Baru2 ini, keluarga gue kedatangan tamu, kerabat nyokap gue, Tante Sisi dan 2 anak perempuannya, Ica yang lebih muda setahun dari saya dan Ninda yang baru berusia 7 tahun (nama2 disamarkan).

Mereka datang meminta bantuan, karena saat ini mereka sudah tak punya tempat tinggal. Mereka bertiga baru saja diusir dari tempat tinggalnya yang dulu, ironisnya mereka diusir oleh kepala keluarga mereka sendiri, suami Tante Sisi.

alasannya apa?

Gak sengaja denger dari pembicaraan di ruang tamu sih (gue ma kakak gue sok2 ambil makanan di dapur, padahal pasang kuping), wanita kedua. Entah sejak kapan suami Tante Sisi mulai jarang pulang ke rumah dan menolak untuk menafkahi keluarganya. Suami Tante Sisi menolak untuk membayar uang sekolah Ninda, menolak untuk menyekolahkan Ica ke jenjang kuliah, menjual kedua mobil milik mereka dan mengantongi hasil penjualannya sendiri. Bahkan, dia menolak untuk membayar tagihan listrik dan telepon apartemen mereka. Dan Tante Sisipun terpaksa mengungsi karena tidak mungkin mereka hidup tanpa air dan listrik di lantai 25 sebuah apartemen mewah di bilangan Rasuna Said, Jakarta. Lagipula, sebentar lagi sewa apartemen itu akan habis dan Suami Tante Sisi tidak akan mau memperpanjang sewanya. Bukan tidak mampu. Tapi tidak mau.

Padahal dari dulu suami Tante Sisi dikenal sebagai pria yang sangat sayang dengan keluarganya. Kenapa begini ya ceritanya?

Eh, saya bukannya bermaksud memihak atau gimana ya. Secara saya juga hanya mendengar cerita dari Tante Sisi saja. Mungkin ada beberapa masalah yang tidak Tante Sisi ungkapkan sebagai faktor keretakan rumah tangga mereka. Tapi menurut saya, memperlakukan istri dan anak kandung seperti itu, apapun masalahnya, apalagi namanya kalau bukan gila?.

Denger ceritanya Tante Sisi, rasanya mau marah. Sebenernya, belum tentu semua yang diceritakan benar dan sebagai orang luar gak seharusnya gue ngejudge. Tapi kalo emang bener yang terjadi persis seperti itu, gue ingin sekali menyatakan pendapat gue soal ini, supaya semua orang bisa merenung dan mencegah supaya hal ini gak terjadi di rumah tangga mereka sekarang atau di masa depan. Heh, suami Tante Sisi, kalau memang udah gak cinta, kalau memang lo sakit hati, kalau memang merasa keberatan untuk terus berperan sebagai kepala keluarga, it’s okay, itu hak lo. Kalau memang lo sudah merasa begitu, semua orang bisa apa. Tapi, lakukanlah dengan fair, cerailah baik2. After cerai, lo emang gak ada tanggung jawab ma mantan istri lo and gue gak akan comment soal itu, tapi anak kandung lo? pastikan anak kandung lo gak terlantar setelah semua yang terjadi, jangan main pergi dan cabut aja tanpa memikirkan nasib orang2 yang ditinggalkan, dong. Wanita yang lo buang itu dulu istri lo yang lo puja2, anak2 yang lo acuhkan itu anak kandung lo yang dulu selalu lo gendong2 di punggung lo, gue gak abis pikir ada orang yang bisa tega mbiarin orang2 yang sayang sama diri lo itu nyaris luntang-lantung di jalanan dan putus sekolah, padahal lo mampu untuk mencegah mereka dari penderitaan itu. Sedangkan elo, enak2 bawa duit hasil jual mobil. Anjir, udah kesambet ya lo?. Apapun alasannya, harusnya lo bisa berbuat lebih baik dari itu.

Haha. rasanya lega. kembali ke Tante Sisi.

Yah, Tante Sisi terpaksa menumpang di rumah orang lain, bersama 2 orang anak perempuannya. Ica yang lebih muda 1 tahun dari gue, tidak meneruskan ke jenjang kuliah, padahal seharusnya dia sudah menjadi mahasiswi tingkat II. Ninda masih bersekolah, sekarang dia kelas 2 SD di sebuah Sekolah Dasar di daerah Menteng. Tante Sisi sendiri, masih mengandalkan uang tabungan dan belum mendapatkan penghasilan.

————————

Satu masalah melahirkan masalah lainnya. Sekarang ini, Tante Sisi benar2 tidak tahu harus berbuat apa. Dia memiliki ijazah salah satu universitas ternama di jakarta, namun dia sama sekali tidak memiliki pengalaman kerja professional (selesai kuliah langsung menikah dan jadi ibu rumah tangga). Dan mengingat umurnya yang sudah menginjak 48 tahun, akan sulit baginya untuk melamar di perusahaan2. Satu2nya pekerjaan yang pernah dia lakukan adalah menjadi guru les privat bahasa inggris bertahun2 yang lalu dan diapun sudah putus asa untuk melakukan pekerjaan itu lagi, entah kenapa. Intinya, saat ini Tante Sisi benar2 putus asa dan memutuskan untuk pasrah dengan nasib saja.

Haiyaaahhh,,, kalo dia pasrah, anak2nya gimana dong? si Ica ma Ninda? hoaaaaa,,,,,

Denger2 cerita dari nyokap (Laba Laba Ratu sudah sehat, sudah bisa bergosip, hora!), sejak masih muda dulu, Tante Sisi memang orangnya seperti itu. Cenderung pendiam dan pasif. Dalam keluarganya, dia adalah anak perempuan paling kecil dan paling disayang. Dan karena dia dikaruniai wajah dan pembawaan yang manis, maka banyak pria yang menaruh hati pada Tante Sisi. Sejak kecil hingga remaja, Tante Sisi tumbuh di lingkungan yang memperlakukan dia bagai bayi rapuh yang selalu dimanja dan dilindungi. Hidup (hampir) tanpa masalah dan ambisi, itulah hidup yang dulu dijalani Tante Sisi.

Setelah lulus kuliah, dia bahkan belum sempat mengecap kerasnya persaingan kerja, karena dia langsung dilamar seorang pria mapan dari Ambon, ayahnya Ica. Namun, baru 2 tahun pernikahan mereka, suami pertama Tante Sisi meninggal karena serangan jantung. Setelah itu, Tante Sisipun tidak harus bekerja keras karena dia kembali tinggal bersama dan dibiayai oleh orang tuanya. Baru setelah menikah dengan suami keduanya, insinyur pesawat (sumthin’ like that) yang juga mapan, dia diboyong keluar dari rumah orang tuanya dan tinggal di sebuah apartemen di Jakarta. Dan sekarang, setelah dia berpisah oleh suami keduanya, dia tidak bisa kembali ke rumah orang tuanya karena ada sedikit masalah dengan salah satu kerabat.

Selama ini Tante Sisi hidup dengan terus bergantung dengan orang lain. Oleh karena itu, sekarang dia cukup terkejut dengan kenyataan yang ada dan tidak tahu harus berbuat apa. Dia belum pernah berdiri di atas kakinya sendiri, dan sekarang tiba2 dia harus melakukan hal itu. Hal yang harusnya sudah dia pelajari dan lakukan seiring dia bertumbuh dewasa dulu.

Mendengar cerita dari nyokap, gue jadi teringat dengan beberapa pembicaraan gue dengan Ica. Sepupu gue yang satu itu, anaknya cantik luar biasa, sexy, wah wuah wuah deh pokoknya (apa coba ‘wah wuah wuah’?). Tapi meskipun sama2 cewek, dunia gue dan dia sangat2 berbeda, jadi kalo ngobrol suka gak nyambung n gak enak sendiri. Ahahahaha. One day, gue terjebak dalam suatu situasi dimana gue harus ngobrol dengan dia (bukannya ngindar ya, tapi suka kesian sendiri ma dia yang kayaknya juga gak nyaman) gue pernah bertanya, setelah lulus SMA, dia pengen kuliah dimana? (waktu itu belum tahu kalau suami kedua Tante Sisi gakmau mbiayain kul dia). Dan dia jawab, terserah dimana aja. Gue bingung dah. Lalu gue bertanya cita-citanya apa, dan dia menjawab dia gak tahu mau jadi apa, apa aja deh, yang kerja2 kantoran gitu aja. Gue tambah bingung niihh. Akhirnya memutuskan buat menggalinya dari sisi lain, gue bertanya hobinya apa, dia hobinya denger musik, ngobrol, sms dan semua yang berhub dengan mempercantik diri. Gue pikir2. Nilai2 Ica di sekolah gak terlalu bagus, bukannya dia bodoh, gue tau banget dia cerdas, tapi memang dia gak terlalu concern about nilai2 di sekolah. Nampaknya bukan tipe yang suka belajar, lebih suka berteman. Akhirnya, pembicaraan gue akhiri dengan mengusulkan dia untuk masuk ke sekolah modelling atau public relation.

Tapi tentu saja, semua usul gue itu bahkan gak bisa dipertimbangkan. Biaya kuliah aja gak dikasih, gimana coba.

Dari pembicaraan gue dengan Ica dan cerita nyokap gue tentang Tante Sisi, gue menyimpulkan bahwa memang Tante Sisi mendidik kedua anaknya sama seperti dia dididik dulu.

——————-

Mengetahui kenyataan yang dihadapi orang lain, gue kembali teringat bahwa semua manusia memiliki jalan yang berbeda2. Selama ini, gue dan kakak gue hidup di keluarga yang mengajarkan para wanitanya untuk gak bergantung sepenuhnya dengan suami, coz’ kita gak pernah tahu apa yang akan pernah terjadi. Gendut, cuek, keras dan pemberontak, itulah karakter wanita di rumah keluarga saya. Istilahnya, kalau Tante Sisi dan 2 anaknya datang dari Kuil Perawan Gunung Hokkian Cina, dididik untuk menjadi wanita sepenuhnya (nah nah, ngasalnya keluar, apa ada gunung Hokkian??), Nyokap gue dan 2 anaknya datang dari Gurun Gobi Cina, hitam kumal penuh pasir, terbiasa rebutan minum sama unta, terbiasa makan kalajengking, dan gak tau fungsi bedak itu apa (ini apa putih2 bubuk? makanan unta? haha. duhduh, kayaknya perumpamaannya agak bikin salah paham deh, yah pokoknya ngertilah). Jadi, lumayan agak sedikit terkejut melihat apa yang menjadi masalah Tante Sisi saat ini. Namun, gak ada yang bisa dan boleh menyalahkan Tante Sisi dan keluarganya atas apa yang dia lakukan dan dia alami, karena semuanya terjadi di luar kehendak dia. Dan gak ada kata terlambat untuk belajar, dan gue berdoa kali ini Tante Sisi dan anak-anaknya akan sadar dan belajar untuk survive tanpa bergantung dengan orang lain lagi, bagaimanapun caranya.

————————–

Apa moral dari postingan kali ini? cuma ingin berpesan, gak ada yang salah dengan tipe wanita perkedel-siap-makan (dibentuk dan digoreng dengan cantik, siap menunggu orang yang ingin suka dan memakannya, if u know what I mean). Tapi, akan lebih baik kalau lo bisa menjadi wanita yang terawat, bersahaja, sekaligus mandiri dan kuat. Di zaman segila ini, dimana pria sudah jarang ditemukan, dan pria yang baik lebih susah lagi xP (weheheheheee), wanita harus bisa mandiri dan siap bertahan hidup apapun yang terjadi, apalagi kalau sudah ada anak. Waahhh,,, bukannya ndoain yang jelek2, namun kemungkinan lo menjadi janda, spinster and single parent selalu ada, apa salahnya sekarang lo mendobrak tembok itu dan mulai mempersiapkan diri lo dan anak2 lo untuk menghadapi hal2 yang gak diinginkan di masa depan? ya kan? jangan mau pasrah! AYO, SEMANGAT!.

Ah, dan satu lagi. Gosip gak selalu jelek, selama ada makna positif yang bisa diambil. wakakakak.

manda.