Okeeeehhh,,, jarang2 sekali Putri Amanda Bahraini mau bicara tentang cinta (abis miris sih, kisahnya gak banyak dan kebanyakan gak berakhir indah, saya agak kering kerontang kalo masalah cinta, hayaaah kemana kau sex appeal-ku???). Tapi kali ini, di bulan Mei, bulannya cinta ini (asal aja). Saya pengen berbagi cerita soal seorang pria yang, sejak SMA sampai sekarangpun, masih ada di hati ini (terhitung hampir 5 tahun ya? parah parah). ehehe.
Postingan ini panjang looh. Ampe saya bagi 2 bagian, aahahaha. Ohohoho. Sabar2 aja ya. Ehehe.
——————-
Waktu saya baru masuk SMA, saya terhitung murid yang tidak terlalu menonjol (menonjol?). Saya punya banyak teman, hubungan saya lumayan baik dengan teman2 sekelas, tapi gak segaul mbak Cynthia (nama disamarkan) yang dikenal seantero sekolah, dari kakak kelas, teman seangkatan, sampai adik kelas (entah terkenal karena apa, karena digosipkan jadi ‘piala bergilir’, karena emang dia luar biasa, apalah pokoknya terkenal). Prestasi saya bagus, meskipun gak sebagus Mas Jarwo (nama jelas2 disamarkan) yang pintar luar biasa dan menang lomba dimana2. Saya juga gak nakal, gak neko2 dan gak waras kayak sekarang. Pokoknya, biasaaaa banget. Dan karena waktu itu saya masih menderita krisis percaya diri yang lumayan parah (kalian akan tahu kenapa kalo udah liat gue jaman SMA kayak apa) saya cenderung untuk menarik diri dari lingkungan yang ada. Semakin gak ke-notice, semakin bagus.
Itu adalah saat2 dimana saya bertereak di malam2 sepi, "KENAPA BADAN GUE SELEBAR LAPANGAN BOLA YA TUHAAANN???!!!!!"
…… (aduh aduh ga bisa berenti ketawa)
dan jawabannya baru gue dapet saat ini : "KARENA MAKAN LO KAYAK PEMAIN BOLA MANDA, PADAHAL OLAHRAGA AJA ENGGAK…"
(ga bisa berenti ketawa,,, tolong tolong,,,)
ah cukup cukup Out Of Topic-nya, lanjuuttt….
Nah, di jaman2 pancaroba jahiliyah itu (gue menyebutnya begitu), untuk pertama kalinya-lah gue bertemu dengan si pria ini (gak disamarkan, tapi gak disebut juga namanya). Kami sekelas selama 3 tahun, dari kelas 1 sampai kelas 3 SMA. Waktu pertama kali ketemu, gue gak terlalu suka ngeliatnya, dia tipe anak mami, anak gaul, anak band dan pacarnya adalah si miss perfect dari kelas lain yang dielu2kan baik laki2 maupun wanita di sekolah gue. Di kepala gue, langsung terpatri, nih anak gila perhatian, kepalanya kosong dan menilai orang dari luarnya aja (yah maklum, saya krisis pede). Sifatnya gak sepenuhnya baik, terlihat beberapa kali bertindak cukup egois di kelas. Pokoknya first impression gue ke dia jelek. Tapi ya, dia memang punya daya tarik tersendiri yang bikin semua orang mau gak mau me-notice keberadaan dia.
———————-
Semua berjalan seperti itu, sampai kami naik ke kelas 2, dan bertemu lagi di kelas yang sama. Waktu itu, seantero sekolah lagi heboh gara2, miss perfect dan dia putus, dia yang mutusin (APA YANG TERJADI?! apakah miss perfect gak se-perfect yang dibayangkan, ataaauuu??? semua pengen tau, yang mana, saat itu, jelas jawabannya hanya kaum2 gaul yang tahu). Saat itu, gue menganggap, kok nih cowok tolol bener, cewek kayak miss perfect kok diputusin (dangkal, gatau permasalahan maen ngejudge). Dan karena setelah kejadian itu, dia bertingkah seperti biasanya di kelas, sementara si cewek itu berhari2 terlihat seperti zombie lewat2 di kantin sekolah (omaigat miss perfect, mending gausah jajan deh kalo gitu keadaannya), sebagai kaum wanita yang baik dan bersolidaritas, gue mencap dia sebagai buaya darat musuh wanita seantero jagad cuih cuih.
———————-
Yah, gue terus menganggapnya figur yang buruk, sampai suatu hari, 1,5 bulan semenjak kejadian dia putus itu, gue mulai berubah pikiran.
At that time, gue sedang dalam masa yang sangat kacau dan labil, karena masalah keluarga. Gue gampang marah, nilai gue turun drastis, berat badan kian bengkak, rambut rontok karena stress dan masih banyak lagi. Gue benci lingkungan gue, dan merasa menderita menjalani hidup yang ada (mellooow melloooww). Untungnya masih ada sahabat2 setia (thanks to wasti, lukman, rais and funie) yang selalu menemani dan lumayan menghibur saya setiap harinya
.
Suatu hari, gue terpaksa pulang lebih lama dari yang lain, karena ada kumpul ekstrakulikuler yang gue ikuti (jurnalistik
). Selesai kumpul, gue harus naik ke lantai 2 untuk mengambil tas gue di kelas dan segera pulang karena si supir setia udah nunggu di parkiran sekolah.
And disanalah dia, duduk di bangku paling belakang kelas, bersama gitar dan beberapa orang anak gaul kelas saya, terlihat akrab, bernyanyi2 bersama.
Gue merasa aneh dengan keberadaan orang2 ini, jadi gue memutuskan untuk cuek aja dan cepat2 mengambil tas untuk pulang.
Tapi dia menyapa (dan saya bingung kenapa saya disapa). Tapi dia bertanya saya habis darimana (dan saya bingung kenapa juga orang kayak saya perlu diketahui urusannya?). Dia minta saya duduk bersama dan bernyanyi bersama mereka (gue emang suka nyanyi2 di kelas bareng si Lukman, bukan bareng sih tepatnya, saingan, siapa nyanyi paling keras dan memalukan
, hobi sih, gimana dong). Awalnya saya menghindar dan bilang harus cepat pulang, tapi karena banyak yang minta (gak bisa bilang enggak) akhirnya disitulah saya, bersama orang2 yang gak biasanya bersama saya, bernyanyi diiringi permainan gitar sampai matahari berwarna merah jingga. Dan saya pun pulang ke rumah dalam keadaan senang karena mendapat pengalaman yang gak disangka-sangka, dan terpaksa minta maaf sepanjang perjalanan pulang karena supir saya ngambek disuru nunggu 3 jam (soriiii).
Untuk pertama kalinya. Gue sadar bahwa, gue-lah yang berpikiran sempit selama ini. Gak semua yang gaul itu menyebalkan. Memang ada, tapi gak semuanya. Hah. Gak gue sangka pikiran gue sekerdil itu.
————————
Keesokan hari, dan keesokan harinya, seringkali kami tetap tinggal di kelas sepulang sekolah, hanya untuk bernyanyi sampai senja datang (kali ini gak pake minta maaf ma si supir, karena udah gue kasitau suru jemput jam 4 sore-an, ohohohoh). Dan beberapa kali, semua orang pulang satu persatu sampai tanpa sadar di kelas cuma ada gue dan dia. Risih? Iya risih. Kepengen pulang, soalnya malu cuma berdua doang di kelas, kalo ampe gak terjadi apa2 kan bisa rusak harga diri gue sebagai wanita (pikiran yang aneeeehh), tapi kalo pulang gak bisa nyanyi, jadi gue urungkan, bersikap cuek aja, yang penting nyanyi. Dan bernyanyilah kami sepanjang sore itu, dan sore berikutnya, dan sore berikutnya.
Yang tadinya cuma nyanyi, lama2 jadi curhat juga. Karena waktu itu semua orang lagi heboh2nya ngomongin tentang penjurusan IPA dan IPS, curhatnya thu orang gak jauh2 dari itu. Dia lumayan di semua pelajaran MIPA kecuali biologi (beneran mengkhawatirkan, memang). Dan begitu dicurhatin, gue cuma menghibur2 standar sambil membatin “ohmaigat, gak gue sangka orang kayak lo mikirin yang kayak gitu juga”. Ahahaha. Dasar.
Dan banyak kenangan2 lainnya. Yang kecil2 tapi cukup untuk buat saya senang seharian. Norak abis deh.
Dan gue rasa, gue mulai jatuh cinta sejak saat itu. Karena sejak itulah gue banyak memikirkan dia dan sering deg2an kalo di sekitar gue ada dia. Sejak saat itulah, gue me-notice dan tahu kalau orang ini pada dasarnya adalah orang yang tekun, pintar, lembut dan baik, kalo enggak, dia gak akan bisa main gitar sebaik dan seindah itu. Ahahahaha. Mandaaa!!!! harusnya waktu itu langsung pulang ajaaaa!!! Salah langkah lo man, salah salah.
———————–
Dan entah sejak kapan, gue mulai berdiet dan berdandan (jijaaay). Tahu2, berat badan gue udah turun 20 kg, kulit gue udah bersih dari jerawat dan putih, dan tahu2, rambut gue tersisir rapih (sebelumnya cuek abis), gue punya rok jeans yang dibeli atas inisiatif sendiri, dan gue mulai bisa bergaul dengan baik dengan semua teman dengan berbagai kategori. Cinta emang hebat ya. Wohohoho.
Tapi sayang seribu sayang, Putri Amanda Bahraini terlalu lama bertindak, karena ternyata dia jadian dengan teman satu kelas gue sendiri, sebut aja si A, mereka jatuh cinta saat tour Sekolah ke Bali (yang mana gue gak boleh ikut sama ibu2). Yang mana saat kelas 3 SMA (oh iya, gue sekelas lagi ma dia) dia putus dengan si A dan saya mulai berharap kembali, temen deket gue si B mengaku kalo dia naksir dia tanpa tahu kalau gue juga naksir (aaaarrrgh). Jadi terpaksa bertopeng2 karena mau bergerak gak enak juga. Dan saat kebingungan terus melanda, tau2 tersiarlah kabar bahwa dia jadian lagi dengan cewek lain, temen sekelas gue di kelas yang sama, si C. (kalo dipikir nih orang agak2 playboy juga ya).
Patah hati dan sedih, gue pun mulai berusaha menjauh dan menghindar dari dia. Dan karena patah hati ini ditambah juga dengan adanya ebta2 dan ketegangan SPMB, dan masalah keluarga yang takk kunjung habis, tambah terpuruklah saya. Makanpun jadi pengobat duka, berat badan saya bertambah 10 kg dari sebelumya. AHAHAHAHA.
—————————–
4 tahunpun berlalu sejak saya pertamakali menyukai dia, dan disinilah saya, di teknik informatika ITB. Sementara dia ada tidak jauh dari saya, gedung kuliahnya di sebelah saya gitu (dia masuk ITB juga). Yang mana gak bisa bergerak juga, karena si C masuk ITB juga dan mereka masih jadian ampe sekarang ToT. Denger2 kabar dan liat dengan mata kepala sendiri sih, dia emang cinta mati ma si C. hohoho.
4 tahun berlalu, dan saya masih belum bisa melupakan dia.
4 tahun berlalu, dan saya masih senang luar biasa kalau bisa lihat dia lewat di sekitar gedung saya.
4 tahun berlalu, dan saya masih berpikir gak ada yang bisa main gitar seindah dia.
4 tahun berlalu, dan saya masih terbata-bata kalau dia menyapa.
UDAH GILA YAAA????!!!!!
———————-
Ahahaha,,,, cerita yang lumayan miris kaaan???? ToT. hua hua hua.
Hah. Rasanya banyak yang pengen gue sampaikan sama orang itu. Tapi entah kenapa, kalo ketemu, mulut gue terkunci rapat. Keluar suara aja enggak. Apa gue sampaikan disini aja ya?
Yah, pokoknya boy,
Sebelum bertemu lo, gue juga bertemu banyak orang, dan beberapa di antara mereka sempet gue kategorikan kecengan, tapi gak ada yang pernah buat gue terbius dan gila kayak gini selain elo.
Sebelum bertemu lo, gue benci hidup gue, gue pikir gue gak bisa berubah sampai kapanpun. Dan elolah yang buat gue sadar bahwa semua itu hanyalah karena pikiran gue yang sempit dan belum dewasa. Hidup adalah, tergantung gimana lo memandangnya aja.
Sebelum bertemu lo, gue menganggap semua yang gue lakukan itu hampa. Dan melihat lo bermain gitar dengan memejamkan mata dan begitu meresapinya, gue hanya bisa tersenyum, dan sejak itupun gue bertekad untuk memasukkan yang namanya passion dalam setiap hal yang gue lakukan. Dan gue berhasil melakukannya.
Saat lo terpuruk, terkena musibah, gue bener2 ingin berada di samping lo dan menghibur sebisa gue (lebih baik dari berkata “belajarlaaaahhh,,,, biar bisa masuk IPA”), but I know, bukan gue yang lo harapkan berada di sana.
Saat lo bahagia, gue ikut bahagia dan seringkali memberi lo selamat dari dalam hati ini saja.
Penasaran gue tau darimana? Nikmatilah keajaiban friendster dan hebatnya koneksi pertemanan di sekitar kita. Ahahaha.
Lo seharusnya lebih menghargai diri lo sendiri dan bangga, karena tanpa sadar lo telah menyelamatkan nyawa seorang gadis-gendut-hitam-jerawatan-terlibat-masalah-keluarga-krisis-pede-akut yang waktu itu berkali2 berniat bunuh diri dan sudah menyimpan pisau di laci meja belajarnya (I really did, loh).
Rasa terimakasih gue gak akan ada habisnya buat lo. Gak akan ada habisnya.
Gue rasa juga rasa cinta gue gak akan ada habisnya, tapi sudahlah tak usah kita bahas soal itu. Ahahaha.
Terimakasih atas semua pelajaran yang udah lo berikan. Doa gue selalu menyertai lo.
——————–
Kisah cinta yang aneh ya? tapi cukup manis untuk dikenang, kan? ehehehehe. Paling gak saya bersyukur saya pernah dan (mungkin sedang) jatuh cinta.
Cari yang lain aaahhhh,,,, tapi gimana ya?