Bagi yang belum tahu, baca posting ini , post ini dibuat untuk menjawab komen seorang komentator di sebuah postingan terdahulu (halah) yang gak gue duga2 ternyata jadi panjang beth. Untuk keindahan blog, maka saya putuskan balasan komen sekalian saya jadiin postingan aja.

Untuk Saudara Zhar (halo? apa kabar? - kampring deh - )  tadinya mau jadi balesan komen aja, tapi ternyata panjaaaang. jadi postingan deh. ahahaha. relakanlah.

oke oke. Selamat membaca.

Hmmm…setuju…cewek emang harus bisa mandiri sendiri…Tapi kalo gak mau mandiri juga gak napa2 kok…aku cowok baik2 dan juga tidak selingkuh….

Jadi inget kemaren baca koran gosip pacar gue tentang bambang-halimah, "mas bambang itu orangnya baik dan penyabar"…dalam hati gue bilang, "iya baik dan sabar…tapi tukang selingkuh"

Hoooh…leo toh…emang semua leo wanita kuat ya?…pacar gue leo…baru kali ini gue dapet cewek setengah cowok gitu….hahahaha….tampilan luarnya sih kayak perkedel, bohay cantik siap dilumat….Tapi dalamnya powerful abis biasa rebutan minum ama onta kayak yang lo bilang….hahaha….

Satu2nya alasan kenapa gue rada gak setuju dengan working women adalah gue takut akan ketidak mampuan mereka dalam memanage waktu untuk keluarganya….

Umar bin abu bakar pernah berkata 3 hak anak yaitu, "Ibu yang baik, pendidikan yang baik, dan nama yang baik"

Kalo dalam kasus dhany-maia, salah satu om gue pernah bilang….si dhanny-nya aja goblog…kalo gak pengen maia ngelupain anak2 yah jangan diizinin nyanyi dari awal….sama kayak guenya aja yang bego, kalo gue gak mau diselingkuhin yah jangan diizinin jalan ama cowo lain dari awal…begitu…and so on and so on….

anyway, it is a nice story….tapi gue sangat penasaran apa yang ngebuat suaminya tante sisi menemukan "the turning point"….pasti ada tuh….dan pasti gak sekedar, "I’ve found someone "more" than you" kind of thing…

(Comment by Zhar Aditya — June 19, 2007 @ 6:59 am on post "Tante Sisi dan 2 Anaknya") 

Lupakan soal Leo, perkedel dan gosip Bambang-Halimah, udah gue jawab secara personal (wakakakak), gue mau jawab yang lainnya. Mau membahas tentang pandangan keharusan seorang cewek untuk menjadi mandiri tanpa bantuan suami. Mungkin banyak cowok2 yang berpikir persis kayak Zhar soal ini, mungkin juga tidak, ehehehe. Nah disini, gue gak bermaksud menyalahkan, semua orang berhak punya pendapat masing2, tapi secara ini blog gua (dan gua berkuasa, ahahaha), gue hanya sekedar mau berbagi sudut pandang lain yang mungkin bisa dijadikan pertimbangan lebih jauh, baik buat cewek, maupun cowok. Okeh okeh?

———————- 

Cara antisipasi yang omnya Zhar bilang itu bisa dilakukan (jangan diijinin kenalan dari awal, jangan ijinin kerja dari awal). Tapi gak menjamin semua lantas jadi berjalan lancar. Tergantung istri/cew lo itu orang seperti apa. Kalo emang pada dasarnya istri/cew lo tipe yang gak terima dikekang, hasilnya bisa jadi malah kebalikan dari yang lo inginkan, bahkan mungkin lebih parah. Ada loh temen nyokap gue yang stress mampus setelah gak dibolehin kerja, akhirnya yang ada lari ke narkoba.

Bagus kalo lo berprinsip bahwa lo gak akan macem2, oleh karenanya, istri lo bisa tenang dan gak perlu memaksa diri menjadi mandiri.

Tapi, keharusan menjadi mandiri ini bukan cuma gara2 kemungkinan kami ditinggalkan kaum laki2 karena permasalahan rumah tangga. Tapi adanya juga kemungkinan kami terpaksa menjanda karena pasangan kami keburu dipanggil oleh yang di Atas (tanpa bermaksud mendoakan yang buruk2). Gak ada yang bisa jamin lo bakal meninggal setelah dia, kan? dan gak ada yang bisa jamin juga warisan yang lo berikan cukup, atau setelah lo meninggal apakah dia bakal menemukan pria-sebaik-lo atau enggak. gak ada yang bisa jamin, kan?

Itu alasan pertama, yang kedua, semua manusia harus menerima kenyataan bahwa pasangan mereka, maupun diri mereka sendiri hanyalah seorang makhluk Tuhan yang bisa khilaf. Semua orang bisa janji mereka gak akan berkhianat dan berpindah hati, tapi takdir manusia siapa yang tahu? hari ini seseorang bisa mikir “ga akan selingkuh”, tapi seiring waktu dan pengalaman yang orang itu dapat, bisa aja di masa depan dia bertemu seseorang yang ternyata jauh lebih dia cintai ketimbang istrinya. Dan dia gak bisa melepaskannya, even dia tau punya anak dan istri di rumah. Pilihannya cuma dua, berkorban atau mengikuti kata hati. Apapun yang dia pilih, itu hak dia sebagai manusia. Dan saya mendukung apapun keputusannya, asalkan dia melakukannya dengan fair dan bertanggung jawab, jelaskan baik2, cerai baik2, pikirkan baik2, cari jalan yang terbaik, gak main asal kabur dan lepas tanggung jawab gitu aja.

Inti dari 2 alasan di atas adalah, kita semua tahu bahwa gak ada yang pasti di dunia ini. Kita bisa berdoa untuk kebahagiaan kita, tapi doa juga mesti diiringin usaha untuk menjaga semua kondisi tetap terkontrol. Jadi udah jadi keharusan bagi kaum cewek, maupun cowok untuk mempersiapkan diri atas hal2 yang gak diinginkan di masa depan. Kalo siap menikah, ya berarti siap untuk adanya kemungkinan berpisah suatu saat nanti. Bukannya gak percaya pada pasangan, please deh hilangkan pikiran2 idealis-egois-drama-quenn-over-sensitive itu, pernikahan bukan sekedar menyatukan dua individu atas dasar cinta aja, tapi juga atas dasar kedewasaan.

Kalau memang kaum cowok mencintai istri dan anak mereka dengan tulus, pastikan mereka akan tetap hidup bahagia dan berkecukupan seandainya kaum cowok harus pergi suatu hari nanti. Minimal, bicarakan baik2 dan dorong mereka agar membekali diri dengan keahlian untuk menghasilkan uang dan mengelolanya dengan baik. Bukan anak doang yang dibekali itu, tapi istri juga. Even istri lo lulusan Harvard, kalo ilmunya kelamaan gak dipake ya bakal tumpul juga kan. Menurut gue, itulah yang bisa disebut kepala keluarga dan manusia yang berkualitas. Karena mereka berpikir panjang dan luas, tidak sekedar mengandalkan idealisme bahwa laki-laki harus mencari uang dan wanita cukup tinggal di rumah mengurus anak saja. Sadarilah bahwa spesiesmu sudah jarang di dunia ini, wahai Pria. Dunia sudah berubah, oleh karena itu kita harus sama2 menyiasati hidup sebaik yang kita bisa selama masih halal. Betul gaaak????

—————-

Nah itu untuk kaum pria. Sekarang buat kaum wanitanya.

Mengutip comment dari Zhar Aditya (wah, lo baru sekali komen di tempat gue langsung gue orbitkan, ahahahhaaa) :
Umar bin abu bakar pernah berkata 3 hak anak yaitu, “Ibu yang baik, pendidikan yang baik, dan nama yang baik”.

Penuhi hal itu wahai kaum wanita! ahahaha.

Menjadi mandiri gak selalu berarti menjadi wanita karir yang kerja full-time, apalagi buat wanita2 yang anak2nya masih balita-remaja. Lain cerita ya kalau lo harus melakukan itu karena tuntutan keadaan. Tapi kalau keadaan gak mengharuskan lo untuk begitu, gue sarankan, carilah pekerjaan yang memungkinkan lo untuk mencari uang sembari mengurus anak. Jangan biarkan ambisi pribadi menghancurkan rumah tangga lo, kalau memang lo gamau berkorban menyangkut ambisi lo untuk alasan apapun, gue sarankan, gak usah punya anak dulu ampe ambisi lo tercapai.

Percaya deh, sebanyak apapun uang yang lo punya buat sewa pengasuh, seberlimpah apapun mainan yang lo cekokin ke mereka, setiap anak pasti menginginkan kehadiran ibu mereka sendiri di rumah. Gak ada yang lebih menentramkan, daripada bekal buatan ibu mereka sendiri dan belaian tangan ibu di kepala sepulang sekolah. Kenapa gue bisa bilang begitu? pengalaman pribadi, Ibu gue bekerja sebagai sekretaris full-time selama 25 tahun. Dan sejak gue berumur 3 bulan, gue udah dipercayakan sama pengasuh, gue bahkan hanya minum ASI selama 1 bulan. Kebetulan ibu gue melakukan itu karena tuntutan ekonomi, so gue bisa memaklumi. Tapi, even gue tahu ibu gue melakukannya untuk menyambung hidup, sejak kecil hingga remaja gue selalu ngiri ngeliat temen2 gue yang ibunya selalu memantau perkembangan mereka. Ibu gue apa kabar? pulang kerja udah kecapean, besoknya berangkat pagi buta, sabtu minggu dia manfaatkan buat tidur, jarang sekali bisa ngobrol apalagi masak bareng (halah, apa itu ‘masak bareng’? ibu gue jarang banget masak even dia bisa). Hasilnya apa? sekarang Ibu gue udah retired, maksudnya retired sih biar bisa ngurusin keluarga, itung2 membayar hutang pada kami anak2nya, tapi yang ada gue malah kesel kalo dia udah mule sibuk2 ngurus2in keperluan gue ato nanya2 kehidupan pribadi gue. Bukannya gimana, tapi gak biasa aja, ada yang ganjel, kebiasaan semua dikerjain n dipikirin tanpa campur tangan nyokap. I just can’t. Bukan dendam. Gaktau apa. Ini kayaknya udah masuk ke urusan alam bawah sadar.

Naaahh,,, kaum wanita! kalau lo gakmau anak lo menjadi seperti gue, pikirkan baik2 yang gue katakan di atas. Gue masih bentuk yang bisa mengontrol diri sendiri waktu muda. Kalau yang gak bisa gimana? salah2 terjebak narkoba dan kena AIDS. mau?

Yang gue maksud mandiri bukan selalu ‘bekerja’, tapi tetap mengasah keterampilan dan keahlian yang bisa lo gunakan di masa depan nanti. Nah, salah satu caranya, adalah dengan bekerja, atau sekedar les-les keterampilan juga gapapa. Tapi kalau bekerja ada nilai plusnya, selain kemampuan lo terasah, dapat duit (meskipun yang diincer bukan gaji sih), dapat pengalaman dan bisa jadi bahan pertimbangan di masa depan kalau2 lo melamar ke perusahaan untuk jenjang karir dengan pendapatan yang lebih baik. Rata2 perusahaan lebih menghargai pengalaman+gelar daripada sekedar gelar. ya kan?

Pekerjaan yang bisa dilakukan?
BANYAK, KALI! Yang full time di rumah, bisa jadi penulis, guru les piano, kartunis, main saham lewat internet, de el el. Jadi dokter gigi yang gak nerusin pegawai negeri dan buka praktek di rumah aja juga bisa. Bisa juga lo buka usaha dengan modal sendiri atau bareng temen2 lo, jadi jam kerja lo bisa fleksibel, gak harus di kantor dari jam 9 ampe 5. Gimana pinter2 lo menemukan ide dan celah-lah.

————–
Jadi intinya, kemandirian di jaman sekarang ini emang diperlukan! Dan, ada baiknya dipertimbangkan lebih lanjut dan lebih bijaksana. Keegoisan dan idealisme yang gak memiliki dasar yang kuat gak akan membawa lo kemana2, yang ada memberi sedikit celah akan kerugian yang lebih besar lagi di masa depan!. Pintar2lah mencari solusi dan diskusikan bersama keluarga anda! jaga komunikasi dan cinta! (terakhirnya udah mule ngasal)
 
Btw, gue kok sokteu siih… nikah aja  belum. Udah kayak rubrik pernikahan di majalah ibu2. ahahahaha. yaaah,,, sekedar kasih pendapat. Kalo bisa mbantu syukur, enggak ya gapapa.
 
SEMANGAT!
 
Manda.