Alkisah, di suatu tempat yang jauh….sekali, hiduplah 3 orang sahabat, Ain, Umiri dan Edel . Mereka sangat dekat satu sama lain. Mereka berbagi kisah. Mereka tertawa bersama. Mereka menangis bersama. Mereka merasa nyaman dan hangat saat bersama satu sama lain dan merasa takut akan terpisah suatu hari nanti. Kemanapun mereka pergi, mereka selalu bersama.

Dunia terasa begitu hangat dan indah. Sampai suatu hari, salah seorang di antara mereka yang bernama Ain, tertarik untuk memakan buah dari sebuah pohon yang terletak di sebuah kebun yang indah di belakang pondok mereka. Buah dari pohon itu begitu merah, bulat dan terlihat lezat. Hanya pohon itulah satu-satunya yang berbuah seperti itu di sana. Buah dari pohon itu bernama buah Omoh, salah satu jenis buah yang dilarang oleh tetua di desa mereka. Kata orang-orang yang lebih tua, buah itu hanya mendatangkan petaka. Orang yang memakannya tidak akan selamat dari kesialan dan marabahaya.

Umiri dan Edel mencegah Ain dengan sekuat tenaga mereka. Mereka tidak ingin Ain terkena malapetaka. Ain begitu tergiur akan buahnya yang begitu merah dan lezat.  Berkali-kali mereka memergoki Ain mendekati pohon itu, maka Umiri dan Edel terpaksa menarik Ain dengan paksa, bahkan pernah mengurung Ain di dalam pondok mereka. Sampai suatu hari, tanpa sepengetahuan Umiri dan Edel, Ain memakan buah Omoh tersebut.

Umiri dan Edel begitu marah dan terkejut dibuatnya. Ain menjadi tergila-gila akan buah Omoh, tidak ada hari tanpa memakan buah tersebut. Umiri dan Edelpun menjadi sedih, karena lambat laun Ain semakin menjauh dari mereka, Ain lebih suka menghabiskan waktunya di bawah keteduhan pohon tersebut, sambil memakan buahnya yang tak kunjung habis dan memabukkan. Ainpun semakin menjadi orang yang berbeda, kian hari Ain kian tak sadar, dimabukkan oleh kenikmatan dan kemanisan buah Omoh. Ain kehilangan pekerjaannya, keluarganya, kekasih dan akal sehatnya.

Ain kehilangan semuanya.

Umiri dan Edel begitu bingung. Mereka tidak tahu harus berbuat apa-apa lagi terhadap Ain. Mereka iba dan kasihan, tetapi sebanyak apapun Umiri dan Edel mengingatkan dan berbicara pada Ain, Ain selalu mengelak dan berkata hanya buah Omoh-lah yang bisa membuatnya bahagia, dan sebagai sahabat seharusnya mereka mengerti hal itu serta mendukungnya. Ain tidak mau mengerti bahwa buah Omoh hanya memberikan kenikmatan palsu dan telah menghancurkan seluruh kehidupannya.

Akhirnya, Umiri dan Edelpun pasrah, mereka memutuskan untuk tetap menemani Ain. Meskipun seluruh penduduk desa mencemooh mereka bertiga karena salah satu dari mereka telah memakan buah Omoh tersebut, Umiri dan Edel memutuskan untuk tidak peduli dan tetap bertahan. Mereka percaya, kelak Ain akan lepas dari belenggu buah Omoh dan kembali menjadi Ain yang dulu.

Tapi malapetaka buah Omoh tak berhenti sampai di situ.

Umiri begitu khawatir akan keadaan Ain, sampai tanpa sadar, kehidupannyapun menjadi hancur. Selama ini dia merasa kuat karena selalu ada dukungan dari 2 orang sahabat dekatnya. Tapi sejak Ain memakan buah Omoh tersebut, persahabatan mereka tidaklah seindah yang dulu. Umiri begitu terpuruk, tapi Umiri tetap berusaha untuk tabah dan kuat.

Sampai suatu hari, Umiri memergoki Edel ikut memakan buah Omoh tersebut, bersama Ain. Umiri marah bukan kepalang. Bukankah Edel sudah sepakat untuk membantu Ain sampai akhir? kenapa malah ikut memakan buah keparat itu. Edel membela diri dengan berkata, dia hanya ingin membuat Ain mengerti bahwa sebagai sahabat, Edel tak pernah meninggalkannya. Umiri tetap tidak habis pikir, bagaimana Edel dapat menolong Ain yang sudah terikat dengan buah Omoh, bila Edelpun nantinya akan ikut tergila-gila akan buah tersebut?. Tapi Edel tetap berkata, dia bisa mengendalikan dirinya.

Tapi janji Edel hanyalah janji. Edelpun ikut terperosok.

Umiri menjadi betul-betul benci dan dendam. Buah Omoh telah mengambil seluruh kehidupannya. Kedua sahabatnya. Kebahagiaannya. Setiap hari Umiri menangis. Edel dan Ain semakin menjauh darinya, kata-kata Umiri sudah tak pernah digubris lagi. Umiripun memutuskan untuk melakukan sesuatu.

Maka, Umiripun meminta petunjuk kepada tetua desa, adakah sesuatu yang bisa dilakukannya untuk memusnahkan kutukan buah Omoh tersebut. Para tetua menggeleng-geleng sedih dan berkata, tidak ada orang lain yang bisa menghilangkan kutukan buah Omoh kecuali orang yang memakan buah itu sendiri. Umiri merasa putus asa, dia tidak bisa memunggu Edel dan Ain tersadar dengan sendirinya, bisa- bisa buah Omoh sudah keburu membunuh mereka dengan racun dan janji-janji manisnya. Maka tetuapun berkata, ada jalan lain, tapi jalan ini begitu menyedihkan dan beresiko. Umiri harus membakar pohon Omoh tersebut dan malapetaka berkepanjangan tersebut akan musnah, maka Ain dan Edel akan tersadar dari mimpi-mimpinya. Tapi, buah Omoh adalah buah dari pohon setan dengan seluruh dendamnya, ada harga yang harus dibayar untuk itu, sesuatu yang tak pernah bisa mereka bayangkan.

Umiri memutuskan untuk membakar pohon itu. Saat Ain dan Edel tertidur, Umiri menyirami bawah pohon itu dengan minyak dan menyulutnya dengan api. Ain dan Edel begitu marah, mereka bersikeras untuk memadamkan api dari pohon tercinta mereka, mereka mengambil air dari sungai di dekat mereka dan menyiramnya ke arah sumber api.

Umiri mencegah mereka dan meneriaki mereka untuk mundur dan berhenti, tapi mereka tak mau mendengarnya. Akhirnya Umiripun mengancam mereka dengan pisau yang dibawanya. Jika mereka bersikeras melakukan hal itu, maka Umiri terpaksa membunuh mereka. Umiri menjadi gila.

Ain dan  Edel menjadi takut dan berusaha menenangkan Umiri. Mereka mengatakan betapa mereka meminta Umiri untuk mengerti dan menerima bahwa buah Omoh telah menjadi bagian terpenting dari hidup mereka. Umiri menjadi kalap dan tanpa sengaja melukai mata kanan Edel dengan pisau. Melihat itu, Ain yang begitu marah karena Umiri telah melukai Edel, memukul kepala Umiri dengan batu berkali-kali, hingga Umiri tak sadarkan diri. Sementara Edel yang masih kesakitan berusaha mencegah Ain untuk membunuh Umiri, tanpa sengaja Edel mendorong Ain ke arah pohon buah Omoh yang hampir terbakar habis. Semuanya menjadi kacau.

Keesokan harinya, penduduk desa mendatangi pondok 3 sahabat tersebut. Mereka menemukan sisa-sisa pohon Omoh yang sudah terbakar habis, serta 3 orang tersebut dalam keadaan yang sangat mengenaskan, tapi masih bisa diselamatkan. Para penduduk desa membawa 3 orang tersebut ke rumah tetua desa mereka dan mengobatinya.

 

Edel kehilangan mata kanannya akibat pisau Umiri. Umiri kehilangan kemampuan berpikirnya akibat pukulan Ain. Dan Ain menderita luka bakar parah pada sebelah muka kirinya akibat didorong oleh Edel. Buah Omoh telah meminta harga yang mahal untuk kepergiannya.

 

Penduduk desa begitu iba pada mereka, namun mereka tak bisa berbuat apa-apa. Sementara itu, Umiri, Edel dan Ain-pun sudah tak dapat berkomunikasi dengan baik lagi. Mereka saling menyalahkan dan dendam akan hal ini, mereka marah, tapi mereka tahu mereka tak bisa menyalahkan siapa-siapa. Maka, mereka bertiga memutuskan untuk berpisah dan menempuh jalan hidup masing-masing.

Bertahun-tahun kemudian.

Umiri dan Edel bertemu kembali di suatu rumah makan dan akhirnya mereka menjalin persahabatan kembali. Mereka memutuskan untuk saling bantu untuk menutupi cacat yang mereka derita.

Sementara saat itu, Ain sedang duduk termenung memandang pohon di hadapannya, dia berharap pohon itu cepat menjadi besar dan berbuah. Diam-diam dia bersyukur dia sempat menyimpan benih dari pohon yang terbakar dulu itu.

The End.

 

 

……untuk Edel dan Ain, kita telah membuat kesalahan yang berat, luka kita bertiga tak akan pernah bisa hilang dan akan terus membekas, hanya waktulah yang perlahan-lahan bisa menyembuhkannya.Tapi percayalah, kalian berdua pernah dan akan terus berada di hati ini, tetap sebagai Ain dan Edel yang dulu, sebelum buah Omoh masuk ke kehidupan kita bertiga. Dari lubuk hati yang terdalam, selalu mendoakan kebahagiaan kalian berdua, selama-lamanya.

Umiri.