postingan panjang dan serius. bacalah kalau anda2 sedang benar2 luang. hehe.
kalo gak luang, scroll2 aja, cari postingan lain. hey? jangan sia2kan kedatangan anda kemari! betul?
Selama 20 tahun hidup saya, baru hari ini saya mengerti bahwa saya adalah makhluk yang kurang bersabar dan egois. Entah apa yang membuka pikiran, tapi baru saya mengerti dan mau menerima bahwa selama ini saya tumbuh sebagai orang yang selalu tergesa2, malas, temperamen, sombong dan keras kepala.
Ahhh,,,, bagi yang terkejut atau sok2 terkejut, yah sayangnya saya memang seperti itu adanya. gendut dan soktau. gendut dan sombong. oohhhohohoooohhh ternyata saya sangat2 antagonis, ehehehehe.
Kesabaran tidak ada dalam kamus saya, jika keinginan saya tidak kunjung tercapai saya tidak mau menunggu lebih lama lagi. Bila permohonan saya tidak terkabul saya menangis dan mengamuk, marah kepada keadaan. Bila saya merasa terlalu diatur, saya memberontak, padahal semua itu demi kebaikan diri saya sendiri. Saya menganggap cara saya-lah yang paling benar, saya-lah yang harus dimengerti, bukan mereka, harusnya orang lain merasa beruntung bahwa saya masih mau berdiskusi dan berbicara mengenai apa yang saya pikirkan.
Makanya saya bisa ngamuk2 sama petugas loket administrasi ITB (tempat saya menuntut ilmu saat ini) waktu jatah sks saya dipotong (padahal salah saya, saya yang telat daftar ulang dan saya gak tahu ada aturan itu, tapi malah loket kaca petugasnya yang gue gedor, sambil tereak "SIAPA TUH YANG BIKIN ATURAN KAYAK GITUUU???!!! SINI BAWA KE DEPAN SAYA!!! KOK BIKIN HUKUMAN YANG MERUGIKAN MASA DEPAN MAHASISWA!!! GAK MIKIR APA?! DENDA AJA NAPA???!!! PERINGATAN DULU AJA, KENAPA?! MANA GAK ADA NOTIFIKASI YANG JELAS??!!! EMANG GUE DUKUN BISA TAU PERATURAN TANPA ADA PENGUMUMAN???!!!!", well, petugasnya ampe cuma bisa diem dan bengong, ahahahaha).
Ternyata, peraturannya emang ada di web akademik. Secara baru diberlakukan 2 tahun ini dan banyak mahasiswa yang lebih suka meneliti Friendster ketimbang web akademik (termasuk gue) jelas banyak yang gak tau. Dan banyak kejadian lainnya, yang kebanyakan dikarenakan saya kurang teliti, kurang memperhatikan dan malas memperbaiki diri, tapi selalu saya limpahkan ke orang2 yang sialnya berurusan dengan saya.
Sebenernya sifat ini beberapa kali gue sadari di masa SMA dan selama 3 tahun kuliah ini, dan yah, cukup merugikan, tapi gue selalu mengelak, gue berdalih dalam hati, bahwa ini adalah bagian dari sifat pemberani dan berpendirian gue. Jika ada yang berani berkata sebaliknya, maka gue akan sangat sangat sangat marah dan bisa dipastikan gue akan membela pemikiran gue yang salah kaprah itu mati2an.
Berhubung 6 bulan ini (terutama 2 bulan gue marahan sama kawan dan 2 bulan gue berlibur di Jakarta), gue banyak berpikir dan menganalisis tentang hidup, diri gue dan masa depan (yang sebelumnya sangat malas gue lakukan, pikiran tentang masa depan begitu rumit dan menakutkan buat gue, beberapa kali gue tertekan dengan bayangan wanita gendut memakai tank top pink norak berenda putih, muka kusam penuh komedo, duduk di sofa berdebu, memakan kuaci sambil nonton sinetron murahan sementara bon hutang dan tagihan bank bertumpuk di meja kopi sebelah sofa, gyaaaaaa!!!). Semua begitu menakutkan, sampai akhirnya gue mau juga mengulik kotak pandora gue itu. Dan yah, gue mendapatkan pemecahan yang menurut gue terbaik yang bisa gue lakukan saat ini.
Sudah saatnya gue tinggalkan sifat2 remaja kekanakan itu dan mulai berpikir dan bertindak layaknya orang dewasa.
kok bisa tiba2 berubah pikiran c man? ada apa?
jadi gini ceritanya,
3 hari yang lalu gue bertengkar hebat dengan nyokap. Kami berdua tipe sama2 keras dan gak bisa diatur (dia nyadar gak ya ini nurun dari dia?), and… yeah, well, gak bisa dipungkiri, Ibu gue masih membawa beberapa sifat kanak2nya sampai sekarang. 2 orang dengan masalah orang dewasa namun masih berjiwa anak2 bertengkar, apa jadinya? jadinya adalah perang dunia ke III, kami berteriak satu sama lain, memaki (gue gak, itu ibu gue), mengatai ‘Ibu jahat’ dan ‘anak jahat’ (tuh kan? terbukti satu darah), menuduh satu sama lain, menunjuk (duh duh, gue takut durhaka), menuntut pihak lawan mengalah dan diri sendiri menolak untuk mengalah (egois).
Selama ini kami memendam prasangka terhadap pihak lawan dan hari itu semua pikiran buruk terungkap. Banyak dan macem2 masalahnya. Dari yang dia mengancam membunuh sahabat gue karena gue lebih sering bareng sahabat gue ketimbang keluarga (oh mari anggap saja Ibu gue bercanda, even gue bener2 melarang sahabat yang satu itu untuk datang dan menelpon lagi, takut dia dibunuh).
Gue kelepasan ngomong kalo gue gak betah di rumah dan lebih betah di Bandung (dan Ibu gue langsung berkata "kenapa gak betah? emangnya siapa yang ganggu lo? emang kita colek2 lo?" oh please deh, jangan mengartikan ‘gak betah’ dengan ‘jangan colak colek’, lebih dalam dari itu maknanya, bu…).
Ibu gue mengkritik kebiasaan gue berkaca di mana saja, kata2nya menyiratkan kalau dia khawatir gue gila ("ha? apa yang salah? aku kan perempuan" bela gue, even dalam ati nyadar juga kalo itu keanehan, gue berkaca di kaca mobil di parkiran, kaca bangunan, kaca spion, kaca burem, yeah, itu aneh). Itu baru yang ringan2, yang berat2 butuh postingan lebih panjang lagi. Jadi mari kita persingkat.
Pertengkaran berakhir dengan ancaman biaya kuliah dan uang jajan diberhentikan dan ibu saya yang darah tingginya jadi kumat (gue lupa ibu gue lagi sakit)
Malam itu saya menangis terus menerus sampai mata saya bengkak kayak bakso (besoknya gue kayak gendut tionghoa, tanpa bermaksud SARA) dan suara gue hilang karena terus berteriak. Dan akhirnya saya putuskan untuk izin kerja hari itu, karena alasan apapun tampak tak bisa menyembunyikan bekas tangis tadi malam.
Gue dendam. gue marah. gue kesal. gue mulai berpikir2 darimana gue bisa meneruskan kuliah tanpa uang kiriman. cari kerja (apa starbucks terima pelayan gendut? heeeyy??? kami gendut kayak nekomaru si kucing pemanggil tamu, apa salahnya? kami bawa hoki!). minjem uang kerabat. pindah kos ke tempat yang lebih murah. bobol tabungan. semuanya gue pikirkan. gue harus keluar dari rumah ini. harus. sedikit takut. tapi harga diri lebih besar, jadi biarlah gue hidup di jalanan jadi mbak2 punk atau hippies, yang penting jauh dari Ibu gue dan dikte2annya yang menyebalkan.
Saya terus menghindar bertatap mata dan berbicara dengan Mama selama 2 hari berikutnya. Saya mencari dukungan untuk pembenaran tentang apa yang saya lakukan ke semua teman2 saya. Sampai akhirnya tadi malam saya menyadari satu hal.
Ibu saya sedang duduk menonton televisi sendirian, tampak begitu kesepian, tua dan dia menangis.
Sayapun tepekur merenung, merasa ada yang mengganjal di hati. Dipikir2, Ibu saya sudah kenyang makan asam garam kehidupan. Dia berkorban banyak sekali untuk mendapatkan kehidupan kami yang sekarang ini. Dia orang yang sangat keras kepala dan cenderung menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya. Dia posesif, dia over protektif, dia cemburuan, dia manja, namun saya tahu dia sebenarnya berhati baik, survivor dan mengharapkan yang terbaik untuk kehidupannya di masa depan.
Baru-baru ini Ibu saya mengalami serangan stroke ringan, diabetes dan darah tinggi. Dia masih dalam tahap menyesuaikan diri dengan pola makan terbatas dan tubuh yang tidak bisa diajak kompromi untuk berjalan jauh dan bergerak2 lagi. Sifat temperamennya yang memang sudah ada sejak sebelum sakit makin menjadi2, dia membentak, memaki, menuduh, semua orang yang bisa ditangkap mata. Sampai akhirnya, gue dan kakak gue pun habis kesabaran. Kami memutuskan untuk diam dan menjauh agar tidak merangsang kemarahan Mama dan kami tidak makan hati.
Dalam pertengkaran kemarin, Ibu saya sempat berkata "Mama gak mau sendirian di masa tua! kamu harus kerja buat bantu Mama hidup juga nanti" (dia sempat panik karena gue bilang gue malas kerja kantoran, dia nangkepnya gue malas kerja maunya nganggur2 aja, padahal maksud gue, gue malas kerja monoton di belakang meja, terbukti gue nguap tiada henti selama jam kerja praktek, hoohh… nampak salah paham…). Entah kenapa sindrom Laba-Laba Ratu (baca ini) masih bercokol, jadi gue langsung ketakutan, di benak gue adalah gue dipasung, cuma boleh keluar untuk kerja, langsung pulang, setor gaji. udah. TIDAAAKK hidup apa itu!! saya juga mau jalan2 afterwooorrk!!! saya pengen bebas!! saya pengen jadi wanita gaul dewasa nan bertanggung jawaab!!!. Jadi gue langsung berkata "Gak mau". Jelas dia langsng kecewa berat dan putus asa.
Padahal kalo dipikir2, emang semua anak kayak gitu kan ya?.
Emang sebagian besar orang tua pasti bersikap rese dengan menuntut anaknya banyak di rumah.
Emang sebagian besar orang tua khawatir anaknya kenapa2 (termasuk takut anaknya gila karena keseringan ngaca)
- berdasar pooling ke beberapa sahabat -
Saat ini, gue dan nyokap gue sama2 kayak anak kecil. Harus ada yang mau mengalah dan bersikap dewasa. Kalo masing2 saling menuntut yang lain untuk mengerti ya gak akan pernah selesai. Nyokap gue bakal kesepian dan stress terus (dan berdampak buruk pada kesehatannya) dan gue bakal gak enak ati, apa2 gak enak (3 hari itu gue bengong di kantor terus).
oh damn. kayaknya harus gue deh yang bergerak.
Jadilah seharian ini gue berpikir dan berpikir, dan yah, akhirnya gue nemu juga salah gue dimana.
orang bijak gak akan mati2an mempertahankan keinginannya, tapi memikirkan solusi yang menguntungan semua orang.
orang bijak gak akan terbawa emosi.
orang bijak akan sabar menghadapi masalah.
orang bijak akan menghadapi kemarahan Ibunya dengan tersenyum pengertian (meskipun sebenernya belum bisa ngerti),mengatakan hal yang menenangkan (meskipun dirinya lebih kebat kebit).
orang bijak akan melawan rasa trauma dan tidak nyamannya demi menjaga perasaan Ibu sendiri (meskipun…. dia tidak bisa berhenti menggoyangkan kaki karena gugup)
orang bijak akan menjaga hubungan antara orang2 yang disayanginya agar orang2 itu tidak saling cemburu dan membunuh (hohoho)
orang bijak akan merencanakan hidupnya dengan baik dan penuh ketekunan.
…dan masih banyak hal bijak yang akan orang bijak lakukan. Hehehehe.
kalo memang gue ditakdirkan gendut selamanya, gue mau jadi ‘gendut bijak’, jangan ‘gendut antagonis’.
‘gendut bijak’ terdengar lebih bersahaja, kan?
hahahahahahaaaaa…..
kayaknya nanti malam gue bakal coba ngomong ke nyokap deh.
Doakan ya!
I guess, gue baru naik 1 level lagi? horeeee!!!
Baik2lah dengan orang2 yang menyayangi kalyan, teman2…. terimakasih sudah mau membaca, luph u all!
Mandhut.

hari itu, saya kelaparan karena belum sarapan (bangun kesiangan) dan saya baru bisa berjalan membeli makanan pada pukul 9.30. perut keroncongan, kepala keliyengan, darah rendah kumat, wah rasanya gak karu2an. tapi dasar bandel, entah kenapa tiba2 jadi kepengen diet dadakan (lumayan 0,0001 kilo), saya gak kepingin makan berat, hanya ingin memakan sesuatu yang sekedar mengganjal perut, jadi bergegaslah saya menuju toko snack di gerbang ITB yang berjarak agak jauh dari gedung IF (sengaja pilih disana, supaya agak olahraga) untuk membeli roti gope (roti tipis, isinya angin, lebih kecil dari telapak tangan, harganya gope) dan aqua gelas. syubidubidudamdam.
Dara Sipit bersimpati dengan mengelus2 kepala saya sembari menggeleng2kan kepala dan berkata "cep cep cep cep,,,,, sabar ya dut….".
Amahl menengok dengan tampang polos. dia sedang mengunyah donat coklat bertabur kacang.


