumah dan lebih betah di Bandung (dan Ibu gue langsung berkata "kenapa gak betah? emangnya siapa yang ganggu lo? emang kita colek2 lo?" oh please deh, jangan mengartikan ‘gak betah’ dengan ‘jangan colak colek’, lebih dalam dari itu maknanya, bu…).
Ibu gue mengkritik kebiasaan gue berkaca di mana saja, kata2nya menyiratkan kalau dia khawatir gue gila ("ha? apa yang salah? aku kan perempuan" bela gue, even dalam ati nyadar juga kalo itu keanehan, gue berkaca di kaca mobil di parkiran, kaca bangunan, kaca spion, kaca burem, yeah, itu aneh). Itu baru yang ringan2, yang berat2 butuh postingan lebih panjang lagi. Jadi mari kita persingkat.
Pertengkaran berakhir dengan ancaman biaya kuliah dan uang jajan diberhentikan dan ibu saya yang darah tingginya jadi kumat (gue lupa ibu gue lagi sakit)
Malam itu saya menangis terus menerus sampai mata saya bengkak kayak bakso (besoknya gue kayak gendut tionghoa, tanpa bermaksud SARA) dan suara gue hilang karena terus berteriak. Dan akhirnya saya putuskan untuk izin kerja hari itu, karena alasan apapun tampak tak bisa menyembunyikan bekas tangis tadi malam.
Gue dendam. gue marah. gue kesal. gue mulai berpikir2 darimana gue bisa meneruskan kuliah tanpa uang kiriman. cari kerja (apa starbucks terima pelayan gendut? heeeyy??? kami gendut kayak nekomaru si kucing pemanggil tamu, apa salahnya? kami bawa hoki!). minjem uang kerabat. pindah kos ke tempat yang lebih murah. bobol tabungan. semuanya gue pikirkan. gue harus keluar dari rumah ini. harus. sedikit takut. tapi harga diri lebih besar, jadi biarlah gue hidup di jalanan jadi mbak2 punk atau hippies, yang penting jauh dari Ibu gue dan dikte2annya yang menyebalkan.
Saya terus menghindar bertatap mata dan berbicara dengan Mama selama 2 hari berikutnya. Saya mencari dukungan untuk pembenaran tentang apa yang saya lakukan ke semua teman2 saya. Sampai akhirnya tadi malam saya menyadari satu hal.
Ibu saya sedang duduk menonton televisi sendirian, tampak begitu kesepian, tua dan dia menangis.
Sayapun tepekur merenung, merasa ada yang mengganjal di hati. Dipikir2, Ibu saya sudah kenyang makan asam garam kehidupan. Dia berkorban banyak sekali untuk mendapatkan kehidupan kami yang sekarang ini. Dia orang yang sangat keras kepala dan cenderung menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya. Dia posesif, dia over protektif, dia cemburuan, dia manja, namun saya tahu dia sebenarnya berhati baik, survivor dan mengharapkan yang terbaik untuk kehidupannya di masa depan.
Baru-baru ini Ibu saya mengalami serangan stroke ringan, diabetes dan darah tinggi. Dia masih dalam tahap menyesuaikan diri dengan pola makan terbatas dan tubuh yang tidak bisa diajak kompromi untuk berjalan jauh dan bergerak2 lagi. Sifat temperamennya yang memang sudah ada sejak sebelum sakit makin menjadi2, dia membentak, memaki, menuduh, semua orang yang bisa ditangkap mata. Sampai akhirnya, gue dan kakak gue pun habis kesabaran. Kami memutuskan untuk diam dan menjauh agar tidak merangsang kemarahan Mama dan kami tidak makan hati.
Dalam pertengkaran kemarin, Ibu saya sempat berkata "Mama gak mau sendirian di masa tua! kamu harus kerja buat bantu Mama hidup juga nanti" (dia sempat panik karena gue bilang gue malas kerja kantoran, dia nangkepnya gue malas kerja maunya nganggur2 aja, padahal maksud gue, gue malas kerja monoton di belakang meja, terbukti gue nguap tiada henti selama jam kerja praktek, hoohh… nampak salah paham…). Entah kenapa sindrom Laba-Laba Ratu (baca ini) masih bercokol, jadi gue langsung ketakutan, di benak gue adalah gue dipasung, cuma boleh keluar untuk kerja, langsung pulang, setor gaji. udah. TIDAAAKK hidup apa itu!! saya juga mau jalan2 afterwooorrk!!! saya pengen bebas!! saya pengen jadi wanita gaul dewasa nan bertanggung jawaab!!!. Jadi gue langsung berkata "Gak mau". Jelas dia langsng kecewa berat dan putus asa.
Padahal kalo dipikir2, emang semua anak kayak gitu kan ya?.
Emang sebagian besar orang tua pasti bersikap rese dengan menuntut anaknya banyak di rumah.
Emang sebagian besar orang tua khawatir anaknya kenapa2 (termasuk takut anaknya gila karena keseringan ngaca)
- berdasar pooling ke beberapa sahabat -
Saat ini, gue dan nyokap gue sama2 kayak anak kecil. Harus ada yang mau mengalah dan bersikap dewasa. Kalo masing2 saling menuntut yang lain untuk mengerti ya gak akan pernah selesai. Nyokap gue bakal kesepian dan stress terus (dan berdampak buruk pada kesehatannya) dan gue bakal gak enak ati, apa2 gak enak (3 hari itu gue bengong di kantor terus).
oh damn. kayaknya harus gue deh yang bergerak.
Jadilah seharian ini gue berpikir dan berpikir, dan yah, akhirnya gue nemu juga salah gue dimana.
orang bijak gak akan mati2an mempertahankan keinginannya, tapi memikirkan solusi yang menguntungan semua orang.
orang bijak gak akan terbawa emosi.
orang bijak akan sabar menghadapi masalah.
orang bijak akan menghadapi kemarahan Ibunya dengan tersenyum pengertian (meskipun sebenernya belum bisa ngerti),mengatakan hal yang menenangkan (meskipun dirinya lebih kebat kebit).
orang bijak akan melawan rasa trauma dan tidak nyamannya demi menjaga perasaan Ibu sendiri (meskipun…. dia tidak bisa berhenti menggoyangkan kaki karena gugup)
orang bijak akan menjaga hubungan antara orang2 yang disayanginya agar orang2 itu tidak saling cemburu dan membunuh (hohoho)
orang bijak akan merencanakan hidupnya dengan baik dan penuh ketekunan.
…dan masih banyak hal bijak yang akan orang bijak lakukan. Hehehehe.
kalo memang gue ditakdirkan gendut selamanya, gue mau jadi ‘gendut bijak’, jangan ‘gendut antagonis’.
‘gendut bijak’ terdengar lebih bersahaja, kan?
hahahahahahaaaaa…..
kayaknya nanti malam gue bakal coba ngomong ke nyokap deh.
Doakan ya!
I guess, gue baru naik 1 level lagi? horeeee!!!
Baik2lah dengan orang2 yang menyayangi kalyan, teman2…. terimakasih sudah mau membaca, luph u all!
Mandhut.



Hahaha… Ga nyangka! Ternyata gw bener2 jd komentatir pertama! xP
Btw, gw baca dr awal sampe akhir!
Dan entah kenapa, kok [lagi2] gw ngerasa mirip ya ama lo?
Hehehe… ;D
Gw jg sering berantem ama Nyokap! *tanya Nieke deh, kalo ga percaya!* ;P
Tp ya gitu, ga tahan lama2. Takut kualat!
Kadang jg sampe bikin Mama nangis…
*hikz… jd makin kangen deh ama Mama!*
Kalo udh jauh gini, baru deh kangen bukan maen ama Mama.
Kayaknya nyesel bgt dulu pernah ‘durhaka’.
Apalagi kalo sampe Mama bener2 ‘pergi’ dr dunia ini!
Huaaaaaaaaaaaa…!!! Gw aja ga berani ngebayangin!
Tp gw setuju bgt ama kata2 lo ttg orang bijak!
Kebetulan gw jg org nya emosian, suka nyalahin org laen… (tuh kan, lagi2 kita sama!)
Tp, gw jg bertekat di usia gw yg menjelang 21 tahun ini… Gw harus bener2 mengubah semua bad habit itu!
Kalo lo pengen jd ‘gendut bijak’, gw malah pengen jd ‘kurus bijak’! Hahahaha… ;D
Comment by Juminten — July 26, 2007 @ 5:09 pm
Amiennn… saya doa kan deh ya.
sama, saya dulu pas SMA juga sering banget diem-dieman sama ibu saya(ga ngotot2an loh). Saya hafal betul sifat ibu saya, yang kalau udah ngomong bisa-bisa menggiris-ngiris hati yang mendengarnya (ibu saya memang ratu tega).
Biar bagaimana pun, dia kan tetap ibu saya gitu.
Yah saya sih mendingan ngalah aja deh, mengalah untuk menang
Comment by putlie — July 26, 2007 @ 6:19 pm
mandaaaa..dari aku kecil, aku hampir ga pernah brani bikin mama nangis….sedih liat mama sedih..
kadang2 kita emang mesti ngalah, manda..walaupun benar, walaupun makan ati, tapi tetap orang tua…toh nanti pelan2 Mama jg bakal nyadar kalo anaknya bisa juga ngomong bener…*ketahuan banget sih suka ngaco kalo ngomong…hohohoh..*
Comment by Fanny — July 26, 2007 @ 8:14 pm
bukan mau komen ttb lo-dan-nyokap..
cuma mau komen ga-mau-kerja-kantoran, sama bgt!!! asli, gw gak betah banget duduk diem, kedinginan gara2 ac, ngadep laptop, oh noooo… gak kebayang kalo harus melewati hidup kayak gitu bertaun2. pasti ada kan ya kerjaan yang seru, yang gak NGODING, tapi tetep bertanggung jawab? ada kan man? ada doooonkkkk pliiiiiiissss…
Comment by nyiell — July 27, 2007 @ 12:38 am
mandaaa.., manda hrs nurut ke mama, manda hrs patuh ke mama, manda ga boleh marahan ke mama, iya manda ya..ya.. manda anak baiiik deh..hehehe
Comment by teruNe — July 27, 2007 @ 1:52 am
Mandaaaaaa,,
mamaku juga abis stroke ringan.
aku baru sadar kalo mamaku sudah tua, tidak sekuat yang dulu lagi.. :’(
Comment by Abie — July 27, 2007 @ 2:20 am
Ummbbb, secara garis besar komennya udah dijelasin sistah saya tuh Manda..
sedikit tambahan aja dari gue:
nanti setelah menjadi Ibu, pasti kita ngerti sendiri apa aja ‘beban’ yg udah dijalani Ibu kita..
kalo skarang ato kmaren2 pernah ngebuat Ibu menangis, kira2 entar kita ‘dibikin nangis’ juga yaa..?
Comment by Nona Nieke,, — July 27, 2007 @ 3:42 am
Mandiche.
gua klo punya anak kayanya bakal jadi ibu seperti nyokaplu deh.
dari sekarang aja gua mikir gua mau anak gua tumbuh kaya gini, gini, gini.
segala manner yg gua tau (yg gua cari tau sendiri tanpa diajarin orang tua, karena ga mao orang tua gua dianggep tidak ber-manner) bakal gua kasitau.
apa yg gua ga pengen dia lakukan bakal gua kasitau dari kecil.
mo gua ajarin hidup susah.
ampe jadwal cuci piring abis makan malem juga kepikir loh
gua si supervisor bantu ngelap setelah si anak #1 cuci piring di hari senin.
mo gua ajarin nyuci baju tiap weekend sperti yg gua lakukan di kosan.
gua makin meng-ibu-ibu ya Man?
hihihi, klo iya,
ga jauh-jauh jg lo, tememan ma yg berjiwa ibu-ibu
jadi serem.
padahal orang tua tercinta sangat membebaskan gua tumbuh sesuka hati.
ga pernah ada dilarang-larang kmana-kmana.
ga adil ya buat anak gua *nantinya* ?
setelah 4 taon ga tiap hari ktemu orang tua,
gua jadi ngerasa klo waktunya gua ketemu,
ga mo berantem-beranteman deh.
udah habis jatah berantem pas kecil ampe sma
klo nyokap negor aneh-aneh kayak:
“kemeja kotor tuh lengannya dilepas dulu gulungan tangannya sebelum dicuci”
“udah dimasakin banyak bukannya dimakan”
sebisa mungkin ga mo ngebantah deh.
walo jiwa Leonista gua memberontak hehehe
klo nyokap gua cerita lagi berantem sama si bokap,
dulu gua suka “aaah.. apaan sih.. tau ah..”
sekarang ya..
ya sudahlah..
mungkin emang cuma bisa cerita ke kita.
mungkin ga butuh solusi, tapi butuh tempat sampah.
hm..
klo lu sendiri nyadar ga-mo-kerja-kantor itu salah pengertian,
cepet-cepet jelasin gih Man.
nyokap pas gua mo ke itb perna nangis loh.
dia sedih karena ngerasa ga diajak diskusi kesulitan selama gua di fk.
dia kaget kok tiba-tiba gua memutuskan gitu aja.
jadi sekarang sebisa mungkin rencana gua ga simpan sendiri.
kasitau ke mereka, ceritain sejelas-jelasnya.
smoga cepet damai lagi ya honeibonei.
klo pengen cerita ke gua, cerita aja.
walo gua lagi dengan heboh-hebohnya cerita apapun.
okeh hehehe.
loph u.
muah muah.
Comment by Tania — July 27, 2007 @ 4:55 am
komen barusan panjang yah hihihihi
Man.
lupa bilang.
mengingat posting si Labah-Labah Ratu.
nyokaplu kayanya uda mengalahkan kekerasan hatinya,
dengan ngasi lu berkeliaran di Bandung.
mungkin.
mungkin saatnya dikau gantian mengalahkan kekerasan hatimu
eniwei.
semangat ya Man..
smoga ibu-ibu kita tetap sehat..
Comment by Tania — July 27, 2007 @ 4:59 am
pasti basi kalo gw bilang gw juga sama kaya lo. sama2 temperamen dan sama2 sering berantem sama nyokap. dan sama2 ga sepikiran dalam soal karir.
karna nyokap guru, nyokap pengen gw jadi guru juga. gw pernah jadi guru. yah, ngehonor jaman kuliah lah… tapi gw ga nyaman karna gw ngerasa ada banyak hal yang ga bisa gw ekspresikan dengan jadi guru. akhirnya, pas ada kesempatan jadi reporter dateng, gw langsung terima. awalnya nyokap ga setuju. tapi sekarang ini nyokap jadi satu2nya orang yang selalu nungguin gw pulang tiap malem dan dengerin cerita gw tentang kerjaan gw seharian itu sambil nemenin gw makan malem *that’s why gw sekarang males makan diluar*
yah, kalo memang nyokap lo ga mau ngalah, mungkin memang kita sebagai anak yang harus ngalah. tapi kalau ada kesempatan dan kita bisa membuktikan bahwa dengan memiliki pekerjaan yang bukan pekerjaan kantoran a.k.a behind desk kita bisa berhasil dan sukses, nyokap juga pasti bahagia koq…
*bukan berarti sekarang gw udah sukses sebagai reporter yah.. cuman mungkin nyokap mulai membuka pikirannya aja setelah melihat betapa bahagianya gw dengan pekerjaan gw yang sekarang x)
Comment by Kana — July 27, 2007 @ 5:23 am
ha.. kayanya hampir semua anak perempuan yang hidup di dunia ini ngalamin yang namanya berantem sama nyokap.
tapi kalo sampe anceman ngebunuh temen lu dengan alasan ‘cemburu’ sih emang agak berlebihan. i think itu adalah pertanda kalo konflik di antara kalian udah cukup parah. dan gua senang akhirnya lu bisa merenungi hal itu dan bertindak secara lebih ‘anak-awi’.
*halah, sok bijak kali pun gua..*
eh, btw gua baru tau kalo ternyata lu anak ITB. jurusan apa bu?
Comment by rime — July 27, 2007 @ 6:22 am
hehe.. baru baca profil kamu tadi.
cewe Leo ya? pantesssssssssssss…
-cewe Leo juga, haha..-
Comment by rime — July 27, 2007 @ 6:25 am
Gw termasuk rajin berurusan dan marah2an sama nyokap. Tapi mnurut gw itu brarti nyokap gw bner2 mau ngertiin gw. Walopun ada banyak hal yang bikin gw kesel karena pemikiran nyokap gw yg terlalu negative mulu, gw pun sadar klo itu salah satu dari sikap seorang ibu yang gk mau anaknya terjerumus hal berbahaya. Tapi kita gk slalu harus berpikir negative trus kn, klo apa2 takut, lama2 gw bner2 jd org yg kyk lo bilangin, pergi keluar buat kerja dan langsung pulang ke rumah.
Tapi yang bner2 lebih overprotective ke gw malah bokap gw. Walaupun engga kliatan, krn dia nunjukinnya lewat titah nyokap gw ke gw.. Dan itu baru gw sadarin akhir-akhir ini. Gw pun pnah berpikir klo mungkin aja gw salah marahin org..
Comment by frilla — July 27, 2007 @ 8:10 am
ehmmm…berusaha terus ya man jadi orang bijak, baca postingan mu bikin aku sadar aku jauh dari bijak, walaupun berantem sama mama insya Allah cuma 2 kali , itu pun gw yang salah.
bener kata tania, mungkin sekarang saatnya lo ngurangin rasa keras
Comment by ratih — July 27, 2007 @ 8:34 am
Amin… semoga kebijakannya cpt tercapai shg bs berbuat kebajikan…
Comment by Au' — July 27, 2007 @ 8:55 am
hahah, setelah membaca post lo.
gua ngerti kenapa lo kangen gua.
hihihi. gua juga kangen lo, ndut.
at least we’re not losing each other, rite?.
Comment by si gondrong ingusan — July 27, 2007 @ 10:38 am
sadar akan kelemahan diri, itu sudah 1/2 menuju peribahannya sendiri.
semangat manda!
berubahlah sedikit demi sedikit….jgn gamopang menyerah. niat baik akan selalu mendapatkan jalan. (but saya ga bilang kalo it’s goin to be easy, loh yaa…hehehe)
:)
Comment by ndutyke — July 27, 2007 @ 8:00 pm
kebetulan banget man, gw emang pengen banting stir ke marketing, meskipun kuliah computer science gini.. doakan saya yah!!
btw, gimana niy perkembangan cerita ini? udah jadi melangkah duluan belum? hehe..
Comment by nyiell — July 28, 2007 @ 2:42 pm
tulisan yg jujur dan terbuka, jadi smangat membacanya dari awal sampe akhir.
kalo aku yang ngasih ujian kenaikan tingkat, ini naiknya seenggaknya dua level neng, congrats!
salam buat ibu.
Comment by aroengbinang — July 29, 2007 @ 11:30 am
membaca dengan enak dari awal sampe akhir lo bo’ ^_^
.
hmm,,dulu aku juga sering tuh ngambek2an sama ibu.
Cuman makin ke sini, mulai berkurang, secara aku takut kualat, karena berbuat kasar sama ortu kan paling dilarang sama Yang Di Atas,,,
.
kalo besok2 bertengkar lagi sama mami, inget2 aja gimana mami mu dulu berjuang antara hidup dan mati buat ngelahirin kamu, man…
kayanya inget2 hal itu bisa bikin kita langsung ngalah dan nurut sama semua apa kata mami
.
be a happy family yay, hoho ^_^
Comment by upik — July 30, 2007 @ 1:46 am
hmmm.. aku punya solusinya manda. solusi semuanya, semua yg ada dicerita kamu. ntar deh aku kasih kalau ketemu di Bandung.
Comment by haha — July 30, 2007 @ 5:05 am
huaaaaahaa..Gendut Bijak. taelah yang ada Gendut laperannn..heheh
Comment by la mendol — July 30, 2007 @ 6:01 am
man, man…terlepas siapa yg salah, siapa yg ngalah ato siapa yg minta maaf dulu..yg pasti ini pelajaran, klo udah gede dan punya anak jangan ditiru, nanti anak loe bakal bilang yg sama, harusnya kita2 belajar dari kesalahan dan kekurangan ortu kita, klo mereka bisa, harusnya kita bisa lebih baik dari mereka, sejelek2nya minimal kan sama, tapi masa kita mau minimal? ya kan?
koq gw kyk memberikan nasiha2 pernikana dan berkeluarga ke elo ya? hahahaha….nikah gih! lho?!
Comment by hanin — July 30, 2007 @ 7:30 am
Huaaaaaa…. denger Ratu Laba2 menitikan air mata, gw ikutan sedih n netes juga air mata…
Sedih banget kl denger ada ibu yg nangis sedih karna anak nya. Secara gw dulu pun sering bikin nyokap gw kaya gitu… Huaaaaa… ampuni daku Maknyaaak…! muah-muah-muah! *cium kaki nya*
Say, itu lah pendewasaan diri. Bersyukurlah elo bisa mikir kaya gini coz diluaran sana ada anak yg ga sadar2.
Waktu seumur lo (20 ke 21) gw pun begitu. Tp sekarang ga lagi. Dah sadar, ogah jadi anak durhaka, gw ga mao masuk neraka n pisah dg keluarga pas di akherat
*huaaaaaa…. aer mata gw banjir lg… napa siy lo cerita yg sedih2 gini…*
apa kata nyokap gw, skarang slalu gw iya in, gw punya apa pun slalu inget nyokap gw. Apapun gw perjuangin buat nyokap untuk nebus kesalahan gw yg dulu2 waktu jaman jahiliyah n gw selalu ngelawan… Pengen nya sih saat2 itu gw hapus dari sejarah hidup gw. Gw nyesel banget pernah kaya gitu…
hiks-hiks-hiks… sedih euy… udah ah…
Comment by novee — July 30, 2007 @ 8:37 am
man, ama nyokap kok berantem sih. Baikan dunk. Kalo males kerja mendingan buka usaha aja.
Hehehe…sering2lah maen ke web akademik biar ga ketinggalan info-nya.
Comment by ade a.k.a bluedee — July 30, 2007 @ 11:58 am
pada akhirnya mengalah pada ibu lebih bijak..kasihan khan sudah tua
Comment by iman brotoseno — July 31, 2007 @ 7:04 am
sabar aje … ng .. ngomong apalagi ya .. lupa tadi dah mikir padahal …
ya .. sabar aje deh …
Comment by bengsin — August 1, 2007 @ 6:13 am
menghadapi ortu dengan kelapangan dada kadang berat, tapi di sinilah ujian yang mesti dilewati seorang anak…sabar ya ndu eh manda
Comment by mashuri — August 1, 2007 @ 10:23 pm
yang laen udah ngasih spirit yang keren2,gw kasih usul super asal aja deh:
Klo mau belajar (jalur pintas) untuk lebih menghargai Ibu atau Ayah kita, coba aja pisah yang jauhhhh, misal beda pulau atau negara sekalian. Secara naluri ketika berkumpul setelah sekian lama, kita akan cherish every moment we spent together with Mommy and Daddy. Ngumpulnya jangan lama2 bentar aja. Jadi ga sempet berantem, hehehe…soalnya waktunya abis buat manja-manjaan aja..ghihihi..
Comment by olip — August 2, 2007 @ 5:47 am
ngalah ama orangtua, nggak ada salahnya kok, Nda! apalagi ke ibu. kesyian ah si Mama …
semua orangtua pasti bermaksud baik ke anak-anaknya, kok. cuma kadang-kadang nggak klop di komunikasi-nya aja.
Comment by Vina Revi — August 3, 2007 @ 8:12 am
wa… tambah dewasa aja nih Nda!
Comment by novi — August 18, 2007 @ 5:10 am
hahahaa.., kasihan ntu si gendut yg nga bisa ngumpet n nga bisa jOngkok…, so bersukurlah bway klian., orng2 yg nga gendut..
Comment by putra — August 30, 2007 @ 6:07 am
eh ada yg Lbih seru nga..?/ gw mLai sTUck???
Comment by putra — August 30, 2007 @ 6:13 am