.
Thoughts, Love, ObssesionsFebruary 26, 2007 3:32 am

 

Susahnya jadi Putri Amanda Bahraini,

 

pengen diet dengan sukses. tapi untuk diet, gue butuh kecengan supaya total. jadi gue butuh kecengan. tapi gak bisa pake kecengan lama karena udah ada yang punya. jadi gue butuh kecengan baru. tapi gak bisa cari kecengan baru karena gak ada yang se-qualified kecengan lama. tapi kalo gak nyari, gak maju2 nih. jadi gue coba cari kecengan baru, lirik sana sini, coba memaksa suka. tapi gak bisa, masih aja teringat kecengan lama. jadi binun. binun binun. Kapan selesenya dong ini dieeettt. timbangan naik-turun-naik-turun (sebenernya yang naik turun bukan timbangan c). way to slimness-nya (apa seh maksudnyaaaa?) masih sangat jaaauhhhh doong, gue butuh sesuatu untuk penyemaangaaat, berikan gue kecengan, berikaaaaaaaannn… KECENGAAAAANNN…!!!! (hopeless) siapapun itu… masa di dunia ini gak ada yang qualified lagi???emoticon

 

ngomongin ‘kecengan lama’ yang gue sebut2 di atas, gue jadi inget masa2 SMA. Aaaahhh… ilang dong ilang, ngapain c nyangkut di kepala gue terus? pergi sana! pergi!. Tapi emang susah juga sih lupainnya, secara dia masih sliwar-sliwer di ITB (anak ITB, seangkatan, tapi beda jurusan ma gue, tapi gedungnya deket ma gedung gue, aaahhhhh emoticon). Emang terlalu berharga untuk dilupakan sih, secara kenangannya manis banget dan dia bisa bikin gue semangat turun 20 kg (pas SMA dulu, begitu dia jadian, naek lagi beratnya, stress soale :D ). Dan emang gue yang salah juga c, kenapa gak mau bergerak dari dulu2 (masih menganut paham, ‘perempuan harus dikejar‘). Tapi kan, itu udah 5 tahun yang laluuuu….??!!!! kenapa gak bisa lupa-lupa juga??? sebel sebel.

Tadinya gue sempet berpikir dan berkata pada diri sendiri, "udahlah man, dilepas aja, itu udah ada yang punya, yang punya temen lo juga lagi, lagian dia gak se-perfect itu kok, banyak lho yang lebih baik…". Dan begitulah yang gue coba lakukan selama 2,5 tahun gue kuliah di ITB ini, tapi gak bisaa…dia udah sangat mempengaruhi standar gue dalam menentukan seseorang pantes dikecengin pa gaaak. Buktinya, saat gue cari ‘kecengan baru’,  tipenya pasti gak jauh2 dari dia, ya miriplah, ya gaya ngomongnya sama lah, ya bisa main gitar jugalah, ya inilah, itulah. Dan pada akhirnya emang gak ada yang bisa melampaui dia. AAARGH REESSEEEE…!!!!

kalo ketemu, rasanya pengen ngomong :

"DASAR KAMU BAJING*N PENCURI HATI, BALIKIN HATI GUE, DASAR BURUK RESE…!!!!!!!!! "

…… 

~ engg…mungkin diperhalus-lah ya, jadi gini :

"Dasar nakal, pencuri hati, balikin hati gue dong, butuh nih… udah deket deadline soalnya, maaf ya ngeganggu…makasih." 

…… 

~ kayak sms minta balikin catetan yang pernah dipinjem aja, OMG, jijik banget.

 

……

udah ah kalo ketemu gak mau ngomong apa2, misuh2 di belakang aja, terus diselengkat (aduh gimana ya njelasin arti ’selengkat’?) biar jatoh. 

……

gamau jugaaa…. gak tega… terlalu sayang untuk dijahatiiii…. emoticon (maunya apa sseeehh???)

 ———————

yah kalo mau digambarkan, se-mendamba itulah gue ma dia ampe jadi gajelas kayak di atas.

Tapi emang bener c, gue masih mendamba dia ampe sekarang, sekeras apapun gue berusaha menipu diri dan melupakan. Lagu2 jaman itu masih gue simpan, masih gue dengar, masih bisa bikin gue bengong2 senyum sendirian (jangan ngebayangin yang aneh2).

Hemmmm… berhubung emang gak ada yang bisa bikin gue berpaling,

Haruskah gue kejar lagi? 

 

 

Kejar ah, hehehehe….

 

Manda. 

Uncategorized, Resensi, Sehari-hariFebruary 24, 2007 7:52 am

All I hear is raindrops falling on the rooftop
Oh baby, tell me why’d you have to go
‘Cause this pain I feel it won’t go away
And today I’m officially missin’ you

I though that from this heartache, I could escape
But I’ve heard it long enough to know
There ain’t no way
And today I’m officially missing you

        Chorus:
        Ooh…can’t nobody do it like you
        Said every little thing you do, hey, baby
        Said it stays on my mind
        And I’m officially

All I do is lay around, two years full of tears
From looking at your face on the wall
Just a week ago you were my baby
Now I don’t even know you at all,
I don’t know you at all

Well, I wish that you would call me right now
So that I could get through to you somehow
But I guess it’s safe to say, baby
Safe to say that I’m officially missin’ you

        Chorus:
        Ooh…can’t nobody do it like you
        Said every little thing you do, hey, baby
        Said it stays on my mind
        And I’m officially

Well, I thought I could just get over you, baby
But I see there’s something I just can’t do
From the way you would hold me
To the sweet things you told me
I just can’t find a way to let go of you

        Chorus:
        Ooh…can’t nobody do it like you
        Said every little thing you do, hey, baby
        Said it stays on my mind
        And I’m officially

It’s official
Hoo, you know that I’m missin’ you, yeah, yes
All I hear is raindrops, oh, yeah
And I’m officially missin’ you

                        (officially missin’ you - Tamia)

 

Entah kenapa mulai suka lagi ama lagu ini… hohohohooooo sesuai suasana ati kali yaaaaa. Haaaahhh… sayang sekali ya, tapi memang harus begitu. Yah, gue rasa gue nikmati aja kangen ini, nanti juga ilang sendiri. :)

 

Manda. 

Tentang Manda, Budaya, Thoughts, Family, LoveFebruary 22, 2007 7:54 am

 

Suatu hari, temen gue bertanya pada gue bagaimana rasanya menjadi anak broken home dan gimana gue menghadapinya selama ini.

Sebelumnya, gue akan bercerita sedikit mengenai latar belakang gue. Orangtua gue bercerai sewaktu gue berumur 17 tahun (tepat 5 hari setelah pesta sweet seventeen gue, hadiah yang sangat buruk) dan sepanjang perjalanan kami sekeluarga selama 17 tahun itu, selalu diwarnai masalah. Semua yang buruk2, menyakitkan, histeris dan traumatik ada di masa2 17 tahun itu. Meskipun masih banyak masalah keluarga yang lebih parah dari keluarga gue, dengan rentang waktu yang cukup lama itu, gue rasa gue tau pasti bagaimana rasanya jadi anak broken home. Dan gue rasa itulah alasan kenapa teman gue bertanya sama gue.

 

Karena itu, sebagai informasi untuk para orang tua agar berpikir matang2 sebelum melakukan sebuah keputusan, sebagai dukungan mental bagi anak2 yang menderita akan hal ini, gue akan beritahu apa rasanya menjadi sebuah produk broken home dari pandangan salah satu produknya.

Menjadi seorang produk broken home, adalah seperti mengalami sebuah kecelakaan besar yang meninggalkan luka traumatik dan cacat permanen. Bagaimanapun lo berusaha melewati dan menerima hal itu, bagaimanapun luka telah sembuh dan terobati dengan adanya orang2 yang menyayangi lo dan keluarga baru yang bahagia menanti lo di rumah, cacat itu gak akan pernah hilang. Ada bagian tergelap di bawah alam sadar lo yang akan terus mengingatkan akan hal itu, dan ini akan mempengaruhi cara berpikir lo di masa depan.

Most of all, anak produk broken home memutuskan untuk mencari dunianya sendiri di luar sana. Makanya jangan salahkan mereka kalau sampai ada yang terjerat narkoba, seks bebas dan segala macam. Mereka pergi keluar tanpa pernah tahu apa yang baik dan yang buruk. Persis seperti seorang anak yang menangis dan butuh pelukan ibunya, tapi dia tidak mendapatkannya, so dia akan berterimakasih pada siapapun yang mau memeluknya, dan kadang wujud si ibu itu adalah ‘narkoba’ dan ’seks bebas’.  Kalau ada yang berkata, mereka kan sudah diberi pendidikan agama dan moral, harusnya mereka mengerti bahwa itu tidak dibolehkan! harusnya mereka kembali ke agama dan bertafakur!. Tanpa bermaksud membela atau SARA, hanya berusaha menjelaskan bagaimana situasinya, I tell you, kekuatan iman dan pengalaman masing2 orang tidak sama, dan di saat psikis manusia berada di kondisi yang benar2 terpuruk, mereka tak bisa berpikir mana yang harus dan tidak boleh dilakukan, mereka berpikir apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi rasa sakit yang diderita saat ini, yang tercepat, yang termudah de el el. Dan dengan ritual bentak sana bentak sini, lempar piring lempar gelas, kelicikan dan kecurangan di keluarga mereka, dengan semua anggota keluarga yang sibuk sendiri itu, bagaimana mungkin mereka dapat pendidikan agama dan moral yang cukup layak untuk diterapkan di hidup mereka? mengetahui anak mereka ada di rumah saja udah bagus.

Gue gak tau gimana dengan anak lainnya, tapi gue mendapatkan pendidikan moral, agama, dan bagaimana berhubungan dengan orang lain, di luar rumah. Sebagian besar gue belajar sendiri. Ada sih yang bisa gue dapet dari rumah, penting dan jarang didapatkan, yaitu ‘bagaimana menghadapi berita buruk’, ‘bagaimana menangis tanpa suara’, ‘bagaimana supaya tidak terlibat masalah’. Mengembangkan dan membuka diri, serta menemukan lingkungan yang hangat dan bisa gue anggap keluarga pengganti, baru bisa gue lakukan sepenuhnya setelah gue memutuskan untuk kuliah di Bandung. Yeah, itulah alasan utama kenapa gue ada di Bandung ini, melepaskan diri dari keluarga gue sendiri.

Yaaah, butuh perjalanan yang panjang sampai kalian bisa bertemu dengan Manda yang sekarang. 

Gue sebut angin baru, karena membuka wawasan lo dan membuat lo bisa berpikir lebih sehat. Karena itu gue mengacungi jempol pada anak2 broken home yang dengan berani memutuskan pergi dari rumah untuk mencari hidup mereka (yang sudah dipikir baik2 tentunya, bukan yang asal ciao aja). Karena emang berasa lebih baik. Karena udara yang lo hirup akan jauh berbeda. Perspektif lo tentang hidup akan jauh lebih indah. Mungkin egois, karena pasti yang ditinggalkan di kampung kelahiran sana merasa agak kehilangan. Well terserah sih, kalo gue, berpikir seperti ini, gue gakmau ikut membusuk di sana, gue merasa bersalah dan berdosa, tapi untuk saat ini, gue ingin punya dunia gue sendiri, kabari gue kalo lo semua yang disana udah agak waras, gue akan kunjung2 liburan nanti. Gue sayang sama lo semua, tapi berada bersama lo semua gak akan membuat gue menjadi individu yang lebih baik, so gue memutuskan untuk pergi mencari takdir gue sendiri, kasih sayang bisa gue sampaikan dari mana saja kan? ada telpon, email dan sekarang banyak on time shuttle. titik. That’s what i called, ‘egois tapi perlu’. karena selama hidup gue, gue gak punya waktu untuk gue sendiri, sekaranglah waktunya.

Dan seperti yang sudah gue katakan bahwa ini berpengaruh pada hidup mereka ke depannya, kebanyakan dari mereka, gakmau menggantungkan hidupnya pada orang lain and selalu berpikir kalau-kalau pernikahan mereka akan bernasib sama dengan orang tua mereka. Di versi lebih parah, mereka phobia dengan pernikahan dan mendambakan hidup tanpa ikatan. Ada juga yang menyukai sesama jenis (untuk mereka yang terkena abuse atau yang menjadi saksi abuse), atau malah gak punya hasrat sama sekali. (berdasarkan survei dengan orang2 dengan latar belakang hampir sama dan melihat dengan mata kepala sendiri jadi apa mereka sekarang).

Bagaimana dengan gue? yah meskipun termasuk yang susah jatuh cinta, gue suka cowok (belum pernah gue suka cewek), gue ingin mandiri dan gakmau bergantung dengan orang lain, dan saat ini gue termasuk kategori phobia ikatan apalagi pernikahan (untuk mengatakan seseorang sebagai sahabat aja, gue ragu, apalagi kekaasssihhh). For me, pernikahan terlihat menakutkan, karena bagaimana mungkin 2 insan yang saling cinta bisa saling mengkhianati dan rebut2an harta nantinya, padahal dulu pas pacaran, pengorbanan dan kasih sayang jadi momok utama. Gue tau ini rambu2 bahaya, karena menikah itu sangat dianjurkan oleh agama yang gue anut, tapi gue juga ga bisa apa-apa, ini dampak dari masa kecil gue yang amburadul. Jadi yang bisa gue lakukan cuma berdoa, semoga ada orang baik yang bisa bareng gue mewujudkan keluarga yang bahagia, dan kalopun orang itu gak bisa, ya gakpapa, at least bercerailah dengan baik2 dan sebisa mungkin membahagiakan anak2 gue, dan kalopun gue gak akan menikah sampai kapanpun, gue udah punya alternatif lain untuk menyikapinya.

Ah iya, kalo ada yang bertanya kenapa gue bercerita hal ini, ya karena gue pengen cerita. Gue udah berikrar di posting pertama bahwa gue ingin berbagi pengalaman, kan?. ini cuma realisasi. Hal ini bukan sesuatu yang harus disembunyikan. Karena pada kenyataannya gue bangga dengan hidup gue, gue pernah mencoba bunuh diri, gue pernah menyakiti diri gue sendiri, gue pernah mengatakan hal-hal yang terburuk yang bisa gue katakan pada orang tua gue, gue pernah merokok, memberontak, melempar piring, pokoknya yang kacau2, gue pernah. Tapi gue sudah melewatinya, gue bisa memaafkan dan bisa menerima hidup yang diberikan pada gue. Sekarang giliran gue yang berbagi.

Pada kenyataannya, memang banyak di antara mereka yang terperosok dan berkubang dosa, tapi most of all anak2 broken home yang seumur dengan gue sekarang tumbuh sebagai sosok yang lebih mudah menerima perubahan dan kekurangan orang lain, ketimbang anak dengan keluarga normal. Dan gue rasa kita mesti bangga akan hal itu, karena hal itu bukan sesuatu yang mudah untuk didapatkan.

Untuk yang masih berada dalam lingkarang set*n itu. hehe. yah abis sucks banget sih, iya kan?. Sebagai teman senasib (bisa dibilang begitu) gue akan berkata, gue percaya, Tuhan adil dan Dia punya rahasia untuk semua hambaNya, yang hilang pasti digantikan dengan yang lainnya. Yang perlu lo lakukan adalah, cobalah berpikir jernih, dan carilah jalan untuk meraih hidup lo sendiri. Jangan sampai lo ikut menjadi hancur, dan bagi yang sudah terperosok, gak ada kata terlambat untuk lo memperbaiki diri dan bangkit.

so, kalo mau dirinci, inilah yang bisa dilakukan : 

  • Peganglah keyakinan lo pada agama (beneran, itu bener2 mbantu lo banget, hati jadi lebih tentram)
  • Hilangkan dendam lo pada hidup dan Tuhan (karena gak ada gunanya lo tereak2 di malam2 sepi tentang betapa lo udah berusaha dan kenapa hidup lo gak menjadi seperti yang lo mau, bukan SARA ya, tapi pada kenyataannya kita emang cuma ciptaan Dia, kitalah yang harus mengikuti aturan Dia, bukan Dia yang ngikutin apa yang kita mau)
  • Terimalah diri lo dan keluarga lo (gak ada yang salah, cuma manusia jaman sekarang otaknya emang udah tercemar obat2an kimiawi dan macem2, jadi wajar kalo jadi agak2 miring dalam bertindak, it’s ok, yang penting kan sekarang lo udah sadar, mereka si papa-mama de el el juga one day bakal sadar juga kok, semua akan membaik, beneran deh) 
  • Percayalah kalo di luar sana pasti ada kebahagiaan yang menunggu lo (sekarang banyak medianya kok, lo bisa berkutat ada hobi, ikut kegiatan kemanusiaan, kemahasiswaan, TTM ;) , sahabat, pacar, banyak hal baru yang nunggu di luar sana, ngapain bermehe2 meratapi nasib, mendingan kita hepi heeepiiiiii dengan halal)
  • Hiduplah dengan cerdas, berusahalah menjadi seseorang yang berguna bagi orang lain (gue no komen ah, coba rasakan sendiri, nanti lo bakal tau kenapa gue menyarankan hal ini)

Dan bagi para orang tua, kami mengerti bahwa kalian juga manusia, bisa khilaf, bisa lupa, tapi please pikirkan juga orang2 yang bergantung pada kalian. Kalian dititipi anak, ya rawat dong dengan baik, pikirkan kelangsungan hidup mereka, bukan hanya dari segi materi tapi moral juga. Kalau memang perceraian adalah yang terbaik sejak awal, then make it fast, jangan mencoba bertahan dan menggantung2 urusan sampai anak kalian yang jadi korban. Kalo harus terluka, ya lakukan, abis itu obatin lukanya dan jalanin hidup lagi. Jadi orang tua jangan cengeng! jangan manja! malu dong sama umur!. Jadilah individu yang berani dan berkomitmen dan berusahalah dari awal untuk menikah dengan individu yang berani dan berkomitmen juga, jangan cuma kemakan cinta. Sejak lo punya anak, means lo udah gak bisa hidup untuk diri lo sendiri, means lo dikasih tanggung jawab berat, means lo mesti matang dan mempertimbangkan berbagai kemungkinan, termasuk bagaimana kalo pernikahan lo hancur, dan kalo lo gak siap akan hal itu, mendingan gak usah punya anak! pelihara kucing aja kalo emang segitu pengennya memomong sesuatu.

Semoga kata-kata gue cukup mewakili dan mengena, euw, entah kenapa postingan gue kali ini persis pojok konsultasi di majalah remaja. emang dari dulu gue kepengen c. Maaf ya sodara2 kalo agak menggurui, hohooohooo. Ya Ampyuuun, gue rasa gue udah mengambil langkah yang cukup besar dengan mengatakan hal ini. Hore hore.

 

Manda

Tentang Manda, Sehari-hari, ObssesionsFebruary 18, 2007 10:30 am

Jadi begini ceritanya,

Setelah melewati seminggu penuh kekesalan dengan model rambut yang sudah sangat2 berantakan (rambut kiri kanan mencuat2 ke luar, entah kenapa ada ekor rambut yang panjang kayak cacing di tengkuk, poni kepanjangan nutupin mata, kalo dikuncir, muka jadi lebar, kalo poninya dijepit ke atas, muka melebar juga, kalo di lepas, tampang gue mirip penjahat). Pada Jumat sore yang lalu, Putri Amanda Bahraini memutuskan untuk memotong rambutnya di salon X (dirahasiakan, karena bakal dijelek2in). Setelah berkonsultasi kesana dan kesini, Manda memutuskan untuk sekedar merapikan rambutnya biar gak keluar2 (karena aslinya lagi pengen dipanjangin, biar sekedar rapih aja) dan menambahkan poni rata di depan untuk memperkecil range muka dan menimbulkan kesan imyut.

Jadi, datanglah saya ke salon X untuk memotong rambut, dan berikut ini adalah dialog menyebalkan saya dengan mbak2 potong rambutnya :

Mbak Potong Rambut (MPR) : Jadi mau dipotong kayak apa, mbak?
Manda : eng… gini mbak sebenernya saya mau konsultasi dulu…  Saya sebenernya kesini cuma mau ngerapiin aja, sama sekalian mau bikin poni, kira2 cocok gak ya saya pake poni? (pertanyaan basa-basi, udah yakin banget bakal cocok).
MPR  :  Poni? Ohh… cocok2 aja, kan mukanya lebar ya, ha-ha-ha….
Manda :  (apa sih nih mbak2) oh… gitu, ha-ha, terus mbak, sebenernya saya mau manjangin rambut, tapi agak bingung nih soalnya jadi berantakan banget, ga betah liatnya, gimana ya mbak..?
MPR : coba saya liat, emm… pantes2 aja kalo mau dipanjangin, tapi paling gak model rambutnya mesti agak diratain dulu, jadi agak bob gitu. Lagian ini yang rambut di tengkuk kamu agak aneh ya? kaya’ cacing gitu, mendingan dipotong.
Manda : (eng….) Bobnya seberapa mbak? Saya gakmau kependekan, kan muka saya lebar tuh (udah kesel).
MPR : Segini (kasi batas di leher gue), mau gak? Udah agak ngebob tuh, nanti kamu gak usah potong2 lagi tinggal nunggu panjang, pas panjang juga gak bakal berantakan kayak sekarang, bakal lebih rapih.
Manda : Oh iya boleh deh, tapi beneran segitu ya mbak.
MPR : oke, tapi belakangnya agak saya trap ya, biar mukamu gak keliatan makin buled
Manda : oh oke mbak… (ihhhhh….)

Dan akhirnya gue menyerahkan hidup gue sepenuhnya pada mbak2 potong rambut, dan sodara-sodara…. MOTONGNYA KEPENDEKAAAN…. HUAAAAAAAAAAA….. MBAK2 PEMBOHONG….!!! PENIPU! TIDAK TAHU DIRIII… KATANYA SELEHER??? DASAR! DASAR….!!!! Poninya memuaskan, tapi rambut belakangnya pendek banget, jadi kayak cowok, sedih sedih.Terus gue udah berusaha bersabar, menahan diri supaya gak marah, dan terakhirnya mbaknya ngomong : MPR : Nah, paling gak keliatan lebih rapih kan..WHAT? LO BAHKAN GAK MEMBUAT PERASAAN GUE JAUH LEBIH BAIK DENGAN MEMUJI ATO APA..???Jadilah gue senyum2 basa basi dan cepet2 ke kasir buat bayar dan cabs (bahasa gaul, cabut) dari situ.

————————-

Sampai di kos, drama quenn gue soal rambut salah potong ini makin menjadi2, Sila ketawa ngeliat gue, ”lucuuuu…kayak Kappa…" (bagus, sekarang gue mirip hantu legenda dari jepang), Iprit memandang gue sambil berkata ”Apel.” (moga2 yang dia maksud bukan Apel Fuji), IvanKur yang dateng buat bikin tugas langsung ketawa kebahak2 (”AHAHAHAHA…. bagus bagus, LUCU, AHAHAHA”), Jimmy yang dateng buat bikin tugas juga, langsung berkata menyakitkan (”Manda? Rambutnya aneh.”). Oh kalian teman yang sangat baik, gue sayang banget ma lo semua, sayaaaaaaaaaanggg banget.

Jadilah gue terpuruk dan mulai mikir yang aneh2. Gue kepengen hair extension aja, tapi gue takut kalo pake rambut orang mati (ihhhh), kalo pake sintetis kurang alami, gimana ya? Jadilah, gue mendatangi sebuah salon mahal di daerah Dago yang katanya pake rambut orang hidup diimpor langsung dari India, untuk survei2 berapa harganya. Tapi MAHAL beneran ya, untuk manjangin 30 senti aja, lo mesti rogoh sekitar 4 jeti, halah halah. Duit darimana? Masak pake uang tabungan, gak mauuu…

————————-

Tapi gue tetap memutar otak, kalo bawa rambut sendiri bakal lebih murah pastinya-lahya… kan tinggal biaya pemasangan rambut doang tuh (tanpa bertanya boleh bawa rambut sendiri pa gak). Jadilah gue berusaha mempengaruhi temen sekos gue yang berjilbab, Iprit namanya, untuk merelakan kepalanya dibotak dan memberikan rambutnya pada gue.

Manda : Ayolah Priiit…. gue minta rambut lo, kan gak butuh2 amat, lo kan ke kampus pake jilbab, gue kan pake rambut.
Iprit : TIDAK…
Manda : Plissss Priiitt… kan Budi*no (entah kenapa berasa harus agak disensor) juga gak liat ini… mana dia tau pala lo botaaakk….
Iprit : Gaklah, yang bener aja, nanti gak enak, kalo baru numbuh rambutnya mencuat2 keluar dari jilbab…

———————–

Hua. Iprit gak mau… bahkan dia memberikan beberapa nama wanita berjilbab di IF ITB untuk gue tanya apakah rambutnya boleh diambil pa gak… (Olip? Nurshanti? Fitra? Upik? Mia Kamayani? Akhirnya setelah bingung, dia bilang ”Coba minta Arya deh, sapa tau kalo di-bonding jadi panjang, kan lumayan” — Arya, temen kuliah dengan rambut kribo)Gue bener2 putus asa. Akhirnya hair extension gue coret dari alternatif penyelamatan rambut. Gue terpikir, wig (ya ampun). Jadilah gue menelpon nyokap gue, meminta dia untuk mengirim wig yang pernah dia beli ke Bandung. Dan nyokap gue menjawab ”nggilani (jijik, boso jowo), kamu mau pake wig ke kampus? Jangan aneh2 deh…”.

Tapi gue tetep memaksa, akhirnya setelah sesi2 pemaksaan pada ibu2 yang entah kenapa berkesan agak pelit, gamau minjemin koleksi wig-nya, Ibu2 pun ngamuk, ”MANA MUNGKINLAH GUE KIRIM WIG?!! YANG BENER AJA!! UDAH SANA MARAHIN AJA MBAK2 POTONG RAMBUTNYA!”. Dan pembicaraanpun selesai sampai disitu.

————————-

Ya ampun, bener2 gak ada yang bisa bantu… haruskah gue bertahan selama kurang lebih 3 bulan dengan rambut maskulin ini? Hua hua. Gue udah sering dipanggil ”Pak”, ”Mas”, dengan rambut gini makin keliatan kayak cowok gak c? L hua hua. Muka bulad bulad bulad, sediiiihhh….

L

Setelah pikir punya pikir, akhirnya gue memutuskan untuk pasrah, ini cobaan, diterima aja, rahasia Illahi. Lagian kalo dilihat2 lumayan lucu deh (asal jangan dari simpang –eh- samping) agak Maruko gitu, paling gak poninya sesuai keinginan lah. Untuk memperbaiki suasana hati, jadilah gue berfoto-foto memakai PoSo (untung ada PoSo – liat postingan sebelumnya) untuk mencari angle yang lumayan bagus, dan inilah dia…. the new Manda….

 Bundarnya, AHAHAHAHA.

MandaManda….

Sehari-hari 10:07 am

Dear blogku tersayang dan para pembaca yang tercinta…. (yah gue yakin ada yang baca)

 

Akhirnya, setelah bersabar selama hampir setahun ini dengan hape tanpa kamera (karena hape nokia 3230 gue dicopet setahun yang lalu),

 

GUE BELI KAMERA DIGITAL………!!!!!

 

Lalala. Lilili. Lalala. Lululuuuu……

 

Tunggu tunggu, kalo yang kalian pikir kameranya semutakhir apa, sampe gue bisa seseneng itu, kalian salah besar… kameranya biasa aja kok. Gue beli Canon A430 Power Shot, 4 megapixel, dengan tambahan memori 1 giga, udah sama plus batre n chargernya. Biasa kan? Menurut gue biasa, soalnya, ada kamera yang jauh lebih mutakhir dan bahkan, ada hape dengan built in camera dengan resolusi lebih gede dari itu.

 

Terus napa gak beli kamera yang bagusan sekalian ato hape berkamera ?
Karena gue pengen hape dan kamera yang terpisah. Selain itu, duitnya gak cukup buat beli yang lebih bagus lageee, belinya pake duit sendiri… lagian untuk saat ini, gue cuma mau kamera aja, soal megapixel, memori de el el, yang standar juga gapapa, asal mereknya Canon. Nah waktu itu, gue nanya ke mbak2nya, kamera digital Canon yang paling murah yang mana? Ya yang itu si Canon PoShot itu.

 

Kenapa gue ngebet banget beli kamera?

Soalnya gue bete. Beberapa kali gue mengabadikan event2 tertentu pake kamera orang, hasil fotonya gak pernah nyampe ke gue, even udah berkali2 gue minta, kan sayang, padahal mau gue pajang di blog.
Makanya, gue seneeeeng banget sama si Poso (resmi dikasih nama). Sekarang gue bisa mengabadikan momen dimanapun kapanpun gue berada, senangnya senangnya.

 

Tapi emang bener ya, benda yang lo beli dengan pertimbangan dan uang lo sendiri bakal jauh lebih lo jaga dan hargai. Gue ngerasain itu sekarang (kebetulan Poso adalah benda elektronik pertama yang gue beli sendiri), ga boleh ampe jatuh, jangan ampe lecet, kalo dipegang orang laen rasanya deg-degan abis. Gue rasa, ada faktor lain kenapa gue bisa se-over protektif itu, karena GUE BELINYA PAKE PENGORBANAN. Gara2 si Poso gue mesti berhemat selama 3 bulan, kurangi uang makan, uang belanja, uang buku, uang transpor, ya ampun parah, seumur idup belum pernah gue sepelit dan seperhitungan ini.

 

Hua. 3 bulan ke depan gue bakalan miskin (Semoga gue bakal kurus juga. Amin). Supaya gue tetap sehat dan bisa makan lumayan layak, terpaksa gue mengsms ibu2 di Jakarta (maksudnya ’ibunya Manda’, singular loh, manda emang biasa menyebut ’ibu’ dengan ’ibu2’) untuk mengirim makanan ke Bandung. ”Mam, kirimin ayam ungkep, kirimin pangsit rebus” hahaha. Nyam nyam enaknya.

 

Yasud, sekedar mengabari Racauan Manda sekarang udah didukung oleh si PoSo, semoga jadi lebih enak dibaca lagi (oh tentu). Ohya, thanks buat Kal-kun, udah nemenin beli PoSo di BEC (Bandung Electronic Center) Sabtu kemaren, even sempet gue marahin after beli kamera gara2 celotehannya sinis banget selama gue nanya2 fitur kamera, YA MAAF YA KUN, KAN GUE GAK PERNAAAHH……!!!! (ehehehehehe, thanks ya bos!!!).

 

Hasil foto PoSo :

 

 ini si PoSo, hahaha, yang jadi peran pembantu itu si Ketan.


 

 ini si Kalkun, gue foto pake Poso, lucuuuuu… ahahaha :D

 

 

 ini si Anda ama si Iprit di garasi kosan, lucu deh ekspresinya…

 

 

With love and….-ok- kisses,

 

Putri Amanda Bahraini Noor and PoSo.

Thoughts, Friends, Sehari-hariFebruary 15, 2007 6:29 am

Dear blog,

Memasuki minggu PMS (Pre Menstruation Syndrom), suasana hati gue bener2 buruk.

Semuanya bisa bikin marah. Anak-kecil-gendut-beranting-besar2-warna-merah-padahal-masih-SD-dasar-buntelan-genit-terus-pede-banget-masuk-angkot-dan-duduk-di-sebelah-gue aja bisa bikin gue kesel minta ampun, rasanya pengen gue jepit di pojokan, biarin aja ga bisa turun, jadi pajangan angkot. KESEL BANGET GUE…….!!!!!!!!!!!!!!!!!! MARAH BANGET GATAU KENAPA!!!!! RASANYA PANAS! KEPALA PENING! MARAH MARAH MARAH!

———————-

btw, mohon pembaca peka untuk tidak mengomentari ‘lah elo kan juga gendut, man’ ato komentar senada. MOHON DENGAN SANGAT.

————————–

AAAAAAAAAAAHHHHH GUE BETE. Sebenernya gue bisa melewati ini dengan baik2 aja, tapi gara2 ditrigger-i oleh sesuatu gue jadi gak bisa tenang lagi. Ibarat minyak disulut pake api, GUE TEERBAAAAKAAARRR….!!!!

Apinya adalah, gue terjerat masalah dengan seorang kawan. Dan ini bener bikin kesel dan bingung.

Kalau mau tau apa yang dirasain, nih gue ceritakan (ralat, gue stres, jadi suka ga suka, gue ceritakan). Gue pengen cerita ma kawan tapi kawan gak bisa dicurhatin. GUe pengen bercanda sama kawan, tapi kawan gak bisa dibecandain. Gue pengen curhat sama kawan, tapi kawan lagi stress jadi gak bisa dicurhatin. Gue gak tau kawan lagi stress, jadi pas gue becandain kawan jadi marah. Gue merasa bersalah ma kawan, jadi gue minta maaf ma kawan, tapi kawan mengatakan hal yang menyebalkan. GUe tetep minta maaf ma kawan, tapi kawan tetep bikin sakit ati. Gue berusaha menyelesaikan, kawan gak bales2 lagi soalnya lagi hemat pulsa. Sebenernya gue masih bisa mengerti seandainya saja gue gak PMS dan kawan gak bilang hal-hal yang menakutkan. Tapi situasinya lagi bener2 buruk dan kawan bener2 mengatakan hal yang menakutkan. Gue lagi dalam situasi buruk dan lagi butuh kawan buat bikin senang sedikit, tapi kawan jahat kayak set*n.

Gue sebel dan kondisi gue makin memburuk dan akhirnya ‘drama quenn’ guepun kambuh. Gue akhirnya kesel dan mengatakan hal yang agak menyakiti kawan dan mungkin buat kawan tambah murka. Tapi gue menyesal. Tapi gengsi gue gede jadi gue gakmau tarik omongan gue juga. Jadi gue memutuskan untuk menjalani keputusan gue. Gue kesal kesal kesal pengen curhat sama orang lain selain kawan tentang masalah gue dengan kawan, maybe bisa bikin kepala gue cerah, tapi gue udah janji buat gak ngomong2 ato gosip2 di belakang sama kawan. Tapi gimana dong? kawan juga gak bisa diajak ngomong soal ini. KAWAN JAHAT KAYAK SET*N, KESEL BANGET GUE. Sebenernya pengen berbicara dan mengungkapkan lebih serius dan gak norak dari ‘kawan jahat kayak set*n’, tapi takut dibaca kawan, nanti kawan marah dan emosi karena gue berkata kasar. KESEL KESEL KESEL.

Gue kayak nyimpen bom dalam kantong baju, bisul di ketiak, menggarami luka, duri dalam daging, apapun itu. Gue pengen sempurna tapi gak bisa. Gue pengen berubah tapi gak bisa. Semua yang dilakukan salah. Ngomong ini salah. ITu salah. KESEL KESEL. Tapi mau pergipun ga bisa. Gue pengen dengan tenang bercerita tapi gak bisa. Akhirnya gue nangis tadi malam dan sekarang, mata gue perih seharian. Gara-gara semua masalah ini gue gak konsen ngerjain tugas praktikum. Akhirnya gue putuskan untuk ngeblog aja dan bercerita sepuas hati, toh kawan gak menyebut bahwa gue gak boleh cerita sama blog. TAPI guepun gak bisa bercerita dengan tenang karena di sebelah gue ada pasangan lagi berantem. Ceweknya minta dukungan dari gue untuk meyakinkan cowoknya bahwasanya ceweknya gak berbuat yang aneh2. Ya ampun pasangan, tidak bisakah pasangan mengerti suasana hati gue? jangan sampe monitor kompu gue melayang ke salah satu dari lo berdua, pasangan. Jangan cuma berusaha saling mengerti satu sama lain dong, pasangan. Cobalah ngerti orang-orang di sekitar kalian juga. GUE KESEL. KESEL KESEL KESEL. MARAH RASANYA. KESEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEL…..

Ternyata setelah bercerita jadi jauh lebih lega. HUAAAAA KAWAAAANNNN MAAAF DOOONGGG emoticon emoticon emoticon

Sehari-hariFebruary 14, 2007 4:53 am

Barusan, gue lagi iseng2 ngesearch dengan keyword ‘mandhut’ di google,

TERNYATA WEB GUE JAMAN SMP MASIH ADA…. emoticonemoticonemoticonemoticonemoticonemoticon

Ya ampyun seneng banget, soalnya dulu gue kira udah di-delete sama host-nya, ternyata masih ada, tapi alamatnya diubah gitu.

Yah pokoknya coba liat dulu dhe disini

Ya ampuuun, setelah ngeliat jadi ketawa2 sendiri dan jijik. ABis bahasanya enggak banget, maluuuu….emoticon emoticon emoticon mana bikinnya niat bener lagi.

BUat yang bertanya2 sebenernya itu web tentang apa, itu web isinya review2 kartun jepang yang dulu gue suka, kan jaman itu gue masih jadi Otaku tuh (penggemar anime manga jepang) nah yaudah gitu deh. Kalo mau liat seberapa cupunya gue waktu itu, liat aja di section My Life ada foto gue jaman smp juga.

Terus kalo mau liat web2 animasi lain yang gue buat saat itu juga (cuma beberapa sih) liat aja di section Anime

enjoy it.

   

FriendsFebruary 12, 2007 4:25 am

Alkisah, di suatu tempat yang jauh….sekali, hiduplah 3 orang sahabat, Ain, Umiri dan Edel . Mereka sangat dekat satu sama lain. Mereka berbagi kisah. Mereka tertawa bersama. Mereka menangis bersama. Mereka merasa nyaman dan hangat saat bersama satu sama lain dan merasa takut akan terpisah suatu hari nanti. Kemanapun mereka pergi, mereka selalu bersama.

Dunia terasa begitu hangat dan indah. Sampai suatu hari, salah seorang di antara mereka yang bernama Ain, tertarik untuk memakan buah dari sebuah pohon yang terletak di sebuah kebun yang indah di belakang pondok mereka. Buah dari pohon itu begitu merah, bulat dan terlihat lezat. Hanya pohon itulah satu-satunya yang berbuah seperti itu di sana. Buah dari pohon itu bernama buah Omoh, salah satu jenis buah yang dilarang oleh tetua di desa mereka. Kata orang-orang yang lebih tua, buah itu hanya mendatangkan petaka. Orang yang memakannya tidak akan selamat dari kesialan dan marabahaya.

Umiri dan Edel mencegah Ain dengan sekuat tenaga mereka. Mereka tidak ingin Ain terkena malapetaka. Ain begitu tergiur akan buahnya yang begitu merah dan lezat.  Berkali-kali mereka memergoki Ain mendekati pohon itu, maka Umiri dan Edel terpaksa menarik Ain dengan paksa, bahkan pernah mengurung Ain di dalam pondok mereka. Sampai suatu hari, tanpa sepengetahuan Umiri dan Edel, Ain memakan buah Omoh tersebut.

Umiri dan Edel begitu marah dan terkejut dibuatnya. Ain menjadi tergila-gila akan buah Omoh, tidak ada hari tanpa memakan buah tersebut. Umiri dan Edelpun menjadi sedih, karena lambat laun Ain semakin menjauh dari mereka, Ain lebih suka menghabiskan waktunya di bawah keteduhan pohon tersebut, sambil memakan buahnya yang tak kunjung habis dan memabukkan. Ainpun semakin menjadi orang yang berbeda, kian hari Ain kian tak sadar, dimabukkan oleh kenikmatan dan kemanisan buah Omoh. Ain kehilangan pekerjaannya, keluarganya, kekasih dan akal sehatnya.

Ain kehilangan semuanya.

Umiri dan Edel begitu bingung. Mereka tidak tahu harus berbuat apa-apa lagi terhadap Ain. Mereka iba dan kasihan, tetapi sebanyak apapun Umiri dan Edel mengingatkan dan berbicara pada Ain, Ain selalu mengelak dan berkata hanya buah Omoh-lah yang bisa membuatnya bahagia, dan sebagai sahabat seharusnya mereka mengerti hal itu serta mendukungnya. Ain tidak mau mengerti bahwa buah Omoh hanya memberikan kenikmatan palsu dan telah menghancurkan seluruh kehidupannya.

Akhirnya, Umiri dan Edelpun pasrah, mereka memutuskan untuk tetap menemani Ain. Meskipun seluruh penduduk desa mencemooh mereka bertiga karena salah satu dari mereka telah memakan buah Omoh tersebut, Umiri dan Edel memutuskan untuk tidak peduli dan tetap bertahan. Mereka percaya, kelak Ain akan lepas dari belenggu buah Omoh dan kembali menjadi Ain yang dulu.

Tapi malapetaka buah Omoh tak berhenti sampai di situ.

Umiri begitu khawatir akan keadaan Ain, sampai tanpa sadar, kehidupannyapun menjadi hancur. Selama ini dia merasa kuat karena selalu ada dukungan dari 2 orang sahabat dekatnya. Tapi sejak Ain memakan buah Omoh tersebut, persahabatan mereka tidaklah seindah yang dulu. Umiri begitu terpuruk, tapi Umiri tetap berusaha untuk tabah dan kuat.

Sampai suatu hari, Umiri memergoki Edel ikut memakan buah Omoh tersebut, bersama Ain. Umiri marah bukan kepalang. Bukankah Edel sudah sepakat untuk membantu Ain sampai akhir? kenapa malah ikut memakan buah keparat itu. Edel membela diri dengan berkata, dia hanya ingin membuat Ain mengerti bahwa sebagai sahabat, Edel tak pernah meninggalkannya. Umiri tetap tidak habis pikir, bagaimana Edel dapat menolong Ain yang sudah terikat dengan buah Omoh, bila Edelpun nantinya akan ikut tergila-gila akan buah tersebut?. Tapi Edel tetap berkata, dia bisa mengendalikan dirinya.

Tapi janji Edel hanyalah janji. Edelpun ikut terperosok.

Umiri menjadi betul-betul benci dan dendam. Buah Omoh telah mengambil seluruh kehidupannya. Kedua sahabatnya. Kebahagiaannya. Setiap hari Umiri menangis. Edel dan Ain semakin menjauh darinya, kata-kata Umiri sudah tak pernah digubris lagi. Umiripun memutuskan untuk melakukan sesuatu.

Maka, Umiripun meminta petunjuk kepada tetua desa, adakah sesuatu yang bisa dilakukannya untuk memusnahkan kutukan buah Omoh tersebut. Para tetua menggeleng-geleng sedih dan berkata, tidak ada orang lain yang bisa menghilangkan kutukan buah Omoh kecuali orang yang memakan buah itu sendiri. Umiri merasa putus asa, dia tidak bisa memunggu Edel dan Ain tersadar dengan sendirinya, bisa- bisa buah Omoh sudah keburu membunuh mereka dengan racun dan janji-janji manisnya. Maka tetuapun berkata, ada jalan lain, tapi jalan ini begitu menyedihkan dan beresiko. Umiri harus membakar pohon Omoh tersebut dan malapetaka berkepanjangan tersebut akan musnah, maka Ain dan Edel akan tersadar dari mimpi-mimpinya. Tapi, buah Omoh adalah buah dari pohon setan dengan seluruh dendamnya, ada harga yang harus dibayar untuk itu, sesuatu yang tak pernah bisa mereka bayangkan.

Umiri memutuskan untuk membakar pohon itu. Saat Ain dan Edel tertidur, Umiri menyirami bawah pohon itu dengan minyak dan menyulutnya dengan api. Ain dan Edel begitu marah, mereka bersikeras untuk memadamkan api dari pohon tercinta mereka, mereka mengambil air dari sungai di dekat mereka dan menyiramnya ke arah sumber api.

Umiri mencegah mereka dan meneriaki mereka untuk mundur dan berhenti, tapi mereka tak mau mendengarnya. Akhirnya Umiripun mengancam mereka dengan pisau yang dibawanya. Jika mereka bersikeras melakukan hal itu, maka Umiri terpaksa membunuh mereka. Umiri menjadi gila.

Ain dan  Edel menjadi takut dan berusaha menenangkan Umiri. Mereka mengatakan betapa mereka meminta Umiri untuk mengerti dan menerima bahwa buah Omoh telah menjadi bagian terpenting dari hidup mereka. Umiri menjadi kalap dan tanpa sengaja melukai mata kanan Edel dengan pisau. Melihat itu, Ain yang begitu marah karena Umiri telah melukai Edel, memukul kepala Umiri dengan batu berkali-kali, hingga Umiri tak sadarkan diri. Sementara Edel yang masih kesakitan berusaha mencegah Ain untuk membunuh Umiri, tanpa sengaja Edel mendorong Ain ke arah pohon buah Omoh yang hampir terbakar habis. Semuanya menjadi kacau.

Keesokan harinya, penduduk desa mendatangi pondok 3 sahabat tersebut. Mereka menemukan sisa-sisa pohon Omoh yang sudah terbakar habis, serta 3 orang tersebut dalam keadaan yang sangat mengenaskan, tapi masih bisa diselamatkan. Para penduduk desa membawa 3 orang tersebut ke rumah tetua desa mereka dan mengobatinya.

 

Edel kehilangan mata kanannya akibat pisau Umiri. Umiri kehilangan kemampuan berpikirnya akibat pukulan Ain. Dan Ain menderita luka bakar parah pada sebelah muka kirinya akibat didorong oleh Edel. Buah Omoh telah meminta harga yang mahal untuk kepergiannya.

 

Penduduk desa begitu iba pada mereka, namun mereka tak bisa berbuat apa-apa. Sementara itu, Umiri, Edel dan Ain-pun sudah tak dapat berkomunikasi dengan baik lagi. Mereka saling menyalahkan dan dendam akan hal ini, mereka marah, tapi mereka tahu mereka tak bisa menyalahkan siapa-siapa. Maka, mereka bertiga memutuskan untuk berpisah dan menempuh jalan hidup masing-masing.

Bertahun-tahun kemudian.

Umiri dan Edel bertemu kembali di suatu rumah makan dan akhirnya mereka menjalin persahabatan kembali. Mereka memutuskan untuk saling bantu untuk menutupi cacat yang mereka derita.

Sementara saat itu, Ain sedang duduk termenung memandang pohon di hadapannya, dia berharap pohon itu cepat menjadi besar dan berbuah. Diam-diam dia bersyukur dia sempat menyimpan benih dari pohon yang terbakar dulu itu.

The End.

 

 

……untuk Edel dan Ain, kita telah membuat kesalahan yang berat, luka kita bertiga tak akan pernah bisa hilang dan akan terus membekas, hanya waktulah yang perlahan-lahan bisa menyembuhkannya.Tapi percayalah, kalian berdua pernah dan akan terus berada di hati ini, tetap sebagai Ain dan Edel yang dulu, sebelum buah Omoh masuk ke kehidupan kita bertiga. Dari lubuk hati yang terdalam, selalu mendoakan kebahagiaan kalian berdua, selama-lamanya.

Umiri.

 

Tentang Manda, Thoughts, Sehari-hariFebruary 8, 2007 7:33 am

 

Yiiippppppiiieeeee..!!!! kya kyu udah lama banget gue gak posting.. kangen kangen, cup cup… ah senangnya posting, senangnya senangnya emoticonemoticon (mulai aneh)

mumpung lagi nganggur nungguin kul jam 3, ada baiknya gue menyampah2 disini emoticon

 

Nah, marilah kita berbicara tentang Manda, ahahahaha (yang langsung skip postingan ini gue kutuk keracunan jengkol). Gue mau ngomong tentang…. interest gue yang aneh. Aneh Aneh.

Sebenernya ini mah bagian dari keisengan gue kali ya, tapi gue seneng meneliti dan mendalami sifat satu individu, gue lebih bisa menghafal secara alamiah segala hal yang berhub. dengan orang2 di sekitar gue, ketimbang segala hal yang berhub. dengan gue sendiri (contohnya, jadwal kul, tanggal2 penting gue sendiri, aneh ya, kayaknya lebih tepat disebut anomali). Gue menikmatinya kok, mencoba ngertiin dan nyenengin orang lain itu menyenangkan lho, rasanya damai dan tenang, apalagi kalo dingertiin dan disenengin balik (ngarep lo, man).

Gue menyadari itu interest yang aneh di jaman manusia yang serba individualis ini (tanpa bermaksud menganggap diri sendiri baik hati-tidak sombong-tidak egois). Gue sama dengan manusia yang lain, sama2 egois, sama2 gendut (iya, mereka semua juga gendut kok man, ahaha menipu diri), sama2 menipu diri sendiri dan orang lain untuk menyelesaikan masalah (lebih tepatnya, sama2 licik), sama kotornya, sama bersihnya. Sama. Hanya saja, gue memiliki sebuah interest yang aneh. Yang jarang banget gue temukan di sesama manusia yang lain.

Kenapa gue keukeuh menyebut ini sebagai anomali? bukan kelebihan ato kekurangan? karena, dalam prakteknya, ada lebihnya dan kurangnya buat gue.

Kadang interest kayak gini gak sepenuhnya bikin seneng. Kadang jadi senjata makan tuan buat gue, karena gue udah begitu jauhnya terlibat dengan satu individu (jangan mikir aneh2) sampe gue terjebak dan gak bisa keluar lagi. Gue tau apa yang dia rasa dan gue gak tega, jadi terpaksa mesti ngorbanin ini dan itu, pada akhirnya gue yang rugi dan dia seneng2 aja. Gak bisa nyalahin siapa2, it’s all my fault, semua udah terjadi. Tapi pada waktu itulah gue tau kalo ini anomali, anomali, karena lo begitu dan semua orang tidak, karena lo peduli dan semua orang tidak.

Pengalaman pahit membuat gue belajar, bahwa ada baiknya hati2 dan pilih2 sama objek yang bakal lo teliti, dalami dan lo sayang, sebagai teman, sahabat, pacar, apapun itu. Jangan sampai orang itu mempengaruhi lo dan memanfaatkan lo terang2an. Lo boleh menyayangi dan peduli, tapi carilah orang yang bisa membalas itu semua dengan baik, gak perlu lebih. Bukan meminta pamrih, bukan egois, tapi sayangilah diri lo sendiri sebelum lo menyayangi orang lain.

Setelah itu, gue pun merugi, karena gue lebih kenal orang lain ketimbang diri gue sendiri. Gue gaktau gue mau apa, gue gaktau gue lebih suka makan keju ato coklat (selama ini gue mau makan apa aja, terserah temen gue, sekalian klarifikasi, selama ini gue bukan rakus, tapi bermaksud menyenangkan sekitar, AHAHAHA), gue gaktau gue mau nonton horor ato drama (terserah temen gue), gue memilih tempat makan yang temen gue suka, gue memilih film yang temen gue suka, gue memilih kue selain dari yang temen gue suka, supaya temen gue bisa makan kue yang dia suka. orang yang paling gak gue kenal adalah diri gue sendiri. Oh iya jelas merugi, karena semua temen gue berkembang dan gue tidak, gue gaktau gue suka apa, gimana gue mau ngembangin potensi gue?

Butuh waktu lama untuk sadar hal itu, dan akhirnya ketika sadar, butuh waktu lama untuk tau siapa diri gue sendiri. Untuk tahu gue suka penggila jeruk kelas kakap, untuk tahu gue gasuka dianggap remeh, untuk tahu gue punya gengsi lumayan gede, untuk tahu gue suka makan kue lapis dengan cara diambil perlapisnya, (daritadi banyak tentang makanan yaaa) dan ternyata, gue barutau kalo mengenal diri sendiri tidak kalah menyenangkannya, malah enak, lo tau dengan tepat apa yang membuat lo bahagia (aneh, semua punya naluri itu dari sejak lahir gitu man).

Dan sekarang, gue merasa tambah menyenangkan karena sekarang lo mempunyai sesuatu untuk dibagi dengan orang lain. Karena sekarang lo bisa memberitahu apa yang lo inginkan dan mendengar apa yang mereka inginkan. Dan kategori penelitian gue terhadap orang lainpun bertambah, salah satunya adalah ’sayang ma gue’ dengan ‘ga sayang ma gue’. Hahahahahaha. Oh ini membuat dunia jadi lebih menarik tentunya. Jelasnya. Pastinya. Lala lala lala.

So, sampe sekarangpun gue masih memiliki interest yang sama, mendalami sifat dan perasaan orang lain, tapi dengan bangga gue mengatakan, gue udah lumayan bisa mengontrolnya. Dan gue membatasi diri dengan, kenali diri lo sebelum lo mengenal orang lain. ITU PENTING BANGET.

Hehe, cuma berbagi pengalaman in case ada yang mempunyai interest yang sama dengan gue.

Iseng banget ya gue.