Suatu hari, temen gue bertanya pada gue bagaimana rasanya menjadi anak broken home dan gimana gue menghadapinya selama ini.

Sebelumnya, gue akan bercerita sedikit mengenai latar belakang gue. Orangtua gue bercerai sewaktu gue berumur 17 tahun (tepat 5 hari setelah pesta sweet seventeen gue, hadiah yang sangat buruk) dan sepanjang perjalanan kami sekeluarga selama 17 tahun itu, selalu diwarnai masalah. Semua yang buruk2, menyakitkan, histeris dan traumatik ada di masa2 17 tahun itu. Meskipun masih banyak masalah keluarga yang lebih parah dari keluarga gue, dengan rentang waktu yang cukup lama itu, gue rasa gue tau pasti bagaimana rasanya jadi anak broken home. Dan gue rasa itulah alasan kenapa teman gue bertanya sama gue.

 

Karena itu, sebagai informasi untuk para orang tua agar berpikir matang2 sebelum melakukan sebuah keputusan, sebagai dukungan mental bagi anak2 yang menderita akan hal ini, gue akan beritahu apa rasanya menjadi sebuah produk broken home dari pandangan salah satu produknya.

Menjadi seorang produk broken home, adalah seperti mengalami sebuah kecelakaan besar yang meninggalkan luka traumatik dan cacat permanen. Bagaimanapun lo berusaha melewati dan menerima hal itu, bagaimanapun luka telah sembuh dan terobati dengan adanya orang2 yang menyayangi lo dan keluarga baru yang bahagia menanti lo di rumah, cacat itu gak akan pernah hilang. Ada bagian tergelap di bawah alam sadar lo yang akan terus mengingatkan akan hal itu, dan ini akan mempengaruhi cara berpikir lo di masa depan.

Most of all, anak produk broken home memutuskan untuk mencari dunianya sendiri di luar sana. Makanya jangan salahkan mereka kalau sampai ada yang terjerat narkoba, seks bebas dan segala macam. Mereka pergi keluar tanpa pernah tahu apa yang baik dan yang buruk. Persis seperti seorang anak yang menangis dan butuh pelukan ibunya, tapi dia tidak mendapatkannya, so dia akan berterimakasih pada siapapun yang mau memeluknya, dan kadang wujud si ibu itu adalah ‘narkoba’ dan ’seks bebas’.  Kalau ada yang berkata, mereka kan sudah diberi pendidikan agama dan moral, harusnya mereka mengerti bahwa itu tidak dibolehkan! harusnya mereka kembali ke agama dan bertafakur!. Tanpa bermaksud membela atau SARA, hanya berusaha menjelaskan bagaimana situasinya, I tell you, kekuatan iman dan pengalaman masing2 orang tidak sama, dan di saat psikis manusia berada di kondisi yang benar2 terpuruk, mereka tak bisa berpikir mana yang harus dan tidak boleh dilakukan, mereka berpikir apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi rasa sakit yang diderita saat ini, yang tercepat, yang termudah de el el. Dan dengan ritual bentak sana bentak sini, lempar piring lempar gelas, kelicikan dan kecurangan di keluarga mereka, dengan semua anggota keluarga yang sibuk sendiri itu, bagaimana mungkin mereka dapat pendidikan agama dan moral yang cukup layak untuk diterapkan di hidup mereka? mengetahui anak mereka ada di rumah saja udah bagus.

Gue gak tau gimana dengan anak lainnya, tapi gue mendapatkan pendidikan moral, agama, dan bagaimana berhubungan dengan orang lain, di luar rumah. Sebagian besar gue belajar sendiri. Ada sih yang bisa gue dapet dari rumah, penting dan jarang didapatkan, yaitu ‘bagaimana menghadapi berita buruk’, ‘bagaimana menangis tanpa suara’, ‘bagaimana supaya tidak terlibat masalah’. Mengembangkan dan membuka diri, serta menemukan lingkungan yang hangat dan bisa gue anggap keluarga pengganti, baru bisa gue lakukan sepenuhnya setelah gue memutuskan untuk kuliah di Bandung. Yeah, itulah alasan utama kenapa gue ada di Bandung ini, melepaskan diri dari keluarga gue sendiri.

Yaaah, butuh perjalanan yang panjang sampai kalian bisa bertemu dengan Manda yang sekarang. 

Gue sebut angin baru, karena membuka wawasan lo dan membuat lo bisa berpikir lebih sehat. Karena itu gue mengacungi jempol pada anak2 broken home yang dengan berani memutuskan pergi dari rumah untuk mencari hidup mereka (yang sudah dipikir baik2 tentunya, bukan yang asal ciao aja). Karena emang berasa lebih baik. Karena udara yang lo hirup akan jauh berbeda. Perspektif lo tentang hidup akan jauh lebih indah. Mungkin egois, karena pasti yang ditinggalkan di kampung kelahiran sana merasa agak kehilangan. Well terserah sih, kalo gue, berpikir seperti ini, gue gakmau ikut membusuk di sana, gue merasa bersalah dan berdosa, tapi untuk saat ini, gue ingin punya dunia gue sendiri, kabari gue kalo lo semua yang disana udah agak waras, gue akan kunjung2 liburan nanti. Gue sayang sama lo semua, tapi berada bersama lo semua gak akan membuat gue menjadi individu yang lebih baik, so gue memutuskan untuk pergi mencari takdir gue sendiri, kasih sayang bisa gue sampaikan dari mana saja kan? ada telpon, email dan sekarang banyak on time shuttle. titik. That’s what i called, ‘egois tapi perlu’. karena selama hidup gue, gue gak punya waktu untuk gue sendiri, sekaranglah waktunya.

Dan seperti yang sudah gue katakan bahwa ini berpengaruh pada hidup mereka ke depannya, kebanyakan dari mereka, gakmau menggantungkan hidupnya pada orang lain and selalu berpikir kalau-kalau pernikahan mereka akan bernasib sama dengan orang tua mereka. Di versi lebih parah, mereka phobia dengan pernikahan dan mendambakan hidup tanpa ikatan. Ada juga yang menyukai sesama jenis (untuk mereka yang terkena abuse atau yang menjadi saksi abuse), atau malah gak punya hasrat sama sekali. (berdasarkan survei dengan orang2 dengan latar belakang hampir sama dan melihat dengan mata kepala sendiri jadi apa mereka sekarang).

Bagaimana dengan gue? yah meskipun termasuk yang susah jatuh cinta, gue suka cowok (belum pernah gue suka cewek), gue ingin mandiri dan gakmau bergantung dengan orang lain, dan saat ini gue termasuk kategori phobia ikatan apalagi pernikahan (untuk mengatakan seseorang sebagai sahabat aja, gue ragu, apalagi kekaasssihhh). For me, pernikahan terlihat menakutkan, karena bagaimana mungkin 2 insan yang saling cinta bisa saling mengkhianati dan rebut2an harta nantinya, padahal dulu pas pacaran, pengorbanan dan kasih sayang jadi momok utama. Gue tau ini rambu2 bahaya, karena menikah itu sangat dianjurkan oleh agama yang gue anut, tapi gue juga ga bisa apa-apa, ini dampak dari masa kecil gue yang amburadul. Jadi yang bisa gue lakukan cuma berdoa, semoga ada orang baik yang bisa bareng gue mewujudkan keluarga yang bahagia, dan kalopun orang itu gak bisa, ya gakpapa, at least bercerailah dengan baik2 dan sebisa mungkin membahagiakan anak2 gue, dan kalopun gue gak akan menikah sampai kapanpun, gue udah punya alternatif lain untuk menyikapinya.

Ah iya, kalo ada yang bertanya kenapa gue bercerita hal ini, ya karena gue pengen cerita. Gue udah berikrar di posting pertama bahwa gue ingin berbagi pengalaman, kan?. ini cuma realisasi. Hal ini bukan sesuatu yang harus disembunyikan. Karena pada kenyataannya gue bangga dengan hidup gue, gue pernah mencoba bunuh diri, gue pernah menyakiti diri gue sendiri, gue pernah mengatakan hal-hal yang terburuk yang bisa gue katakan pada orang tua gue, gue pernah merokok, memberontak, melempar piring, pokoknya yang kacau2, gue pernah. Tapi gue sudah melewatinya, gue bisa memaafkan dan bisa menerima hidup yang diberikan pada gue. Sekarang giliran gue yang berbagi.

Pada kenyataannya, memang banyak di antara mereka yang terperosok dan berkubang dosa, tapi most of all anak2 broken home yang seumur dengan gue sekarang tumbuh sebagai sosok yang lebih mudah menerima perubahan dan kekurangan orang lain, ketimbang anak dengan keluarga normal. Dan gue rasa kita mesti bangga akan hal itu, karena hal itu bukan sesuatu yang mudah untuk didapatkan.

Untuk yang masih berada dalam lingkarang set*n itu. hehe. yah abis sucks banget sih, iya kan?. Sebagai teman senasib (bisa dibilang begitu) gue akan berkata, gue percaya, Tuhan adil dan Dia punya rahasia untuk semua hambaNya, yang hilang pasti digantikan dengan yang lainnya. Yang perlu lo lakukan adalah, cobalah berpikir jernih, dan carilah jalan untuk meraih hidup lo sendiri. Jangan sampai lo ikut menjadi hancur, dan bagi yang sudah terperosok, gak ada kata terlambat untuk lo memperbaiki diri dan bangkit.

so, kalo mau dirinci, inilah yang bisa dilakukan : 

  • Peganglah keyakinan lo pada agama (beneran, itu bener2 mbantu lo banget, hati jadi lebih tentram)
  • Hilangkan dendam lo pada hidup dan Tuhan (karena gak ada gunanya lo tereak2 di malam2 sepi tentang betapa lo udah berusaha dan kenapa hidup lo gak menjadi seperti yang lo mau, bukan SARA ya, tapi pada kenyataannya kita emang cuma ciptaan Dia, kitalah yang harus mengikuti aturan Dia, bukan Dia yang ngikutin apa yang kita mau)
  • Terimalah diri lo dan keluarga lo (gak ada yang salah, cuma manusia jaman sekarang otaknya emang udah tercemar obat2an kimiawi dan macem2, jadi wajar kalo jadi agak2 miring dalam bertindak, it’s ok, yang penting kan sekarang lo udah sadar, mereka si papa-mama de el el juga one day bakal sadar juga kok, semua akan membaik, beneran deh) 
  • Percayalah kalo di luar sana pasti ada kebahagiaan yang menunggu lo (sekarang banyak medianya kok, lo bisa berkutat ada hobi, ikut kegiatan kemanusiaan, kemahasiswaan, TTM ;) , sahabat, pacar, banyak hal baru yang nunggu di luar sana, ngapain bermehe2 meratapi nasib, mendingan kita hepi heeepiiiiii dengan halal)
  • Hiduplah dengan cerdas, berusahalah menjadi seseorang yang berguna bagi orang lain (gue no komen ah, coba rasakan sendiri, nanti lo bakal tau kenapa gue menyarankan hal ini)

Dan bagi para orang tua, kami mengerti bahwa kalian juga manusia, bisa khilaf, bisa lupa, tapi please pikirkan juga orang2 yang bergantung pada kalian. Kalian dititipi anak, ya rawat dong dengan baik, pikirkan kelangsungan hidup mereka, bukan hanya dari segi materi tapi moral juga. Kalau memang perceraian adalah yang terbaik sejak awal, then make it fast, jangan mencoba bertahan dan menggantung2 urusan sampai anak kalian yang jadi korban. Kalo harus terluka, ya lakukan, abis itu obatin lukanya dan jalanin hidup lagi. Jadi orang tua jangan cengeng! jangan manja! malu dong sama umur!. Jadilah individu yang berani dan berkomitmen dan berusahalah dari awal untuk menikah dengan individu yang berani dan berkomitmen juga, jangan cuma kemakan cinta. Sejak lo punya anak, means lo udah gak bisa hidup untuk diri lo sendiri, means lo dikasih tanggung jawab berat, means lo mesti matang dan mempertimbangkan berbagai kemungkinan, termasuk bagaimana kalo pernikahan lo hancur, dan kalo lo gak siap akan hal itu, mendingan gak usah punya anak! pelihara kucing aja kalo emang segitu pengennya memomong sesuatu.

Semoga kata-kata gue cukup mewakili dan mengena, euw, entah kenapa postingan gue kali ini persis pojok konsultasi di majalah remaja. emang dari dulu gue kepengen c. Maaf ya sodara2 kalo agak menggurui, hohooohooo. Ya Ampyuuun, gue rasa gue udah mengambil langkah yang cukup besar dengan mengatakan hal ini. Hore hore.

 

Manda